Sepak Bola Butuh Teknologi Garis Gawang?

Getty Images/Dino Panato





Oleh: Hedi Novianto


Pertandingan di San Siro pada hari Minggu (26/2) dini hari memasuki menit ke-25. Gelandang AC Milan, Sulley Muntari, mengakhiri kemelut di depan gawang Juventus dengan sundulan. Kiper Gianluigi Buffon dalam sepersekian detik menghalau bola dari sekitar gawangnya.

Menurut Muntari dan beberapa pemain Milan, bola sudah melewati garis gawang sebelum dimentahkan Buffon. Mereka juga sudah bersorak gembira. Namun apa daya, wasit Paolo Tagliavento bergeming. Dia tak menganggap ada gol karena hakim garis tidak memberi sinyal.

Dalam tayangan ulang televisi, klaim Muntari dan kawan-kawannya ternyata benar. Bola sudah melewati garis gawang Juventus sekitar satu meter sebelum dimentahkan Buffon.

Kontroversi terjadi. Bukan satu-satunya, karena di waktu selanjutnya pun terjadi kontroversi kedua kala gol (pertama) Allesandro Matri untuk Juventus dianulir Tagliavento.

Tetapi sorotan utama tetap kontroversi gol Muntari. Isu laten dalam beberapa tahun terakhir tentang penggunaan teknologi di garis gawang kembali menyeruak. Pro dan kontra kembali terjadi. Namun, benarkah sudah waktunya bagi sepak bola menggunakan teknologi garis gawang alias goal-line technology?

FIFA sejauh ini tak pernah bersikap tegas. Sang bos, Sepp Blatter, dalam banyak kesempatan lebih senang berada di wilayah abu-abu. Yang terbaru, Blatter mengaku akan mempertimbangkan penggunaan teknologi garis gawang walaupun kata final ada di pundak International Football Association Board (IFAB) — yang bertugas memberi rekomendasi perubahan hukum dan aturan sepak bola kepada FIFA.

Beberapa pelatih tenar seperti Arsene Wenger, Sir Alex Ferguson, Jose Mourinho, atau Carlo Ancelotti tak sepakat menggunakan teknologi itu. Presiden UEFA, Michel Platini, pun setali tiga uang. Legenda sepakbola Prancis itu mengatakan teknologi itu ide buruk.

Menggunakan teknologi di garis gawang untuk sepakbola akan menjadi preseden buruk. Ia bisa merembet ke hal lain, misalnya untuk menentukan offside — yang sering terjadi di sebuah pertandingan.

Penggunaan teknologi membuat wasit harus menghentikan pertandingan sejenak untuk memperhatikan tayangan ulang dan mengambil keputusan. Bila kejadian di area abu-abu dalam sebuah pertandingan sedemikian banyak, bisa dibayangkan berapa lama waktu harus terbuang.

Satu pertandingan bisa berjalan lebih dari 100 menit. Bagaimana dengan kondisi fisik dan stamina pemain?

Bagaimana bila bola yang diberi sentuhan teknologi? Adidas sudah pernah menanamkan microchip ke dalam bola, dan hasilnya tidak memuaskan.

Beberapa kiper papan atas seperti Iker Casillas, Petr Cech dan nama lainnya mengaku tak senang dengan bola bermuatan chip. Aerodinamika bola sulit ditebak. Para pemain sekelas Cristiano Ronaldo pun menolak karena bola jadi sulit dikontrol. Sedangkan Adidas sendiri tak tertarik memproduksinya karena satu hal: tidak ekonomis alias mahal!

Sepak bola secara prinsip memang berbeda dengan cabang olahraga lain yang akrab dengan penggunaan teknologi. NFL (American Football), NHL (Liga Hockey Amerika), MLB (Liga Baseball Amerika), dan tenis adalah sebagian yang jamak menggunakannya. Tetapi jangan dilupakan bahwa olahraga tadi tidak dibatasi oleh waktu. Bila sepakbola hanya berlangsung kurang lebih 90 menit dalam level reguler maka olahraga lain tidak demikian.

Sepak bola tidak antiteknologi. Ia memang selalu terlambat dibandingkan olahraga lain dalam hal teknologi. Namun dalam satu dekade terakhir, penerapan teknologi di sepak bola diarahkan ke bagian lain. Misalnya dalam hal kepelatihan, fisioterapi, aplikasi statistik, dan sebagainya.

Sebagian orang mengatakan kontroversi dalam suatu pertandingan sepak bola adalah lumrah. Namanya juga manusia. Masalahnya, kontroversi tidak terjadi dengan sering. Mungkin dalam 10 pertandingan hanya ada 2 yang kontroversial. Lagi pula, bukankah itu yang membuat sepak bola menjadi lebih berwarna?

Menggunakan teknologi di garis gawang akan membuat sepak bola menjadi sempurna. Dan akibatnya, sentuhan manusia bisa tereliminasi. Tak ada lagi keputusan yang bisa didebat, tak rasional dan lainnya yang berbasis kompetensi manusia. 

Sepak bola menjadi permainan yang mudah ditebak, semangat bisa memudar. Apakah para penikmat menginginkan hal itu?

Blog Olahraga

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman