SPESIAL: Lima Comeback Gemilang Sepanjang Sejarah Liga Champions


OLEH   DEDE SUGITA


Meladeni tantangan Il Diavoli di Camp Nou pada partai kedua putaran 16 besar Liga Champions, Rabu (13/3) dinihari WIB, anak-anak Catalan seolah ingin mengingatkan kenapa mereka disebut-sebut sebagai salah satu klub terbaik, jika bukan yang terbaik, di dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Penampilan melempem di San Siro dibayar lunas dengan performa memikat di halaman rumah sendiri, yang berujung gelontoran empat gol tanpa gol tanpa balas ke gawang Christian Abbiati.

"Comeback historis". Demikian tajuk yang digunakan sebagian besar media untuk menggambarkan keberhasilan Los Blaugrana memutar situasi atas Milan.

Tak salah, karena sepanjang pergelaran Liga Champions sejak 1992/93, alias setelah berganti format dan nama dari sebelumnya European Cup, ini baru kali kelima sebuah klub mampu memenangi sebuah fase gugur setelah kalah dengan selisih dua gol atau lebih di leg pertama, dan kali kedua buat Barcelona sendiri.

Sebelum laga melawan Milan, Barcelona telah mewujudkan comeback hebat di Liga Champions lebih dari sedekade silam, tepatnya pada musim 1999/2000 kontra Chelsea. The Blues mengantungi keunggulan nyaman pada first leg di Stamford Bridge setelah trigol dalam rentang delapan menit di babak pertama via kontribusi Gianfranco Zola (30') plus gol ganda Tore Andre Flo (34' dan 38') hanya dapat dibalas sekali oleh Luis Figo selepas turun minum.

Pada duel kedua di Camp Nou, posisi The Blues tampak cukup aman setelah Flo kembali menjebol gawang Barca guna menipiskan kedudukan 2-1 setelah tuan rumah mencetak dua gol lewat  Rivaldo dan Figo. Namun Blaugrana mampu memaksakan laga berlanjut hingga perpanjangan waktu berkat tandukan Dani Garcia tujuh menit sebelum waktu normal habis. Di extra time, gol kedua Rivaldo melalui konversi penalti plus sundulan Patrick Kluivert memastikan skuat Louis van Gaal menang 5-1.

"Kami menampilkan permainan sempurna hari itu," cetus Figo. "Itu malam terbaik dalam hidup saya," timpal Gabri Garcia. Bagaimana pendapat Vialli? "Kami melakukan hal yang tak ingin kami lakukan: bertahan dengan negatif."

Di lain pihak, kegagalan menjaga keunggulan agregat signifikan tadi malam bukan yang pertama buat Milan. Sembilan tahun lampau, Si Merah-Hitam pernah merasakan kegetiran yang lebih besar saat berhadapan dengan Deportivo La Coruna.

Kemenangan telak 4-1 pada laga pertama di kandang sendiri membuat langkah Milan ke semi-final seakan mustahil terhadang, tetapi Super Depor masih menyimpan secuil harapan berkat sebuah gol tandang Walter Pandiani di San Siro, walau mengakui butuh keajaiban untuk mengejar selisih sebesar itu.

"Ini tentu saja tugas yang sangat kompleks, sulit, dan menantang. Tapi dalam sepakbola keajaiban seringkali terjadi, hal-hal yang secara rasional mungkin tak Anda duga," ucap pelatih Javier Irureta kala itu.

Tak dinyana. Keajaiban benar-benar terjadi saat leg kedua mentas di Riazor. Gol-gol Pandiani, Juan Carlos Valeron, serta Alberto Luque mengantar tuan rumah memimpin 3-0 di babak pertama, sebelum pemain pengganti Fran Gonzalez menambah lara Rossoneri seperempat jam jelang bubar.

Setelah musim berakhir, Irureta melakukan perjalanan ziarah ke Santiago de Compostela untuk memenuhi nazarnya saat berdoa demi kelolosan timnya kontra Milan. "Merupakan hal yang pantas untuk pergi ke Santiago setelah kemenangan ini. Saya akan berjalan ke Santiago karena janji adalah janji," tuturnya.

2003/04 sendiri patut dikenang sebagai musim penuh kejutan di Liga Champions. Selain comeback fenomenal Deportivo dan keluarnya FC Porto sebagai jawara -- yang sekaligus melambungkan nama Jose Mourinho, AS Monaco juga menunjukkan perjuangan hebat untuk melewati hadangan Real Madrid.

Di Santiago Bernabeu, Les Rouge et Blanc yang sempat mencuri keunggulan di babak pertama harus menyerah setelah Los Blancos menggelontorkan empat gol lewat Ivan Helguera, Zinedine Zidane, Figo, dan Ronaldo usai istirahat. Gol Fernando Morientes, striker yang dipinjam Monaco dari Madrid, tampak tak lebih dari konsolasi belaka.

Situasi makin sulit buat tim besutan Didier Deschamps ketika harus kebobolan lebih dulu oleh gol Raul Gonzalez pada partai kedua di Stade Louis II. Namun gol penyeimbang Ludovic Giuly di injury time babak pertama merekahkan harapan Monaco, yang akhirnya berbalik menang 3-1 via tandukan Morientes dan gol kedua Giuly pascajeda. Si Merah-Putih lolos berkat keunggulan gol tandang.

"Saya tentunya sangat senang dengan kemenangan Monaco. Tapi saya mempunyai kawan-kawan di Madrid yang pastinya sedang mengalami waktu sulit," komentar Morientes usai laga.

Kekalahan 3-1 di kandang Napoli menandai kiprah pamungkas Andre Villas-Boas bersama Chelsea di pentas Eropa. Hanya sepuluh hari berselang, sang bos muda asal Portugal didepak usai tim takluk 1-0 dari tuan rumah West Bromwich Albion di Liga Primer Inggris.

Tanpa diduga, peralihan tongkat kepelatihan dari tangan AVB ke Roberto Di Matteo, yang diangkat sebagai manajer interim, merupakan berkah terselubung bagi The Pensioners.

Menjamu I Partenopei di Stamford Bridge pada leg II, Chelsea tampil dengan determinasi tinggi dan kontribusi trio pemain senior, Didier Drogba, John Terry, serta penalti Frank Lampard, yang dibalas sekali oleh Gokhan Inler membuat pertarungan kedua tim harus diteruskan ke extra time. Branislav Ivanovic lantas muncul sebagai penentu tiket perempa-final buat Chelsea berkat aksinya membobol gawang Morgan De Sanctis pada menit ke-105.

"Saya pernah mengalami malam-malam hebat tapi mungkin yang satu ini akan masuk ke sejarah klub," ujar Di Matteo setelah pertandingan.

Kemenangan atas Vesuviani pada akhirnya menjadi titik tolak RDM dan The Blues untuk menuju kejayaan yang jauh lebih besar pada akhir musim dan menggondol trofi Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub.

Tumbang tiga kali dalam lima partai, termasuk 2-0 dari AC Milan di San Siro, membuat banyak orang pesimistis akan peluang Barcelona untuk membalikkan situasi kontra Rossoneri di Camp Nou. Apalagi performa mereka pun relatif di bawah standar belakangan ini dan terutama sangat rapuh di sisi pertahanan.

Anggapan bahwa era kejayaan El Barca, yang begitu disegani dalam beberapa tahun terakhir, mulai habis pun mencuat ke permukaan. Namun Lionel Messi cs. membuktikan asumsi tersebut terlalu prematur.

Seperti tak berdaya di rumah lawan, The Catalans menunjukkan superioritas permainan saat meladeni Si Merah-Hitam di depan publik sendiri. Messi, yang sebelumnya tak pernah membobol gawang tim Italia lewat permainan terbuka, sukses melesakkan dua gol di babak pertama untuk melenyapkan keunggulan agregat Milan. Sepuluh menit selepas turun minum, David Villa menambah keunggulan Barca 3-0 yang kemudian dilengkapi gol Jordi Alba pada injury time.



Barcelona Hancurkan AC Milan (klik panah kanan-kiri untuk melihat foto):


Gol kedua Lionel Messi
1 / 30
Getty Images
Rab, 13 Mar 2013 07:00 WIB

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Yahoo Indonesia di Facebook