Gagal di Olimpiade, Waktunya Indonesia Berbenah

Olimpiade London 2012 memberikan catatan buruk bagi perjalanan olahraga Indonesia. Sejarah membawa pulang medali emas persembahan dari cabang bulu tangkis sejak Olimpiade Barcelona 1992 pun berhenti.

Ditambah lagi skandal ‘main sabun’ pada cabang bulutangkis ganda putri, yang membuat tim dari Indonesia ikut didiskualifikasi alias diusir dari kompetisi. Apa yang mestinya dilakukan kini?

Legenda bulutangkis Indonesia, Rudy Hartono mengingatkan Kementerian Pemuda dan Olahraga hingga Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI), sudah waktunya berbenah diri.

Rudy mengusulkan adanya perubahan pada format pelatihan nasional atau pelatnas. Yakni, bukan sekadar latihan menjelang kompetisi, tapi harus dimulai sejak pencarian bakat dengan lebih seksama dan jangan sampai salah pilih. Termasuk di cabang bulutangkis.

“Siapkan waktu empat tahun untuk membina para atlet dari sekarang jika menginginkan medali emas Olimpiade,” jelasnya.

Usulan Rudy ini senada dengan harapan Triyatno, peraih medali perak angkat besi. Untuk kejuaraan internasional, katanya, pembinaan dan waktu latihan  perlu ditambah, tidak seperti pada Olimpiade 2012 yang hanya dua bulan.

“Paling tidak persiapannya tiga tahun,” ujar peraih bonus Rp 400 juta dari pemerintah itu.
Dengan persiapan yang lebih baik ini tidak perlu mengirim pelatih ke Cina untuk mencari pengalaman atau menuntut ilmu. Sebab dia merasa ada yang salah dari pelatnas, sehingga tidak mampu mengimbangi negara-negara lain yang sebelumnya dinilai tidak memiliki prestasi sebaik Indonesia.

“Cari pelatih yang mengerti, bukan yang setengah mengerti. Ilmu yang ada di Cina juga sama aja kok,” imbuh Rudy.

Dia mengambil contoh pada cabang bulutangkis. Malaysia dulu jauh di bawah Indonesia. Tapi sekarang bisa mengimbangi akibat pembinaan yang baik. “Karena itu, cari pemain yang abnormal, jangan yang normal. Kalo normal hanya mempunyai ambisi biasa saja dan tidak mau tampil ngotot,” ungkapnya.

Sedangkan Rony Pangemanan, Wakil Pemimpin Redaksi TotalSport mengharapkan agar pemerintah membenahi sarana dan prasarana latihan yang sudah tidak memadai serta kuno. “Masak para lifter harus berlatih dari barbel yang dibuat dari semen. Kasih yang sama kualitasnya dengan sarana dan prasarana yang ada di kompetisi Olimpiade dong,” sesalnya.

Selain itu, dia menyarankan agar para atlet Indonesia juga bisa mengecap kompetisi maupun kegiatan latihan di luar negeri, sehingga mampu menyaingi kualitas dari negara lain. “Masak sudah berlatih di luar tidak bisa memberikan prestasi apa-apa,” ujarnya.

Untuk pembinaan jangka panjang, Ropan - panggilan Rony Pangemanan – mengusulkan adanya sistem 'bapak angkat'.  Sehingga, ada yang menjamin biaya sejak atlet berlatih hingga memperoleh prestasi. “Jadi jangan sekadar beri bonus setelah memboyong prestasi,” katanya.

Dalam bahasa Agung Setyohadi, wartawan Kompas, pemerintah jangan hanya terima jadi. Namun harus terlibat sejak mencari bibit atlet dari daerah, memperhatikan sarana dan prasarana, serta mengetahui jalannya pembinaan dan pelatihan dari tahap awal.

“Semua itu harus dimulai dari bawah, dimulai dari nol lagi,” jelasnya.

Bagi Agung, pelatnas bukan sekadar mengumpulkan para atlet untuk berlatih, tapi ada proses tahap demi tahap. “Jika sudah sampai tahap tertentu, lakukan uji coba keluar negeri. (Pelatnas) Jangan hanya berkumpul latihan bareng-bareng saja,” tegasnya.

Karena itu dia berpendapat, kalau mau mengirim ke luar negeri, jangan hanya pelatih, tetapi juga atlet. Sama-sama menimba ilmu maupun pengalaman. Apalagi atlet, katanya, memang membutuhkan kompetisi level internasional agar membangun mental mereka.

“Mengikuti pelatihan atau kompetisi di luar itu penting untuk mengukur diri. Tahu sejauh mana kemampuan kita dan memperbaiki kekurangan setelah mengetahuinya,” papar Agung.

Andi Alfian Mallarangeng, Menteri Pemuda dan Olahraga mengakui masih banyaknya kelemahan sehingga prestasi di Olimpiade menurun. “Kita memang telah gagal di London. Tanpa harus saling menyalahkan, kita semua harus berkomitmen kegagalan itu tidak boleh terulang lagi. Kita akan lakukan evaluasi,” janjinya.


BACA JUGA:

Janji-janji Manis untuk Atlet Nasional

Atlet Indonesia yang Pindah Warga Negara

Makanan Para Juara Olimpiade

10 Atlet Terkuat di Olimpiade

Apa Manfaat Kedatangan Pemain dan Klub Asing ke Indonesia?

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.