Penyakit Para Pelatih Sepak Bola

Oleh: Aditya

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh UCLA (University of California, Los Angeles) seperti yang termuat pada American Journal of Sport Medicine, menemukan ancaman penyakit yang berpotensi menyerang para pemain sepak bola. Dibandingkan dengan petinju amatir serta atltet lari lintasan, pesepak bola ternyata lebih berpotensi terserang penyimpangan pada sistem saraf.

Tentu masih ada potensi penyakit lain yang bisa dialami oleh pesepak bola, mengingat hampir seluruh anggota tubuhnya harus berbenturan. Tapi bagaimana dengan pelatih?

Tidak seperti pemain, tentu para pelatih jarang melakukan benturan fisik. Namun bukan berarti tidak mudah terserang penyakit, karena pelatih juga banyak melakukan gerakan yang dibutuhkan tubuh.

Seperti dituturkan dokter spesialis olahraga, Hario Tilarso, umumnya para pelatih berusia lebih tua dibandingkan para pemain. Faktor usia inilah, terutama  yang memiliki pengaruh terhadap penyakit yang biasanya mengintai para pelatih sepakbola. 

“Bukannya tidak mungkin terkena penyakit stroke, jantung, hipertensi. Seperti di luar negeri sana, Maradona setelah berhenti jadi pemain lalu menjadi pelatih, badannya menjadi gendut,” ujar Hario.

Kekhawtairan Hario ini, bahkan pernah menimpa Tito Vilanona, Pelatih FC Barcelona. Akhir tahun lalu misalnya, Vilanova harus menjalani perawatan intensif lantaran penyakit tumor yang setahun sebelumnya sebenarnya sudah diobati tapi kambuh lagi.

Dari hasil pemeriksaan rumah sakit, ternyata ada tumor baru pada kelenjar parotis Vilanova. Akhirnya, dia harus menjalani operasi.

Menurut Hario yang sudah puluhan tahun bekecimpung di dunia olahraga, perilaku pelatih sepak bola di luar negeri berbeda dengan pelatih dalam negeri. Di luar sana, pelatih masih melakukan lari-lari kecil alias jogging dengan para pemainnya. “Sementara di sini tidak,” imbuhnya.

Namun kendati sudah ikut olahraga, tetap saja pelatih sekelas Vilanova harus berurusan dengan penyakit. 

Jika pelatih sepak bola dihubungkan dengan stres karena tekanan pekerjaan dan perkembangan tim pesaingnya, Hario mengatakan, itu semua tergantung orangnya. “Kalau orangnya matang tidak masalah. Aspek psikologis mampu mengatasi masalah yang dihadapinya,” terangnya. 

Tentu kondisinya akan sangat berbeda seandainya sang pelatih cenderung emosional atau kurang mampu mengontrol kondisi psikologisnya. Dari pengalaman yang dialami, Hario menuturkan, banyak pelatih yang harus merokok untuk menenangkan dirinya.

 “Para pelatih itu merokok, lalu kemudian berbadan gendut,” urainya.

Sementara di lain sisi, pelatih selalu menerapkan disiplin dengan melarang para pemain yang dilatihnya merokok. “Padahal dia sendiri merokok,” lanjutnya. 

Kondisi ini juga sangat berbeda dengan yang terjadi di luar negeri. Para pelatih di sana tidak merokok, tapi kebanyakan minum. Itu terkait dengan budaya mereka yang terbiasa dengan mengonsumsi minum-minuman beralkohol saat pergi ke klub. 

"Seharusnya para pelatih menenangkan atau menyenangkan diri dengan cara konsultasi kepada psikolog, sehingga tidak menimbulkan citra yang buruk pada diri seorang pelatih,” saran Hario.

Mantan pelatih Barcelona, Pep Guardiola adalah salah satu pelatih dengan gaya berbusana terbaik. (Getty Images/David Ramos)
1 / 21
Yahoo Olahraga
Sel, 25 Sep 2012 14:00 WIB
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.