Seramnya Sepak Bola di Korea Utara

Ditulis oleh: Aditya - Budi Suryadinata

Jong Tae-se, striker tim nasional Korea Utara, menjadi pemain sepak bola keempat asal Negara Komunis itu yang berlaga di liga nasional Korea Selatan. Karirnya di atas rumput hijau memang tak bisa dianggap remeh.

Sejak 2013, pria kelahiran 1984 itu memperkuat klub sepak bola professional Negeri Ginseng, Suwon Samsung Bluewings. Pemain tim nasional Korea Utara ini juga pernah bermain di Eropa, saat memperkuat VfL Bochum, klub asal Jerman, selama 2010-2012.

Jong adalah fenomena bagi Korea Utara. Dia lahir bukan dari kompetisi pertandingan kulit bundar di negaranya, melainkan dari klub-klub luar negeri seperti Jepang maupun Jerman.

Di negerinya sendiri, seluruh kegiatan sepak bola ada di bawah Democratic People's Republic (DPR) Korea Football Association. Berdasarkan catatan Federasi Sepak Bola Asia Timur (EAFF), asosiasi bola Korut yang didirikan pada 1945 itu, sudah menjadi anggota FIFA sejak  1958.

Seluruh pembinaan pemain ada di bawah asosiasi tersebut.  Negara yang menguasai pembinaan dan perkembangan sepak bola di negara tersebut.

Hal ini, senada dengan yang disampaikan Agung Harsya, pengamat sepak bola dari Goal.com. Semua kompetisi termasuk pembinaan usia muda, katanya, diatur oleh negara. Tidak ada yang luput dari sentuhan penguasa negara yang selalu menyatakan siap berperang melawan Amerika Serikat itu.

"Para pemain hanya punya satu tujuan, yaitu membela negaranya," ujar dia.

Agung menegaskan, sepanjang pengetahuannya, dalam bagian dari pembinaan, bukan sekadar paksaan yang berlaku bagi pemain sepak bola, tapi juga tekanan dari pemerintah. "Mungkin karena mereka negara komunis," katanya.

Hal itu bisa dibuktikan pada kasus tragedi Piala Dunia 2010. Setelah pulang di putaran awal, semua anggota tim - termasuk pemain dan pelatih - langsung kena damprat ideologi dari pemerintah. Ini terjadi lantaran banyaknya gol yang tersarang ke gawang Korut. Setelah dikalahkan Brasil 2-1, disusul Portugal melibasnya dengan skor 7-0, kemudian Pantai Gading 3-0.

Presiden FIFA Sepp Blatter pun tak bisa mendiamkan. "Kami langsung kirim surat untuk minta klarifikasi," ujarnya, seperti dikutip The Telegraph.

Informasi yang diperoleh Blatter berasal dari anggota Komite Eksekutif FIFA asal Korea Selatan, Ching Mong-joon, asal Korea Selatan.

Selain itu, Presiden AFC Mohamed Bin Hammam yang sempat berkunjung ke Korut mendengar tekanan dan penyiksaan kepada para pemain yang kalah. "Saya memang mendengar. Tapi terus terang, saya tidak melihat langsung," jelasnya.

Kembalinya hadir sepak bola Korut ini tak lepas dari dua hal: pembinaan di dalam negeri, sekaligus berbagi pengalaman pemain yang berlaga di luar negeri seperti Jong Tae-Se serta Hong Yong-Jo di Liga Rusia.

Sedangkan pembinaan di dalam, setidaknya ada tiga kompetisi yang digelar di negara tersebut. Pertama, Liga DPR Korea sebagai liga utama. Di bawahnya ada Liga DPR K 2, kemudian Liga DPR K Amatir.

Sayangnya, juara kompetisi yang diikuti oleh 11 tim itu tidak bisa ikut Kejuaraan Asia (AFC) lantaran dianggap tidak memenuhi syarat. Namun, hanya bisa sampai taraf AFC President's Cup.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.