Nasib Sekolah Sepak Bola di Indonesia

Oleh: Aditya

Lapangan sepak bola boleh minim di Indonesia. Namun minat kehadiran sekolah bola sepak tak pernah surut. Baik murni lokal maupun yang hadir dengan sistem waralaba merek asing. Hanya saja sejumlah masalah masih menggelayut dalam perkembangannya.

Beberapa persoalan yang masih ada saat ini, seperti diakui Rawindra Ditya, pengurus di Soccer School Indonesia (SSI) Arsenal, adalah kekurangan pelatih. Soal lapangan juga menjadi kendala untuk latihan. “Bahkan lapangan yang biasa dipakai untuk hoki digunakan sepak bola,” ujarnya.

Parahnya lagi mencuri umur pun dilakoni oleh sebagian peserta dan pengurus sekolah sepak bola (SSB). Seharusnya anak yang berlatih berusia minimal 8 tahun. “Jeleknya memang masih ada yang mencuri umur,” tegas salah satu pendiri Arsenal Indonesia Supporters ini.

Terkait dengan hasil yang diperoleh siswa dari didikan sekolah sepak bola, Rawindra sendiri tidak bisa memastikan kemana mereka setelah tuntas di SSB. Apakah mereka akan menjadi pemain profesional atau tidak, katanya, “itu tergantung masing-masing orang. Tapi kalau punya bakat, pasti akan dilirik.”

Wajar saja orang seperti Rawindar bingung. Sebab seperti yang diketahui oleh Agung Harsya, wartawan situs berita Goal.com Indonesia, PSSI bahkan tidak pernah memikirkan menjamurnya bibit-bibit muda dari SSB. PSSI sepertinya bingung bagaimana memaksimalkannya.

Menurut dia seharusnya klub sepak bola yang lebih berperan mencari bibit lewat SSB. Seperti di Surabaya, ada kompetisi bagi klub anggota Persebaya. Dari situlah klub yang didirikan pada 1927 itu mencari bibit pemain muda.

“Bahkan di sana (Persebaya) ada sistem bapak angkat bagi yang dianggap memiliki bakat," terangnya.

Idealnya setiap klub profesional di Indonesia harus memiliki sekolah sepak bola. Hanya memang, klub memiliki keterbatasan, terutama terkait dengan dana lantaran masih disubsidi oleh pemerintah.

Dari kondisi kekosongan seperti inilah, lanjutnya, sekolah sepak bola marak bermunculan. Walaupun ada yang sekadar jadi tempat menyalurkan hobi.

Sebagai awal dari pembinaan di SSB, Agung menginginkan sejak usia 5 tahun. Kemudian, disertai dengan standar dan kurikulum yang baik, serta kompetisi yang berkesinambungan. Ini kalau SSB ingin bermutu.

Bagi dia, jika sekadar latihan namun tidak disertai kompetisi, akan percuma. “Tidak akan kelihatan bakat-bakatnya,” papar Agung.

Dalam pandangan Nilmaizar, pelatih Timnas, agar SSB bisa bermutu, yang penting perlu diperhatikan adalah, latihannya yang terstruktur. Begitu juga dengan jadwalnya. “Termasuk, tujuan latihannya harus jelas,” tegasnya.

Nilmaizar sepakat dengan Agung bahwa setiap klub mestinya memiliki sekolah sepak bola. “Harus ada pembinaan hingga usia 19 tahun,” katanya.

Untuk keberadaan pelatih asing di SSB, Nilmaizar berpendapat, itu bukan yang utama. Kata dia, banyak pelatih Indonesia yang lebih bagus, tinggal dimaksimalkan saja.

Sementara Agung bisa sedikit memahami kehadiran pelatih impor itu. Dengan dalih tidak adanya kurikulum yang memadai dalam sistem pelatihan di SSB, maka kehadiran pelatih asing yang memang sudah berpengalaman dimanfaatkan sebagai “kurikulum berjalan”.

Mereka dianggap sudah mengetahui metode pembinaanya. “Melatih anak di kelompok usia berbeda, tentu tidak sama,” tuturnya. Di sinilah peran pelatih asing itu.

Terkait dengan pembinaan, Rawindra mengungkapkan, selama ini pembinaan berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Dari dulu tidak ada yang berubah,” ujarnya.

Hanya dia berharap, orang-orang di SSB yang harus lebih bermoral. Jangan sampai masalah pencatutan umur dipertahankan.

Bagi Agung, yang ideal seharusnya bukan di Kementerian Pendirikan, melainkan di bawah PSSI. Alasannya, ini bagian dari pembinaan bibit pemain dari usia dini. “Jadi PSSI mesti punya inisiatif,” urainya.  Persoalan mereka pada akhirnya memilih menjadi pemain sepak bola profesional atau tidak, tentu ada pada para peserta didik itu sendiri.


Pusat kebugaran untuk meningkatkan kemampuan dan mengukur stamina pemain.
1 / 16
AFP
Rab, 10 Okt 2012 18:00 WIB



Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.