Retrospeksi Final Piala Liga Inggis 2013: Kemenangan Sepak Bola

REUTERS/Eddie Keogh.


Oleh: Yoga Cholandha

Semalam (24/2) waktu Inggris, telah terjadi sebuah peristiwa monumental yang bisa saja menjadi sebuah momen sekali seumur hidup bagi para penggemar sepak bola kekinian. Ketika sepak bola sudah terlalu identik dengan uang, uang, dan uang, Bradford City dan Swansea City hadir untuk mengingatkan kita semua bahwa sepak bola tidak pernah soal hitung-hitungan materi, melainkan apa yang ditampilkan di atas lapangan hijau.

Bradford City, jawara Piala FA 1911, adalah sebuah tim yang akan selalu lebih dekat dengan tragedi kebakaran di Stadion Valley Parade milik mereka tahun 1985 silam. Sebanyak 56 penonton tewas ketika itu.

Sementara itu, meski berhasil mendapatkan puja-puji atas permainan cantiknya selama berlaga di Premier League dua musim terakhir, Swansea City belum pernah meraih trofi apa pun di belantara persepakbolaan Inggris. Mereka selama ini lebih dikenal sebagai tim pertama (sekaligus yang menyia-nyiakan) Giorgio “Long John” Chinaglia. Tidak lebih.

Bradford City datang dengan gagah ke Wembley setelah dalam perjalanannya berhasil mengalahkan dua tim Premier League, Arsenal dan Aston Villa. Sedangkan Swansea berhasil menyingkirkan Chelsea di semifinal dalam saga yang diwarnai tendangan Eden Hazard ke perut anak gawang Stadion Liberty. Bradford City yang filosofi bermainnya masih sangat berbau Britania, akhirnya berhadapan dengan Swansea City yang tipe permainannya lebih kontinental, kalau tidak mau disebut berbau Spanyol.

Sebagai tim divisi empat, memang tidak banyak yang bisa diharapkan dari Bradford. Harga pemain mereka jika ditotal masih kurang dari gaji harian Wayne Rooney. Pemain-pemain mereka terdiri dari para pemain semi-pro, pemain-pemain belia, dan buangan dari tim lain. Beberapa di antara mereka malah ada yang baru benar-benar bermain sepak bola kurang dari tiga tahun lamanya. Perjalanan mereka di League Two musim ini pun tidak memuaskan. Mereka terjebak di papan bawah dan hanya menang dua kali dari 11 pertandingan terakhir.

Swansea City, selain dengan status sebagai tim anggota Premier League, punya modal lebih dari cukup untuk sekadar membungkam Bradford City. Kebijakan transfer mereka cerdas. Tidak hanya soal pemain, tetapi juga pelatih. Mereka musim ini mendaratkan tiga pemain berkualitas dengan harga miring. Sebut saja Michu Cuesta, Jonathan De Guzman, dan Ki Sung-Yeung. Lalu untuk menggantikan Brendan Rodgers, mereka mendatangkan juru taktik berbakat asal Denmark, The Mighty Michael Laudrup.

Di bawah Laudrup, permainan Swansea musim ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Mereka tidak hanya piawai menguasai bola, tetapi serangan-serangan mereka juga jauh lebih berbahaya. Terakhir, sebelum laga melawan Bradford City, mereka sudah menyimpan kekuatan terbaik mereka meskipun harus dibayar dengan kekalahan 0-5 dari Liverpool.

Hasilnya sesuai dugaan. Bradford City harus puas kejutannya terhenti. Mereka takluk dengan skor telak 0-5 dari Swansea. Nathan Dyer mencetak dua gol, Jonathan De Guzman mencetak dua gol, Michu mencetak satu gol, dan penjaga gawang Bradford City, Matt Duke, mendapat kartu merah. Meskipun diwarnai dengan adegan berebut tendangan penalti dengan Jonathan De Guzman, Nathan Dyer tetap dinobatkan sebagai “Man of the Match” pertandingan kali ini.

Hasil ini sama sekali bukan antiklimaks bagi Bradford City, melainkan sebuah penghargaan yang layak atas Swansea City. Dengan melaju sampai babak final saja, rasanya itu sudah cukup melenakan para pendukung Bradford City. Sementara untuk Swansea City, mereka memang sudah saatnya memenangi sesuatu, dan gelar Piala Liga ini diharapkan menjadi pembuka. Bradford City tidak sepenuhnya kalah, karena mereka sudah melakukan yang terbaik. Menyingkirkan Arsenal tentunya sudah merupakan prestasi tersendiri, bukan?

Menyenangkan rasanya melihat dua tim dengan perjuangan finansial seperti Bradford City dan Swansea City bisa mentas di partai final kejuaraan nasional seperti ini. Krisis finansial membuat The Bantams harus terlempar dari Premier League pada 2001. Sampai sekarang, mereka belum pernah lagi merasakan nikmatnya berlaga di kompetisi kasta tertinggi di Inggris tersebut. Sementara Swansea, di periode yang hampir sama (musim 2001-2002) juga pernah mengalami kebangkrutan hingga akhirnya kepemilikannya diambil oleh kelompok suporter mereka, Swansea City Supporters’ Trust.

Jalan yang ditempuh Swansea City memang lebih menyenangkan ketimbang Bradford City. Di bawah kawalan suporter setia, Swansea City berhasil melakukan trajektori sempurna untuk berlaga di kompetisi kasta tertinggi Liga Inggris. Filosofi ball retention yang saat ini lekat dengan mereka pun tidak jadi dalam satu malam. Mulai dari Paulo Sousa, Roberto Martinez, hingga Brendan Rodgers dan Michael Laudrup semuanya menanamkan filosofi sepak bola indah tersebut ke dalam klub yang bagai dilahirkan kembali ini.

Sekarang, Swansea menghadapi awal dari sebuah era baru sebagai salah satu tim yang diperhitungkan di kancah persepakbolaan Inggris. Fase mereka sebagai tim kejutan seharusnya sudah mampu mereka lewati. Musim depan mereka akan berlaga di Eropa untuk pertama kali sebagai wakil dari Inggris. Mereka pernah melakukannya di musim 1991/92 sebagai wakil Wales di Cup Winners’ Cup. Kali ini, situasinya benar-benar lain. Sebagai wakil Premier League, liga yang paling disorot saat ini, tekanan di tubuh Swansea akan semakin kuat. Musim depan, ujian sesungguhnya akan dihadapi Swansea City.

Lebih dari semua itu, pertandingan final Piala Liga tadi malam adalah kemenangan sepak bola itu sendiri. Selain karena mempertemukan dua tim tanpa tradisi prestasi yang kuat, semalam, trofi Piala Liga juga diserahkan oleh Fabrice Muamba. Muamba, eks-gelandang Bolton Wanderers itu harus pensiun dari dunia sepak bola karena jantungnya tak lagi mengizinkan untuk terus bermain sepak bola secara profesional. Terakhir, momen final Piala Liga semalam juga semakin indah karena bertepatan dengan 20 tahun wafatnya Bobby Moore, kapten Inggris di Piala Dunia 1966.

Sembari mengenang Bobby Moore dan memberi penghormatan kepada Fabrice Muamba, sepak bola Inggris semalam merayakan sebuah momen penting yang menunjukkan bahwa tidak selamanya sepak bola modern dapat diukur dengan kekuatan finansial. Mereka sekaligus juga mampu mengejawantahkan pepatah buatan Sepp Herberger, pelatih legendaris Jerman itu, yang berbunyi: bola itu bundar.

Selamat untuk Swansea City, selamat untuk Bradford City.

Blog Olahraga

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman