WAWANCARA - Jacksen F Tiago (Bagian 2): Pemain Naturalisasi Harus Dicontoh


EKSKLUSIF   BIMA SAID   

Setelah bertutur banyak hal tentang timnas, Arab Saudi hingga kiprah pemain Mutiara Hitam di bagian pertama wawancara, pada bagian ini Jacksen lebih banyak menyoroti soal pemain naturalisasi termasuk soal gagalnya Stefano Lilipaly memperkuat Merah-Putih.

Jacksen mengungkapkan sikap profesional pemain naturalisasi bisa dijadikan contoh bagi pemain lainnya. Bagi Jacksen sebuah kerugian bagi sepakbola Indonesia andai hanya memanfaatkkan kemampuan pemain naturalisasi di tengah lapangan saja tanpa menyerap hal-hal positif lainnya.

Kita simak wawancara eksklusif lanjutan pemimpin redaksi GOAL.com Indonesia Bima Said bersama pelatih Jacksen F Tiago.

Tentang pemain-pemain muda Persipura dan naturalisasi/keturunan di timnas:

Menurut saya, sangat banyak sekali pemain-pemain muda Indonesia yang dipastikan memiliki masa depan cerah. Di timnas sudah ada Andik [Vermansah], [Yohanes Ferinando] Pahabol, Taufiq, Zulham [Zamrun]. Kalau di Persipura ada Pahabol tentunya, Lukas Mandowen. Sebelumnya ketika Nil Maizar menangani timnas, ada gelandang PSM yang sangat saya suka, yaitu Rasyid Bakri. Kecil, tapi sangat bagus sekali dan saya suka.


Kehadiran pemain-pemain naturalisasi dan keturunan sangat membantu di timnas. Kalau secara pribadi, seharusnya mereka lebih sering dicontoh sama pemain-pemain lokal. Profesionalisme mereka, pengetahuan mereka tentang bola yang lebih profesional lagi, itulah yang harus dimanfaatkan semua pemain kita. Kecil, bahkan rugi apabila mereka hanya memanfaatkan yang ada di lapangan saja.

Seharusnya mereka jadi panutan dan lebih membuka wawasan kepada pemain-pemain lainnya di Indonesia. Kita lihat kepribadian dari seorang Sergio [van Dijk], Raphael Maitimo, mereka dalam segala hal sangat fokus, profesional, memerhatikan dengan seksama apa yang disampaikan pelatih, hingga pola makan mereka, saya rasa hal-hal itu perlu dicontoh.


Jangan hanya mencontoh mereka di lapangan, karena masih ada hal-hal lainnya yang lebih besar yang bisa dipelajari dari mereka, banyak yang lebih berharga daripada penampilan mereka di lapangan.

Tentang kasus Stefano Lilipaly:

Saya akan menyampaikan apa yang saya tahu ya? Saat tiba di Senayan, terus saya naik ke atas sama pak Rahmad Darmawan, lalu diskusi dan mengamati hasil latihan mereka. Pak Rahmad bilang itu si Stefano sangat bagus sekali. Saya juga mengatakan hal yang sama. Terus ada Demis [Djamaoeddin] naik ke atas, dia bilang, "Pak Rahmad, begini. Ada informasi bahwa beberapa pemain harus menunggu urusan administrasi dilengkapi." Saat itu termasuk Sergio. Jadi ada Maitimo, Sergio, dan Stefano.

Terus siang, kita bersama staf pelatih duduk di restoran hotel ini dan diskusi panjang dari jam 1 sampai jam 3, karena pendapat beda-beda. Semua staf pelatih ada kecuali Matias [Ibo]. Akhirnya kita mengambil keputusan, bahwa kita ingin memasukkan Maitimo, Sergio dan Stefano. Yeyen Tumena telpon, informasi yang kita dapat hanya Sergio dan Maitimo yang bisa main. Kita yang memutuskan 28 pemain tidak bisa memasukkan Stefano.


Hingga tadi malam, saat kita menonton rekaman pertandingan Arab Saudi di sini, pak Rahmad masih menanyakan kepada pak Harbiansyah [Hanafiah] dan Yeyen bagaimana dengan [status] Lilipaly. Kabar terakhirnya, belum bisa.

Saya tidak tahu apa persisnya masalah administrasi tersebut, karena hal itu bukan wewenang saya. Katanya, masalah akte orang tuanya yang membuktikan bahwa dia ada garis keturunan Indonesia yang dibutuhkan.

Tadi pagi, pak [Habil] Marati bilang bahwa semua perlengkapan dia sudah siap. Dia keluarkan surat dari KNVB ke PSSI. Surat dari KNVB itu setahu saya salah satu syarat untuk administrasi. Baru setelah semua surat administrasi itu lengkap, harus dikirim ke FIFA. Yang saya tahu, administrasi untuk Piala AFF beda dengan kualifikasi Piala Asia.


Saya tidak tahu apakah masih diusahakan selesai urusan administrasinya. Tapi secara pribadi, kalau saya lihat apa yang terjadi selama ini, peluangnya sangat kecil, karena yang 28 pemain itu berlatih terus.

Apakah waktu itu tidak dipertimbangkan agar Stefano ikut berlatih terus sambil menunggu urusan administrasi selesai?

Mungkin itu seharusnya jadi pertimbangan. Tapi pada waktu itu kita berpikir untuk menentukan yang tersedia sekarang, mengingat waktunya terbatas. Seharusnya dari awal sudah dipertimbangkan, tapi tidak dipikirkan sejauh itu karena dianggap yang 28 itu sudah lebih dari cukup, meskipun dari penilaian kita, dari segi teknis, dia masuk. Tapi tidak ada unsur yang lain.

Pertimbangan apa Sergio dan Maitimo sudah masuk, tapi Lilipaly tidak masuk? Tidak ada. Salah apa anak itu sampai kita korbankan dia? Anak itu tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan Indonesia selama ini. Saya sudah jelaskan juga ke Sergio apa yang saya jelaskan ke Bima, bahwa tidak ada unsur apapun.

Semua ini jadi pengalaman bagi saya. Sejak awal datang ke timnas, saya sudah mengatakan, saya ingin mendapat semua pengalaman semaksimal mungkin.

GOAL.com hadir via ponsel di alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi GOAL.com secara langsung untuk OS ponsel Anda:


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Yahoo Indonesia di Facebook