DEBAT: Apakah Barcelona Tak Bisa Dihentikan?


OLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti di twitter
Musim lalu menjadi musim yang fantastis bagi Real Madrid. Betapa tidak, pasukan Jose Mourinho itu hanya kalah dua kali dan mengklaim titel La Liga  dengan catatan meraih 32 kemenangan dan merengkuh poin 100. Sebelumnya tidak pernah ada tim yang mampu menggapai rekor-rekor ini di kompetisi Spanyol. Namun hanya delapan bulan berselang setelah pesta juara, Barcelona sepertinya berpotensi mengangkangi torehan Los Blancos.

Armada Tito Vilanova kembali menunjukkan kedigdayaan mereka pada akhir pekan kemarin dengan menundukkan Malaga 3-1 di La Rosaleda untuk membuka gap 11 poin menjauh dari kejaran Atletico Madrid di peringkat kedua, dan menciptakan surplus 18 poin dari pasukan Jose Mourinho di posisi ketiga, setelah berpetualang dalam 19 pertandingan liga. Sepanjang paruh musim ini, Barca telah memenangkan 18 pertandingan, seri sekali dan belum pernah tumbang. Secara total, hanya dua dari 57 poin potensial yang terbuang - di mana Barca ditahan Madrid di markas sendiri 2-2 pada awal Oktober tahun lalu.

Dengan fakta perolehan 55 poin di klasemen setelah melewati 19 laga, Barca diprediksikan bisa melampaui torehan Madrid di musim 2011/12, juga melewati perolehan terbaik tim di bawah rezim Pep Guardiola, yakni 99 poin pada musim 2009/10 silam. Ini sungguh menakjubkan, sebab musim ini adalah debut kampanye pelatih Vilanova sebagai juru taktik utama Los Blaugrana.

Madrid di musim ini memang dipandang jauh dari performa terbaik mereka. Klub ibu kota ini sejatinya tidak pernah meyimpan kesenjangan poin yang teramat jauh dengan Barcelona dalam sejarahnya. Namun total 37 poin yang mereka kumpulkan saat ini rasanya menjadi misi mustahil bagi Madrid untuk ngotot mengejar perolehan Barca di sisa musim.

Mourinho sebetulnya sempat menyerukan keyakinan jika Madrid bisa mendulang prestasi serupa di musim lalu, namun fakta di lapangan tidak berbicara demikian. Pria Portugal itu terlalu banyak dihadapkan pada polemik baik di luar dan di dalam lapangan. Pasceperpisahan Pep Guardiola, persaingan antar rival abadi bukannya semakin seru, justru malah meciptakan jurang poin yang mencolok. Iker Casillas cs tampil kurang meyakinkan, sementara rival-rival mereka membawa amunisi keyakinan untuk mematahkan prediksi yang menyebut kubu Santiago Bernabue bakal tersenyum lebar [lagi] di pengujung musim nanti.

Secara taktik, boleh dibilang banyak tim lawan keburu ciut kala berhadapan dengan laskar Catalan. Lebih akutnya, klub-klub rival ini sudah kalah duluan secara mental sebelum bola benar-benar disepak. Mungkin hanya tim semacam Deportivo La Coruna dan Mallorca yang berani tampil nothing to lose, di mana mereka berjuang spartan mengimbangi Barca dan akhirnya menyudahi laga dengan skor besar mencolok. Pada laga Minggu kemarin, Malaga juga sebetulnya meladeni Barca dengan permainan cantik, namun pada akhirnya mereka harus mengakui keunggulan Lionel Messi cs yang sukses membobol dua gol pertama memanfaatkan blunder pertahanan lawan. Namun jika boleh berbicara mengenai tim mana yang tidak perlu menggunakan bantuan keberuntungan semacam ini untuk menjebol gawang lawan, Barca adalah jawabannya.

Kredit khusus patut disematkan pada Vilanova. Sang pelatih langsung bisa nyetel memimpin skuat tim tampil gemilang setelah Guardiola hengkang pada musim panas kemarin. Vilanova disebut-sebut sukses mengatasi masalah krisis lini belakang tim di awal musim, lalu sanggup menancapkan peran untuk membuat para pemain respek terhadapnya, kemudian si pelatih anyar juga berhasil meredakan tensi panas musim lalu di ruang ganti tim, dan berikutnya dia juga tanggap dalam menerapkan permainan taktis nan indah ala Barca. Yah evolusi, bukan revolusi.

Jadi pertanyaannya: apakah Barca versi Tito lebih tangguh dari Los Blaugrana-nya Pep?

Sepertinya masih terlalu dini untuk menjawab pertanyaan sepeti ini. Masih ada beberapa PR yang mungkin harus diperhatikan Tito. Skuat Vilanova sempat membuang kans bagus untuk menahbiskan trofi pertamanya sebagai pelatih di ajang Piala Super Spanyol, namun mereka harus mengakui superioritas Madrid. Berikutnya ada lagi duel seri kontra Madrid di Camp Nou pada laga paruh pertama liga musim ini plus kekalahan mengejutkan dari Celtic di Liga Champions. Catatan-catatan ini seakan menjadi sinyal tersendiri bagi Barca untuk tetap membumi. Namun bagaimanapun, secara keseluruhan sejauh ini Barca sudah membuat gebrakan luar biasa di musim ini.

Tes sesungguhnya mungkin menanti di Copa del Rey, di mana Madrid bisa saja menjadi lawan mereka di semi-final, lalu Liga Champions, atau mungkin bahkan di La Liga. Soal trofi, seberapa bagus kinerja mereka di setiap laga-laga prestisius akan menentukan seberapa kuat kans Barca bisa bersanding dengan supremasi Barca-nya Guardiola. Namun memenangkan gelar La Liga dengan goresan rekor poin akan menjadi langkah awal yang brilian. Barca saat ini masih di tengah-tengah musim, tapi indikasi untuk mengepak catatan serta rekor-rekor gemilang, sama sekali terbuka lebar. Kembali ke pertanyaan awal, bila di separuh musim ini Barca bisa mengemas 55 poin, apakah perjalanan di paruh kedua musim bisa serupa? Kalau iya, sudah pasti rekor Madrid terpecahkan. Lalu siapa yang bisa menghentikan Barca?Madrid di musim ini memang dipandang jauh dari performa terbaik mereka. Klub ibu kota ini sejatinya tidak pernah meyimpan kesenjangan poin yang teramat jauh dengan Barcelona dalam sejarahnya. Namun total 37 poin yang mereka kumpulkan saat ini rasanya menjadi misi mustahil bagi Madrid untuk ngotot mengejar perolehan Barca di sisa musim.

Mourinho sebetulnya sempat menyerukan keyakinan jika Madrid bisa mendulang prestasi serupa di musim lalu, namun fakta di lapangan tidak berbicara demikian. Pria Portugal itu terlalu banyak dihadapkan pada polemik baik di luar dan di dalam lapangan. Pasceperpisahan Pep Guardiola, persaingan antar rival abadi bukannya semakin seru, justru malah meciptakan jurang poin yang mencolok. Iker Casillas cs tampil kurang meyakinkan, sementara rival-rival mereka membawa amunisi keyakinan untuk mematahkan prediksi yang menyebut kubu Santiago Bernabue bakal tersenyum lebar [lagi] di pengujung musim nanti.

Secara taktik, boleh dibilang banyak tim lawan keburu ciut kala berhadapan dengan laskar Catalan. Lebih akutnya, klub-klub rival ini sudah kalah duluan secara mental sebelum bola benar-benar disepak. Mungkin hanya tim semacam Deportivo La Coruna dan Mallorca yang berani tampil nothing to lose, di mana mereka berjuang spartan mengimbangi Barca dan akhirnya menyudahi laga dengan skor besar mencolok. Pada laga Minggu kemarin, Malaga juga sebetulnya meladeni Barca dengan permainan cantik, namun pada akhirnya mereka harus mengakui keunggulan Lionel Messi cs yang sukses membobol dua gol pertama memanfaatkan blunder pertahanan lawan. Namun jika boleh berbicara mengenai tim mana yang tidak perlu menggunakan bantuan keberuntungan semacam ini untuk menjebol gawang lawan, Barca adalah jawabannya.

Kredit khusus patut disematkan pada Vilanova. Sang pelatih langsung bisa nyetel memimpin skuat tim tampil gemilang setelah Guardiola hengkang pada musim panas kemarin. Vilanova disebut-sebut sukses mengatasi masalah krisis lini belakang tim di awal musim, lalu sanggup menancapkan peran untuk membuat para pemain respek terhadapnya, kemudian si pelatih anyar juga berhasil meredakan tensi panas musim lalu di ruang ganti tim, dan berikutnya dia juga tanggap dalam menerapkan permainan taktis nan indah ala Barca. Yah evolusi, bukan revolusi.

Jadi pertanyaannya: apakah Barca versi Tito lebih tangguh dari Los Blaugrana-nya Pep?

Sepertinya masih terlalu dini untuk menjawab pertanyaan sepeti ini. Masih ada beberapa PR yang mungkin harus diperhatikan Tito. Skuat Vilanova sempat membuang kans bagus untuk menahbiskan trofi pertamanya sebagai pelatih di ajang Piala Super Spanyol, namun mereka harus mengakui superioritas Madrid. Berikutnya ada lagi duel seri kontra Madrid di Camp Nou pada laga paruh pertama liga musim ini plus kekalahan mengejutkan dari Celtic di Liga Champions. Catatan-catatan ini seakan menjadi sinyal tersendiri bagi Barca untuk tetap membumi. Namun bagaimanapun, secara keseluruhan sejauh ini Barca sudah membuat gebrakan luar biasa di musim ini.

Tes sesungguhnya mungkin menanti di Copa del Rey, di mana Madrid bisa saja menjadi lawan mereka di semi-final, lalu Liga Champions, atau mungkin bahkan di La Liga. Soal trofi, seberapa bagus kinerja mereka di setiap laga-laga prestisius akan menentukan seberapa kuat kans Barca bisa bersanding dengan supremasi Barca-nya Guardiola. Namun memenangkan gelar La Liga dengan goresan rekor poin akan menjadi langkah awal yang brilian. Barca saat ini masih di tengah-tengah musim, tapi indikasi untuk mengepak catatan serta rekor-rekor gemilang, sama sekali terbuka lebar. Kembali ke pertanyaan awal, bila di separuh musim ini Barca bisa mengemas 55 poin, apakah perjalanan di paruh kedua musim bisa serupa? Kalau iya, sudah pasti rekor Madrid terpecahkan. Lalu siapa yang bisa menghentikan Barca?

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Yahoo Indonesia di Facebook