Roy Suryo: Saya Suka Jika Ada yang Meragukan

Oleh: Marmi Panti Hidayah

Jumat (11/1/2013), KRMT Roy Suryo sudah melakukan uji kepatutan dan kelayakan untuk menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga di Istana Negara. Anggota Komisi X DPR-RI yang membidangi olahraga ini mengaku sudah diizinkan menyampaikan ke media terkait dengan penunjukkannya sebagai pengganti Andi Alfian Mallarangeng yang menjadi tersangka kasus korupsi proyek kompleks olahraga Hambalang.

Saat dihubungi Kamis (10/1) menjelang tengah malam, pria yang dikenal juga sebagai kolektor Mercedes-Benz kuno itu, masih menghindar saat diberikan ucapan selamat. “Eit, tunggu dulu. Kalau selamat malam, saya terima. Kalau selamat yang lain, tunggu pengumumannya,” ujarnya sambil tertawa.

Roy yang sudah dihubungi Istana sejak dua minggu lalu itu akhirnya  dipastikan menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga atau Menpora oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat (11/1).

Bagaimana pandangan pria bernama lengkap Roy Suryo Notodiprojo tentang pengangkatannya serta sejumlah masalah di dunia olahraga Indonesia, berikut ini wawancaranya:


Bagaimana ceritanya awal diminta menjadi menteri?


Jadi begini, awalnya saya memang dipanggil, tapi belum oleh Pak SBY sendiri. Saat itu, saya juga tidak tahu siapa lagi yang dipanggil. Kan mungkin saja ada orang lain yang juga dipanggil.

Anda pernah terbersit misalnya, bakal ditunjuk menggantikan Andi Mallarangeng?


Terus terang tidak. Karena saya sendiri merasa kompetensi saya sebenarnya bukan di situ. Tetapi bukan berarti orang yang tak punya kompetensi tidak bisa belajar di situ (dunia olahraga). Saya tetap akan berjuang sebaik-baiknya, kalaupun ada kemungkinan ke sana (jadi Menpora). Sekarang kan kita kan belum ada pilihan, masih menunggu sampai kabar itu pasti dulu.

Di media sosial banyak orang meragukan kapasitas Anda. Anda seorang pengamat telematika, mengapa jadi Menpora. Apa komentar Anda?


Biarkan sajalah. Saya tidak akan menjawab.

Tapi sejauh ini seberapa besar perhatian Anda pada dunia olahraga?  


Lho, memang seperti tadi saya bilang. Saya ini bukan seorang olahragawan. Kalau saya mencintai dunia olahraga dan menyaksikan tayangan olahraga, itu pasti.

Biarpun ada yang meragukan kapasitas Anda?


Saya justru sangat suka bila ada yang meragukan, karena justru ada low expectation. Kalau orang diekspektasikan sangat rendah,  untuk bisa menyamakan diri sesuai standar atau melebihi standar malah ringan. Sebaliknya, high expectation atau ekspektasi tinggi justru membuat susah.

Yang jelas, menjadi Menpora itu tidak mudah. Menurut saya berat banget masalahnya. Permasalahan eksternal banyak, belum lagi persoalan internal. Masalah internal bukan hanya soal administrasi proyek Hambalang, Wisma Atlet. Tetapi juga problem internal lainnya, seperti bagaimana menyatukan organisasi, masalah PSSI, di kepemudaan juga ada. Belum lagi  bagaimana menyiapkan atlet terbaik untuk kejuaraan di SEA Games di Myanmar. Jadi banyak yang harus dilakukan.

Artinya Anda sudah memikirkan pekerjaan apa saja yang bakal dihadapi sebagai Menpora?


Oh, itu harus! Saya yakin setiap orang yang akan mendapatkan sebuah tugas, salah  jika dia tidak belajar.  Karena saya tahu tugas ini berat, maka mau belajar. Sekali lagi, saya sangat menghargai, saya sangat tahu diri, dan saya melihat banyak orang lebih berkompetensi. Kalaupun ada yang ragu, saya sangat menghargai dan berterima kasih. Kalau saya harus bicara sekarang, memang belum waktunya.

Tapi apa pandangan Anda soal adanya dualisme kompetisi sepak bola di Indonesia?


Kalau pandangan saya selaku pecinta Merah Putih dan Tim Nasional Indonesia, Menpora harus bisa menyelesaikan masalah tersebut. Karena waktunya (tenggat dari FIFA) kan tidak banyak, hanya tiga bulan dan bisa di-bend (bekukan).

Kalau di-bend, kemungkinannya hanya ada dua macam; masalah bisa semakin keruh atau kita bisa seperti Brunei. Kita mulai lagi dari nol, membuka lembaran baru dan kemungkinan akan banyak hal menarik. Persoalannya kalau kemungkinannya jadi tambah runyam, makin repot. 
Saya percaya ini memang bukan tugas ringan. Itu tugas sangat berat, apalagi kita lihat setiap hari konflik kepentingannya sangat luar biasa.

Apa keputusan yang perlu diambil dalam menghadapi dualisme liga sepak bola?


Kalau kita kan cinta damai, dijadikan satu kan malah cepat selesai (tertawa).

Menurut Anda pribadi, mana yang pantas jadi liga profesional Indonesia, Liga Super atau Liga Prima?


Kalau kedua-duanya menjadi satu susah. Bila bersinergi untuk menjadi satu ya bagus. Tapi Insya Allah, pasti akan ada.

Artinya bisa jadi dua liga ini menyatu?


Menyatu itu bukan selalu berarti kedua-duanya jadi satu. Tapi justru bisa muncul yang sama sekali baru.

Artinya bisa ada liga baru?


Ya, bisa begitu.

Lalu bagaimana harus menyikapi kasus Hambalang?


Kalau itu kan urusan internal yang bukan urusan olahraga. Saya berharap, sebagai Menpora yang baru tidak dipusingkan masalah tersebut, tapi lebih fokus pada masalah olahraga. Biarkan masalah itu diserahkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.

Apakah proyek Hambalang itu perlu diteruskan?


Begini, menurut saya semua tergantung dari proses hukum. Saya sebagai bagian dari masyarakat dan masyarakat pun pasti berharap, uang rakyat yang sudah diinvestasikan ke proyek Hambalang tidak sia-sia.  Tetapi semua kan harus berjalan sesuai dengan perhitungan dan kelayakannya. Kalau dikatakan tidak patut kan ada sesuatu.

Kalau sudah ada keputusan hukum, maka selesailah semua urusan. Jadi kita masih menunggu kepastian hukum kasus tersebut. Kita masih menunggu hasil persidangan yang masih terus berlangsung. Dan jangan sampai ada lagi keterlibatan jajaran di Kementerian Pemuda dan Olahraga  dalam masalah tersebut.

Lalu soal persiapan SEA Games  2013 di Myanmar, Anda tadi bilang tugas berat Menpora baru?


Oh ya, karena kita mengemban sebagai juara bertahan. Di SEA Games kemarin kita masuk juara bertahan. Dan akhir tahun nanti, kalau nggak salah kita akan mengirim kontingen ke Myanmar. Di Myanmar kita akan ada peluang. Semua tidak akan berjalan baik kalau tidak  lancar. Artinya perlu persiapan, support dan peningkatan pembinaan. Jadi bagaimana kontingen Indonesia bisa membawa nama Indonesia semaksimal mungkin dalam kondisi sekarang ini.

Target SEA Games?


Untuk target kita tentu punya target minimal dan maksimal. Target minimalnya kita harus dapatkan gelar juara bertahan.

Cabang olahraga mana yang menurut Anda bisa jadi andalan emas di SEA Games?


Untuk SEA Games, kita punya kebanggaan di beberapa cabang olahraga seperti panahan, dayung, bulutangkis dan sebagainya. Yang penting di sini adalah meningkatkan pembinaan terhadap atlet sehingga siap bertanding, dan sangat tergantung bagaimana pengaturan antara KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) dan KOI (Komite Olimpiade Indonesia). Bagaimana KONI-KOI saling bekerja sama untuk meningkatkan prestasi atlet dan membawa nama baik Indonesia.



BACA JUGA:


Kontroversi-kontroversi Roy Suryo

Kemenpora yang Tidak Dirasakan Tugas dan Fungsinya

Kekurangan Basket Indonesia

Rencana Besar PB PBSI

Tips Berolahraga dari Atlet dan Pelatih Profesional

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.