Risiko Tarung Bebas Bagi Wanita

Penulis: Kusuma/ Fachrurrozi/Aditya

Seni beladiri tak lagi tabu bagi kaum perempuan. Banyak yang menekuni olahraga semacam taekwondo maupun karate. Tapi bagaimana jika mereka ikut seni beladiri campuran atau Mix Martial Art (MMA) maupun mengikuti Ultimate Fighting Championship?

Maklum semua gerakan adu fisik ada di olahraga bebas ini. Risiko yang dialami para petarung pun lebih besar dibandingkan bela diri biasa. Sebagai petarung bebas, diperbolehkan menggunakan tinju, tendangan, bantingan, kuncian, maupun cekikan.

Bahkan dengkul dan sikut juga boleh digunakan. Tapi bedanya, sikut hanya disasarkan ke arah tubuh, dilarang mengenai muka. Justru dengkul boleh disasarkan ke muka lawan.

“Kalau kena pukul bisa-bisa ya memar beneran, hingga hidung keluar darah. Itu juga bisa terjadi,” jelas pelatih MMA, Alexander Sumardi.

Bagi Jonni Mpd, dosen ilmu kebugaran dari Universitas Negeri Yogyakarta, mengatakan bagi para perempuan yang menekuni olahraga beladiri tidak perlu khawatir kondisi fisik maupun organ reproduksinya terganggu. “Kalaupun dia berlatih keras, paling-paling yang didapat hanya efek cedera,” ujarnya.

Namun Jonni membatasi pendapatnya ini pada latihan untuk kebugaran, bukan pertarungan. “Sepanjang latihan untuk kebugaran tidak ada masalah dan tidak menimbulkan risiko berat apa pun, termasuk pada risiko reproduksinya,” tegasnya.

Tapi kalau sudah ikut tarung bebas, ahli kesehatan olahraga, dr Hario Tilarso berpendapat, tentu saja sangat berbahaya bagi perempuan. Dalam pertarungan seperti itu, katanya, tidak ada aturan yang aman lantaran bisa dilakukan secara sembarang.

“Kalau tinju kan ada aturan dilarang memukul pada daerah tertentu.  Begitu juga dengan karate, judo dan bela diri lainnya. Nah, kalau tarung bebas kan tidak,” ungkapnya.

Terkait dengan ancaman reproduksi bagi perempuan, Hario menepis kemungkinan itu. Alasannya, pertandingan dilakukan dengan kurun waktu tidak terlalu lama.  Paling-paling tiga ronde yang masing-masing memakan waktu tiga menit. 

“Tidak seperti balap sepeda yang memang memakan banyak waktu lama,” tuturnya.

“Kalau buat laki-laki mungkin saja bisa mengakibatkan hal tersebut. Itu jika dia terkena pukulan atau tendangan di daerah, maaf, buah zakarnya,” imbuhnya.

Tarung bebas memang akan membahayakan fisik pelakunya. Misalnya, pukulan atau tendangan yang menghantam perut, hanya akan melukai usus petarungnya. “Ini juga tidak mengganggu alat reproduksinya,” ujarnya.

Tapi kemungkinan terganggunya reproduksi ada kemungkinan bisa terjadi. Kalau pukulannya sangat keras menghantam ke arah tempat sel telur, mungkin saja bisa mencederai alat reproduksi wanita. “Namun itu kemungkinannya sangat kecil."

Bagi perempuan yang mengikuti olahraga tarung bebas seperti ini, Hario menyarankan beberapa hal: fokus, perkuat fisik dan otot-otot, perkuat juga sendi-sendinya. Serta jangan lupa, tingkatkan fleksibilitas anggota tubuh. “Tapi bukan berarti badannya dibesarin ya,” pungkasnya.


Ronda Rousey, Mantan Atlet Olimpiade yang Menjadi Petarung (klik panah kanan kiri untuk melihat foto):


Ronda pamer otot bisep saat timbang badan.
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.