Profil Hansamu Yama Pranata dan Muhammad Sahrul Kurniawan: Batu Karang Pertahanan Timnas U-19

Timnas U-19 saat juara Piala AFF U-19. (ANTARA/M Risyal Hidayat)

Ditulis oleh: Aditya Nugroho


Lini pertahanan yang solid adalah salah satu kunci keberhasilan tim nasional sepak bola Indonesia U-19. Selama babak Kualifikasi Piala AFC U-19 2014, mereka hanya kebobolan dua gol dari tiga laga, dua gol tersebut diderita saat melawan Korea Selatan pada laga terakhir babak kualifikasi. Sementara dalam gelaran Piala AFF U-19, Indonesia kebobolan lima kali dari total tujuh laga yang dimainkan. Secara total, mereka hanya menderita kebobolan sebanyak tujuh gol dari 10 laga resmi terakhir yang dimainkan. Dari total 10 laga tersebut, lima di antaranya bahkan diukir dengan cleansheet alias tidak kebobolan. 

Meski sekadar angka, namun hal ini cukup menunjukkan solidnya pertahanan Indonesia yang digalang oleh empat bek sejajar. Kuartet yang dihuni I Putu Gede Juni Antara, Muhammad Fatchu Rahman, Muhammad Sahrul Kurniawan dan Hansamu Yama Pranata bersama kiper Ravi Murdianto tidak pelak menjadi aktor utama dalam lini pertahanan kolektif yang diusung pelatih Indra Sjafri. Pembagian tugas juga berjalan rapi. Misalnya saat Fatchu Rahman yang lebih agresif menyerang dari sisi kiri, Putu Gede tetap statis pada posisinya untuk melapis duet bek tengah.

Namun sebenarnya pertahanan tim nasional U-19 tidak sekadar mengandalkan kuartet bek, melainkan nyaris seluruh pemain. Dua penyerang sayap Ilham Udin dan Maldini Pali kerap ditugaskan untuk tracking back atau turun membantu pertahanan melapis para bek sayap. Hargianto dan Zulfiandi juga menjadi tembok kokoh pertama yang membendung serangan lawan dari lini tengah, begitupun Evan Dimas yang sering turun menjemput bola dan bertarung dengan gelandang lawan.

Lebih jauh lagi, penyerang Muchlis Hadi juga kerap berfungsi sebagai defensive forward yang ditugasi mengganggu lawan dan melakukan pelanggaran jika perlu untuk memperlambat serangan lawan dan memberi waktu pada lini pertahanan untuk menjaga bentuk. Dengan kolektivitas inilah pertahanan tim nasional Indonesia berfungsi.

Duet bek tengah yang kokoh bagaikan batu karang tetaplah dibutuhkan, meski kolektivitas tetap berjalan. Tim nasional Indonesia U-19 memiliki duet kokoh pada diri Muhammad Sahrul Kurniawan dan Hansamu Yama Pranata. Kekokohan dan kekompakan mereka menjadikan lini belakang sulit ditembus.

Muhammad Sahrul Kurniawan menjadi sosok low profile yang relatif jauh dari sorotan. Ia bermain tenang, bersih dan konsisten. Ketenangannya inilah yang sempat menjadikan lini pertahanan limbung, misalnya saat ia absen karena cedera. Stok bek tengah yang tipis di tim nasional bahkan kerap memaksa Indra Sjafri menggeser Putu Gede ke sentral pertahanan ketika salah satu dari Sahrul Kurniawan dan Hansamu absen.  

Kisah perjalanan Sahrul juga unik, menginspirasi namun sekaligus memperlihatkan kealpaan federasi dalam pembinaan. Pelatih Indra Sjafri menemukan pemain asal Ngawi ini dari informasi yang didapat dari seorang tukang ojek. Dari informasi inilah Indra Sjafri meminta pelatih Persinga Ngawi untuk menurunkannya dan memang Sahrul tampil bagus sehingga meyakinkan Indra Sjafri untuk menyeleksinya. Cerita semacam ini tentu saja menarik, namun semestinya seorang pelatih tidak perlu sampai terjun langsung mencari pemain hingga ke seluruh pelosok wilayah tanah air jika saja federasi memiliki pembinaan pemain muda yang sistematis dan kompetisi berjenjang yang berkelanjutan.

Sementara itu Hansamu adalah sosok bek tengah dengan postur atletis bertinggi 180 cm, termasuk kokoh untuk ukuran pemain Indonesia. Kemampuan duel udara pemain asal Mojokerto yang juga tergabung dalam tim nasional SAD yang berkompetisi di Uruguay ini juga kerap diandalkan dalam situasi bola mati seperti tendangan penjuru. Bersama Sahrul, Hansamu juga berperan dalam skema serangan tim nasional, meski tugas utama mereka adalah menghalau serangan lawan dan melindungi gawang.

Mereka dapat dikatakan memberi impresi bagus dan menjanjikan sebagai tembok pertahanan masa depan Indonesia. Tidak hanya kokoh dalam bertahan, mereka juga memiliki syarat yang umumnya dimiliki oleh bek tengah modern, yaitu kemampuan dan ketenangan dalam mengolah bola. Kemampuan ini sangat penting dalam strategi menyerang dengan umpan-umpan pendek dari bawah yang diinginkan Indra Sjafri. Strategi tersebut tidak akan berjalan jika para pemain belakang tidak tenang dan terburu-buru melepas bola langsung ke depan, hal yang jamak terlihat dalam tim nasional senior. Para pemain tim nasional senior sendiri tidak dapat disalahkan mengingat pola permainan semacam itu telah terbentuk melalui kompetisi.

Namun demikian, duet yang masih berusia 18 tahun ini bukannya tanpa cela. Penempatan posisi dan konsentrasi masih harus ditingkatkan, sementara kesalahan individual juga harus diminimalkan. Positioning dan kemampuan membaca permainan perlu ditingkatkan untuk menghalau umpan-umpan terobosan maupun umpan silang yang dilancarkan lawan.

Dari tujuh kali kebobolan yang diderita, dua diantaranya berasal dari situasi bola mati yang dimanfaatkan lawan dengan sundulan, yaitu saat melawan Vietnam pada penyisihan Piala AFF U-19 dan melawan Korea Selatan dalam Kualifikasi Piala AFC 2014. Sebuah gol dari umpan silang juga diderita kala menghadapi Thailand pada penyisihan Piala AFF U-19, sementara sisanya mereka kebobolan lewat skema open play dan serangan balik cepat lawan.

Mereka juga perlu mengurangi pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu, misalnya yang terjadi pada gol penalti Korea Selatan. Pengendalian emosi juga diperlukan agar terehindar dari hukuman kartu yang malah merugikan tim. Terakhir, kedalaman posisi bek sentral masih menjadi pekerjaan rumah agar tercipta kompetisi positif di antara mereka, sekaligus menghindari sindrom kebintangan yang dapat timbul akibat pemain merasa tak tergantikan. Hal ini tentunya sudah disadari betul oleh Indra Sjafri, apalagi tahun depan mereka akan menghadapi lawan-lawan yang lebih tangguh pada ajang Piala AFC 2014 di Myanmar.

Selagi usia masih muda dan perjalanan karir masih panjang, ruang untuk perbaikan tentu saja sangat terbuka bagi mereka, tergantung bagaimana memanfaatkannya saja.

Blog Olahraga

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman