Kontroversi Penciutan Dana Olahraga

Ditulis oleh: Kusuma

Kabar kurang nyaman datang dari dunia olahraga nasional. Ada pemangkasan dana pembinaan dan pelatihan yang biasanya diberikan kepada pengurus besar cabang olahraga.

Kabar ini muncul lewat surat edaran Surat edaran Kemenpora nomor 0014/SETKEMENPORA/D.IV/1/2013. Berdasarkan surat tanggal 8 Januari itu yang ditandatangani Deputi Bidang Peningkatan Prestasi, Djoko Pekik, Kemenpora menolak sejumlah pengajuan dana oleh pengurus besar atau pengurus pusat di luar kegiatan pelatnas.

Tentu bukan menghentikan pengucuran seluruh dana kepada masing-masing organisasi resmi olahraga tersebut, melainkan mengurangi. Kali ini, Kemenpora hanya mengeluarkan dana untuk dikonsentrasikan kepada lima ajang: SEA Games dan Para Games di Myanmar, Islamic Solidarity Games di Riau, Asian Indoor Games di Incheon Korsel, serta Asian Youth Games di Nanjing Tiongkok.

“Itu yang harus diluruskan. Jadi itu bukan menghentikan, namun mengurangi. Itu pun sekarang masih kita upayakan,” jelas Djoko mengonfirmasi. Ditambahkan, pada tahun ini  ada sekitar 24 program yang terbaik atau bisa diakses oleh para pengurus pusat cabang olahraga.

Lewat surat edaran itu pula, pengajuan dana terkait sejumlah tujuan terpaksa harus berhenti. Misalnya untuk administrasi, manajemen organisasi, rapat kerja, kemitraan dan iuran internasional, pembinaan olahraga, serta beberapa kejuaraan.

“Saat ini kami masih mengupayakan agar alokasi yang rencananya ditunda untuk tetap dialokasikan lagi dengan cara relokasi beberapa program,” tutur Djoko.

Keputusan pemerintah ini mendapatkan respons negatif dari para pengurus olahraga. Seperti disampaikan Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PP Pertina). Menurut Wakil Sekretaris Pertina, Martinez dos Santos, hal itu justru memberatkan pihaknya dalam mengembangkan pembinaan dan prestasi para atlet.

"Buat kami tentu hal itu sangat berat. Sulit bagi kami jika di luar (lima) even tersebut kami harus cari sendiri,” ujarnya.

Padahal, Martinez menegaskan, pada tahun ini organisasinya sudah memiliki banyak program. Tanpa dukungan dana dari pemerintah, dia mengaku akan kesulitan. 

Tragisnya, sampai sekarang belum ada solusi bisa diambil oleh organisasi olahraga. “Kami sekarang fokus di Kejuaraan Asia Youth, tanpa bantuan pemerintah tentu akan sangat berat,” paparnya.

Menanggapi polemik ini, pengamat olahraga, Anton Sanjoyo berpandangan, sebenarnya keputusan Kemenpora itu hal yang wajar dan dapat dimaklumi. Sebab, dana yang dimiliki oleh kantor kementerian tersebut dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sangat terbatas.


Kali ini, dana Kemenpora dari APBN hanya Rp1,9 triliun. Untuk olah raga prestasi hanya mendapat jatah Rp800 miliar. Dana itu dibagikan untuk 30 cabang olah raga. “Jadi saya pikir itu merupakan bentuk rasionalisasi," ujar wartawan senior di bidang olahraga ini.

Rasionalisasi ini, lanjutnya, dilihat dari cabang mana saja yang memberikan peluang mendapatkan emas. Sebut saja tinju, panahan dan atletik. Intinya, tegas Anton, “Kemenpora hanya melakukan rasionalisasi."

Mengapa alokasi dananya cenderung minim? Kata Anton, memang sumber masalah ada pada pembagian APBN. “Dalam menyusunnya, pemerintah memang tidak punya niatan untuk memajukan prestasi olahraga kita,” tandasnya.


Pemain sepak bola paling flamboyan saat ini, Cristiano Ronaldo. (Getty Images/Alex Livesey)
1 / 30
Getty Images
Jum, 9 Nov 2012 19:00 WIB
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.