Mengalahkan Barcelona Tak Mesti Bertahan

Iniesta dikepung pemain Milan (Getty Images/Claudio Villa)


Ditulis oleh: Aditya Nugroho


Sebelum menang atas Barcelona dan mengejutkan dunia akan kehebatan mereka, Milan telah tampil memukau di kompetisi domestik. Hanya sekali menderita kekalahan dari 13 laga terakhir di Serie A bukanlah pencapaian sembarangan karena dengan modal itu mereka kini menduduki posisi tiga.

Beberapa bulan sebelumnya, tidak ada yang berani bertaruh Milan akan berada di posisi zona Liga Champions ini. Krisis finansial memaksa mereka menjual pemain bintang dan melepas pemain senior.

Penampilan Kevin-Prince Boateng dan Antonio Nocerino juga menurun drastis ketimbang musim lalu saat mereka sering menjadi katalis tim. Hilangnya sosok Zlatan Ibrahimovic di lini depan amat berpengaruh. Kemampuan Ibra menahan bola dan membuka ruang membuat Boateng dan Nocerino sering mendapatkan peluang menembak yang bagus, sesuatu yang tidak mereka dapatkan setelah Ibra hengkang.

Kekalahan demi kekalahan tidak membuat mereka makin terpuruk. Justru, Milan seperti belajar perlahan dari pertandingan satu ke pertandingan lainnya. Hasilnya memang tidak instan dan hal ini turut memanaskan kursi pelatih Max Allegri. Presiden klub Silvio Berlusconi secara terang-terangan menginginkan pelatih lain seperti Pep Guardiola, Frank Rijkaard ataupun Marco Van Basten untuk menangani Milan. 

Namun Allegri pelan-pelan mampu membawa Milan keluar dari krisis. Setelah mencoba-coba berbagai taktik, Allegri akhirnya mantap dengan pola 4-3-3. Posisi bek kiri yang sebelumnya menjadi titik lemah mampu diatasi dengan menempatkan Kevin Constant disana. Sorotan yang juga kencang di posisi bek tengah juga perlahan ditambal Allegri dengan memantapkan duet Philippe Mexes-Cristian Zapata.

Kini, Milan bukan sekadar tim dengan penyerangan tajam, namun pertahanan mereka juga pelan-pelan solid. Sementara itu, lini tengah yang dikomandoi Montolivo juga memainkan peran sebagai distributor bola sekaligus filter pertama dalam pertahanan. 

Milan menjaga momentum bagus ini dengan mendatangkan Mario Balotelli dari Manchester City. Kedatangan Balotelli tidak hanya membantu penjualan kaus saja, namun sejauh ini membantu Milan dalam ketajaman, dilihat dari kontribusi 4 gol dari 3 laga pertamanya berseragam merah hitam. Kehadiran Super Mario juga menghilangkan ketergantungan Milan yang terlalu besar pada El Shaarawy dalam mencetak gol.

Mengalahkan Tim Terbaik


Momentum positif Milan mendapatkan ujian sesungguhnya dari Barcelona, yang banyak dianggap sebagai tim terbaik dunia. Tifosi Milan yang paling optimistis pun tidak berani menjagokan timnya akan mampu mengalahkan tim ini.

Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Milan membuat laga tidak semudah membalik telapak tangan bagi Barcelona. Akhirnya Barca menyerah dua gol tanpa balas atas tuan rumah. Hal ini menandai kemenangan pertama Milan di San Siro dalam ajang Liga Champions musim ini.

Barcelona menurunkan tim terbaik, Xavi yang sebelumnya absen di tiga laga terakhir Blaugrana tampil menemani Cesc Fabregas dan Sergio Busquets di mesin permainan. Sementara trio Andres Iniesta-Pedro-Lionel Messi memimpin penyerangan. Dengan komposisi ini, tidak ada yang menyangsikan kemampuan mereka.

Milan memainkan formasi yang identik dengan Barcelona yaitu 4-3-3. Mereka tampil sangat disiplin dan mampu menutup segala ruang dalam lapangan. Terlihat sekali mereka sangat fokus baik secara fisik, taktik maupun mental untuk menghadapi partai besar ini. Milan tidaklah memainkan strategi memarkir bus. 

Mereka menekan, tidak hanya menunggu lawan di kotak penalti. 

Fakta menunjukkan, Milan melakukan percobaan menembak delapan kali dan tiga di antaranya tepat sasaran. Sementara Barcelona tercatat hanya melakukan tujuh tembakan dan hanya satu melalui Xavi Hernandez yang tepat sasaran. Milan tidaklah bertahan total, namun mereka meladeni Barcelona dengan cerdik.

Penguasaan bola mutlak yang dimiliki Barcelona tidak lantas membuat mereka mampu menciptakan banyak peluang. Istimewanya permainan lini tengah dan belakang Milan membuat penguasaan bola itu tidak berbahaya.

Pujian pantas diberikan atas solidnya kinerja lini tengah Rossoneri. Massimo Ambrosini tampil luar biasa menemani Riccardo Montolivo dan Sulley Muntari di lini vital ini. Sang kapten yang usianya sudah 35 tahun itu tampil tak kenal lelah seperti usianya 10 tahun lebih muda. Sepanjang pertandingan ia mampu menghalau sembilan kali, terbanyak di antara pemain-pemain Milan.

Kinerja lini tengah Milan pula yang semalam mampu membatasi peran Lionel Messi hingga sang bintang seperti terisolasi. Dengan terisolasinya La Pulga, lini pertahanan Milan amat terbantu karena ancaman menjadi berkurang.

Kecemerlangan performa pertahanan diimbangi dengan ketajaman serangan. Dua gol yang tercipta melalui Kevin-Prince Boateng dan Sulley Muntari menunjukkan betapa efektifnya serangan-serangan pasukan Max Allegri. Meski gol pertama mereka bisa diperdebatkan, namun secara umum tidak mengubah fakta bahwa Milan tampil lebih baik ketimbang Barcelona.

Milan mengikuti jejak Glasgow Celtic, Chelsea, Inter Milan ataupun Rubin Kazan yang pernah mengalahkan Barcelona di ajang Liga Champions dalam tiga tahun belakangan. Namun tanpa mengurangi rasa hormat kepada mereka, ada yang berbeda dari kemenangan Milan ini. 

Milan menang sebagaimana tim yang memang layak menang. Milan menang tanpa memainkan strategi bertahan. Milan menang karena mereka unggul mutlak dari sisi taktik, kedisiplinan, efektivitas, dan penampilan bagus seluruh pemainnya.

Sebuah kemenangan yang sangat pantas.

Kemenangan ini tentu membawa Milan pada optimisme, sekaligus meninggalkan tugas berat bagi Barcelona untuk mengalahkan Milan dengan margin tiga gol di Camp Nou nanti. Namun perjuangan Milan jelas masih belum usai. Dengan hasil ini, Barcelona akan tampil bak singa terluka di kandang mereka sendiri. Laga di Camp Nou akan menjadi pertandingan penuh teror bagi Milan.


AC Milan Perkasa:


Pencetak gol kemenangan Milan, Boateng dan Muntari. (Photo by Claudio Villa/Getty Images)

Blog Olahraga

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman