Pemain Bola Bukan Motor Bebek

“Kalau buruh-buruh di pabrik tempatku kerja dibegitukan, [pabrik] bisa diobrak-abrik."

Kalimat lugas itu saya dengar dari seorang kawan yang saya temui di sekretariat sebuah organisasi buruh di kawasan Manukan, Surabaya. Saat itu saya bertanya, apa yang akan dia lakukan andai dirinya pemain sepak bola yang gajinya ditunggak tanpa kejelasan kapan dilunasi. Saya ceritakan padanya soal kesepakatan antara PSSI, Menpora dan para pengelola liga ihwal pelunasan gaji para pemain sepak bola di ISL dan IPL dalam tempo selambat-lambatnya 24 bulan.

Dan begitulah salah satu jawaban yang saya dengar. Saya tidak mengada-ada saat melempar "umpan" ke kawan buruh yang saya temui itu. Kebetulan banyak dari mereka ini memang para bonek (julukan bagi suporter Persebaya Surabaya). Mereka sedikit banyak mengikuti perkembangan sepak bola di Indonesia sehingga punya pemahaman cukup memadai. 

Bagi mereka yang terbiasa mengepalkan jari saat haknya dirugikan, seperti para buruh itu, skema pelunasan gaji dalam tempo 24 bulan bukan hal yang mudah diterima. Sebagai aktivis serikat buruh, mudah bagi mereka untuk menganggap skema itu mengada-ada. Terlebih skema 24 bulan pelunasan gaji itu muncul terkait tunggakan musim lalu (2012), sementara di musim berjalan ini (2013) ternyata persoalan kontrak dan gaji ternyata lagi-lagi muncul. Masih ada pemain yang belum menandatangani kontrak, sedangkan beberapa yang sudah dikontrak ternyata gajinya mulai ditunggak.

Maka skema pelunasan tunggakan dalam tempo selambatnya 24 bulan itu rasanya seperti sebuah akal-akalan. Sederhananya begini: pelunasan gaji musim 2012 akan diselesaikan paling lambat 24 bulan. Lalu bagaimana kalau musim 2013 juga ternyata bermasalah? Akan dilunasi 24 bulan berikutnya lagi?

Lalu bagaimana bila musim 2014 lagi-lagi muncul masalah tunggakan gaji? Dilunasi 24 bulan dari 2014 selesai?

Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI), yang dalam setahun terakhir ini gigih memperjuangkan hak-hak pemain, menolak skema ini. Mereka juga menolak skema lainnya yang berupa terminasi pelunasan gaji dua bulan plus 20 persen dari nilai satu bulan gaji. Sudah betul APPI menolak dua tawaran skema itu. Persoalannya: lantas apa lagi? Sekadar menolak?

Memikirkan persoalan tersebut saat berada di sebuah sekretariat gerakan buruh menghadirkan kontras tersendiri. Di tengah selebaran dan surat edaran dari pengurus pusat konfederasi buruh mengenai persiapan May Day 2013 yang berserakan di lantai, di bawah tatapan tajam Marsinah yang wajahnya tergambar di sebuah poster yang terpacak di dinding, saya teringat Diego Mendieta — pemain asing yang tewas mengenaskan dalam situasi terkatung-katung menunggu kepastian pelunasan gajinya.

Tetapi bahkan kematian tragis Diego Mendieta tak meninggalkan jejak berarti dalam kesadaran para pemain sepak bola di Indonesia. Dalam setiap pembahasan dengan PSSI, pengelola liga sampai Menpora, para pemain sepak bola yang diwakili oleh APPI ini selalu kalah negosiasi. 

Dan kontras itu terlalu telanjang. Betapa jauh tertinggal dan terbelakangnya kesadaran politik para pemain sepak bola Indonesia ini, dibanding para buruh yang notabene suporter mereka. Bila kawan-kawan buruh punya markas berupa rumah sederhana dengan tempat tidur berupa tikar tipis, para pemain sepak bola di Indonesia bisa dikatakan sama sekali tak sanggup mengorganisir diri.

Para pemain sepak bola tak pernah berhasil membuat terobosan berarti terkait perjuangan mereka dalam menuntut hak. Tidak pernah terjadi gerakan mogok yang berskala masif, seperti mogok buruh. Hanya ada satu-dua kasus para pemain menolak bermain. Gerakan yang pernah mencuat paling-paling aksi mengenakan kaos "deritamu deritaku juga" di musim lalu berikut aksi diam selama satu menit setelah kick-off. Tentu itu masih jauh dari level mengganggu jalannya kompetisi.

Ada satu-dua kasus di mana pemain mogok bermain, seperti yang ditunjukkan sebagian besar pemain PSPS Pekanbaru yang memaksa kesebelasan tersebut harus melewati tur Papua hanya dengan 11 pemain (tanpa pemain cadangan). Cerita memalukan Persibo Bojonegoro di AFC Cup adalah imbas dari kegagalan para pemain menyikapi persoalan hak mereka secara terorganisir.

Suara keras Bambang Pamungkas seperti teriakan di gurun pasir. Pernyataan-pernyataan keras APPI di media massa tak mampu dijadikan posisi tawar yang bisa mengubah arah negosiasi. Perlawanan masih digelar sporadis. Sepukul dua pukul saja. 

Saya bertanya dalam bahasa Jawa: “Yo opo, cak, yen bayaranmu dicicil dua tahun?”

Sambil geleng-geleng kepala, kawan buruh itu menjawab: “Emange aku motor bebek, dicicil 24 kali?”


BACA JUGA:


Mencari Jejak Prestasi Timnas Indonesia


Pelatih Pertama yang Menggunakan Komputer untuk Melatih


Tetap Tajam Meski Sudah Tua


Sepak Bola Indonesia Kurang Sabar


Suporter yang Selalu Pakai Helm di Stadion


Pemain-pemain Terbaik Indonesia Sudah Kuno



Pemain-pemain dengan Gaji Besar (klik panah kanan kiri untuk melihat foto):

Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo saat El Clasico. (Getty Images/David Ramos)
1 / 21
Getty Images
Rab, 19 Des 2012 18:00 WIB


Lihat Pelatih-pelatih Kaya (klik panah kanan kiri untuk melihat foto):

Roberto Mancini mendapat 5,9 juta Euro (Rp74,1 miliar) dari Manchester City.
1 / 15
Getty Images
Rab, 9 Jan 2013 21:00 WIB

Blog Olahraga

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman