Statistik Juventus Setelah Nicolas Anelka Datang


Nicolas Anelka (Getty Images/Dino Panato)



Ditulis oleh: Aditya Nugroho


Ketika Nicolas Anelka pindah ke Juventus musim dingin lalu, tidak sedikit yang menertawai. Anelka sudah tua, lamban dan tidak produktif mencetak gol, sehingga transfer ini tidak dianggap sebagai pergerakan yang bagus.

Pilihan Beppe Marotta, direktur klub, untuk mengatasi kekurangan penyerang berkelas dunia akhirnya jatuh pada striker jangkung Athletic Bilbao yang tahun lalu memporak-porandakan Manchester United di babak 8 besar Europa League, Fernando Llorente. Namun Llorente baru bisa memperkuat Si Nyonya Tua musim depan. 

Juve mengambil Nicolas Anelka sebagai solusi jangka pendek sebelum Llorente datang untuk memperbaiki kinerja lini depan agar musim ini mampu mempertahankan gelar scudetto dan melaju sejauh mungkin di Liga Champions.

Mungkin banyak yang sudah lupa jika 14 tahun lalu Juve pernah mengincar Anelka, yang saat itu menjadi salah satu pemain berbakat di dunia sepak bola dan bermain di Arsenal.  

Diceritakan Antonio Labatte di Football Italia, Juve akhirnya urung mendapatkan Anelka karena sang pemain mendapat rekomendasi negatif yaitu kurang cocoknya kota Turin untuk orang asing, kurang teknisnya permainan Juventus dan juga Juve saat itu tidak berpartisipasi di Liga Champions. Anelka saat itu memilih untuk hijrah ke Real Madrid.

Namun itu kondisi 14 tahun lalu, kini Anelka sudah tidak bisa banyak meminta banyak hal karena usianya memang sudah menjelang 34 tahun dan ia sudah tidak lagi sehebat dulu. Anelka membawa pengalaman terakhir di karier sepak bolanya dengan hanya mencetak 3 gol di negeri Cina dari 22 pertandingan yang telah dijalaninya bersama Shanghai Shenhua di Cina.

Minat juara Italia kepadanya tentu ibarat pelengkap catatan karier. Negara Italia adalah yang kelima yang pernah ia tinggali di luar Prancis setelah Inggris, Spanyol, Turki, hingga Cina.

Juve memang tidak buta bahwa Anelka bukanlah striker tajam yang bisa mencetak 20 gol dalam semusim. Torehan terbaiknya adalah ketika ia mencetak 19 gol di EPL untuk Chelsea musim 2008/2009 lalu, juga 17 golnya untuk Arsenal di musim 1998/1999. Namun Juve melihat pengalaman Anelka sebagai sesuatu yang masih bisa mereka manfaatkan.

Sejak bergabung 26 Januari lalu, Anelka baru tampil sekali, selama empat menit. Debutnya terjadi ketika Bianconeri mengalahkan tuan rumah Glasgow Celtic dalam leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Debut ini sekaligus menandai sebuah pencapaian tersendiri bagi karir Anelka. 

Ia telah memperkuat 6 tim di Liga Champions setelah sebelumnya pernah memperkuat Arsenal, PSG, Real Madrid, Fenerbahce dan Chelsea di kompetisi sepak bola antar klub Eropa paling gemerlap ini. 

Dari situasi ini terlihat bahwa Juve seperti tidak membutuhkan kontribusi langsung Anelka di lapangan. Lalu apakah dengan demikian Juventus membuang-buang uang secara percuma untuk menggaji Anelka?

Sebelum menarik kesimpulan, lihatlah catatan pertandingan Juventus setelah Anelka bergabung. Sejak 26 Januari itu, Juve telah memainkan lima pertandingan (tiga domestik), satu Coppa Italia dan satu lagi Liga Champions. Rekor Juve selama lima pertandingan itu memang tidak sempurna karena mereka menang tiga kali dan masing-masing seri dan kalah sekali. 

Tapi ada dua hal yang patut dicermati dari situ. Pertama, ketiga kemenangan ini terjadi dalam tiga laga terakhir yang mereka mainkan. Artinya, Juventus telah kembali pada jalur kemenangan setelah sebelumnya beberapa kali kehilangan poin yang berakibat tidak amannya posisi di puncak klasemen kompetisi Serie A Italia.

Kedua, dalam lima pertandingan terakhir setelah Anelka bergabung tersebut, penyerang-penyerang Juve tampil produktif setelah sebelumnya banyak dikritik. Juventus mampu membuat sembilan gol, dan enam di antaranya diciptakan oleh penyerang-penyerang mereka. Sebelumnya, distribusi gol Juventus lebih merata — sumbangan gol banyak diberikan oleh para gelandang macam Arturo Vidal dan Andrea Pirlo.

Dari enam gol yang tercipta oleh para penyerang, Alessandro Matri mencetak tiga gol, dan itu terjadi di tiga laga terakhir. Sementara Mirko Vucinic juga selalu mencetak gol dalam dua laga terkini dan satu gol lagi disumbangkan oleh Fabio Quagliarella. Apakah indikasi dari hal ini? Tentunya dapat dilihat bahwa ketajaman penyerang-penyerang Juve telah meningkat dengan kehadiran Anelka.

Anelka mungkin tidak banyak membantu di lapangan, karena ia baru tampil sekali dan hanya 4 menit. Ia masih perlu mengembalikan kondisi fisiknya ke level yang ideal untuk bermain di Italia. Namun kehadirannya memacu penyerang-penyerang yang ada untuk tampil lebih produktif karena takut tempatnya diambil oleh Anelka yang memiliki kelebihan dalam hal teknik dan visi bermain. 

Keputusan mendatangkan Anelka adalah peringatan bagi para pemain Juve untuk segera mencetak banyak gol. Ditambah dengan bakal bergabungnya Llorente musim depan, maka inilah saat yang tepat bagi Matri, Vucinic, Quagliarella, Sebastian Giovinco, hingga Nicklass Bendtner untuk membuktikan kapasitas dan ketajaman mereka jika tidak ingin terdepak.

Meski masih perlu dibuktikan hingga akhir musim nanti, namun kebijakan Juve terkait transfer Anelka bukanlah pergerakan buruk. Seorang pemain tidak hanya diharapkan untuk berkontribusi langsung berupa penampilan bagus di lapangan. 

Dalam olahraga kolektif macam sepak bola, seorang pemain juga bisa berkontribusi bagi tim jika kehadirannya mampu mendongkrak permainan rekan-rekannya, meski ia tidak bermain. 

Hal semacam itulah yang diberikan Anelka kepada Juve, selain pengalamannya.



BACA JUGA:

Juventus Sempat Kehilangan Kendali

Jenderal Kecil yang Permainannya Mirip Pirlo, Xavi dan Iniesta

Kebangkitan Mathieu Flamini

Jago Dribbling Berkat Latihan Futsal

Alasan Pemain-pemain La Liga Menguasai Formasi Terbaik FIFA 2012

10 Momen Kontroversial Mario Balotelli


Juventus Menang Telak di Kandang Glasgow Celtic:

Kegembiraan pemain Juventus.
1 / 21
Getty Images
Rab, 13 Feb 2013 07:00 WIB





Blog Olahraga

  • Tim Terbaik Piala Dunia: Spanyol 2010

    Spanyol meraih gelar juara Piala Dunia pertamanya di Afrika Selatan. Mereka negara kedelapan yang memenangi trofi paling bergengsi di dunia ini. Difavoritkan menjadi juara lantaran menyandang status … Lainnya »

    Arena - 9 jam yang lalu
  • Evaluasi Tur Timur Tengah Timnas U-19

    “Kami melihat secara umum para pemain mengalami peningkatan kualitas. Dan ada beberapa pemain yang sangat berkembang di tur ini,” tutur Indra Sjafri … Lainnya »

    Arena - 10 jam yang lalu
  • Bukan Semata Salah Moyes

    “I’d like to remind you that we’ve had bad times here. The club stood by me. All my staff stood by me. The players stood by me. So now your job is to stand by our new manager. That is important,” … Lainnya »

    Arena - 11 jam yang lalu

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman