Kisah Indra Sjafri Mencari dan Merekrut Pemain untuk Timnas U-19

Pelatih Indra Sjafri (kedua dari kanan/kaus biru tua). (ANTARA/M Risyal Hidayat)

Ditulis oleh: Sirajudin Hasbi


Seperti biasa setiap timnas kelompok umur sedang berkompetisi dan mendapat sorot media, semua berujar “kita memiliki timnas yang menjanjikan di masa depan”. Begitu pula yang diperoleh oleh timnas U-19 asuhan Indra Sjafri. Terlebih dalam pertandingan pertama Piala AFF U-19, Indonesia menang besar, 5-0 atas Brunei Darussalam di stadion Delta Sidoarjo.

Secara kualitas sebenarnya tidak ada yang istimewa di tim ini. Punya kualitas yang tidak jauh beda dengan timnas kelompok umur lainnya. Maklum saja, kita belum melakukan pembenahan pembinaan usia muda yang menyeluruh. Kalau ada pemain yang menonjol seperti Evan Dimas, selain sudah biasa ada pemain yang menonjol dalam sebuah tim, juga lantaran Evan Dimas ini pernah mengenyam pendidikan di akademi Barcelona dalam program The Chance beberapa waktu lalu.

Sederhananya, timnas yang sekarang ini ada di berbagai tingkatan usia belum benar-benar menjanjikan sampai kemudian PSSI secara sadar dan sungguh-sungguh membentuk rencana jangka panjang pembinaan usia muda. Satu nilai positif dari timnas U-19 ini adalah di tengah pembinaan dan rekrutmen pemain PSSI yang tidak jelas, sang pelatih, Indra Sjafri melakukan gebrakan dan bisa menjadi harapan banyak orang.

Mencari Pemain Hingga ke Pelosok Nusantara

Apa yang dilakukan oleh Indra Sjafri sebenarnya sederhana saja, tetapi butuh kesungguhan dan kegigihan luar biasa. Pria yang semasa masih berkiprah sebagai pemain bermain untuk PSP Padang ini bersedia mengunjungi berbagai daerah di Indonesia “hanya” untuk melihat bibit muda secara langsung.

Indra Sjafri menilai selama ini pemandu bakat dari PSSI tidak terjun sampai ke daerah-daerah kecil sehingga bakat terpendam tidak semuanya terpantau. Oleh karenanya, dia memutuskan untuk berkeliling nusantara guna secara langsung memantau pemain-pemain muda. Indra Sjafri yakin, di negeri yang begitu besar ini, bakat bermain sepak bola yang hebat mungkin saja bisa ditemukan di daerah pelosok. Dan bangsa yang besar tentunya tidak memerlukan kebijakan naturalisasi pemain guna memperkuat timnasnya.

Program berkeliling nusantara pun disusun. Indra Sjafri ingin menyiapkan sendiri tim yang akan diasuhnya. Tidak seperti ketika dia menangani tim di Piala AFC 2010 saat dia langsung diberi tanggung jawab meracik tim yang pemainnya sudah ada alias tidak dia pilih sendiri. Timnas pun ketika itu gagal.

Selain itu, Indra Sjafri ingin memberi harapan ke berbagai daerah bahwa di manapun pemain berbakat berada bisa punya kesempatan bermain untuk timnas. Dia pernah punya pengalaman pribadi yang tidak mengenakkan ketika masuk tim pra PON Sumatera Barat di tahun 1985, menurutnya tidak ada pemandu bakat dari PSSI yang bersedia turun ke daerah sehingga banyak pemain yang menurutnya bagus secara kualitas tidak terpantau. Alhasil, kesempatan bermain untuk timnas pun hilang.

Indra Sjafri pernah mencari pemain hingga ke Muara Teweh. Kota kecil yang menjadi ibukota kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Untuk mencapai kota ini sangat sulit dan butuh perjalanan panjang. Dari Jakarta menempuh perjalanan udara ke Banjarmasin. Dari Banjarmasin masih perlu waktu sekitar 10 jam perjalanan darat.

Di suatu waktu dia juga bisa mencari pemain hingga ke Nusa Tenggara Timur. Yabes Malavani, anggota timnas U-19 merupakan putra Alor. Sebelumnya bahkan ada tiga putra Alor tapi yang dua gagal bersaing untuk memperebutkan tempat di timnas. Jarang sekali bukan kita punya pemain timnas yang berasal dari Nusa Tenggara Timur.

Sejauh ini setidaknya sudah 43 daerah yang dikunjungi oleh Indra Sjafri sejak dirinya ditunjuk sebagai pelatih timnas pada tahun 2011 oleh PSSI.

Untuk melakukan perjalanan ke berbagai daerah tersebut tentu menguras dana dan waktu yang tidak sedikit. Semenjak menangani timnas, Indra Sjafri mulai kesulitan memiliki waktu untuk keluarga. Dia juga kerap harus mengeluarkan uang dari kantong pribadi jika uang dari PSSI belum turun. Perjuangan yang tidak mudah untuk Indra Sjafri.

Tidak Sekadar Mencari Pemain

Safari yang dilakukan oleh Indra Sjafri ke berbagai daerah tidak sekadar bermanfaat untuk mencari pemain terbaik yang tersebar di nusantara. Ada hal lain yang terbit berkat kegigihannya berjalan ke tempat-tempat yang jauh.

Indra Sjafri mampu membangkitkan gairah sepak bola di berbagai daerah. Mungkin sudah menjadi kesepakatan bersama bahwa Indonesia itu negerinya pecinta sepak bola. Tetapi, tidak dengan pembinaan yang benar.

Kehadiran Indra Sjafri ke berbagai daerah itu tidak hanya disambut meriah oleh warga yang memang tidak biasa didatangi pelatih timnas. Lebih dari itu, Indra Sjafri membuat terobosan dengan menyamakan persepsi pembinaan pemain muda. Di Muara Teweh, kini mulai berdiri sekolah sepak bola (SSB) setelah Indra Sjafri berkunjung ke sana.

Kebetulan Indra Sjafri sebelum menjadi pelatih timnas, sejak 2007 termasuk salah satu instruktur kepelatihan PSSI. Jadi, sudah tepat jika dia ikut menyebarkan ilmu melatih sepak bolanya. Dengan menyamakan persepsi pembinaan diharapkan pembinaan sepak bola di berbagai daerah semakin baik dengan kualitas yang sama di setiap daerahnya.

Pelatih yang pernah membawa Indonesia menjuarai The HKFA (Hongkong Football Association) International Youth Tournament U-17 dan The HKFA U-19 ini memang belum terbukti bisa memberi gelar Piala AFF bagi timnas U-19. Tetapi, apa yang telah dia lakukan telah membentuk fondasi baru yang bermanfaat bagi pembinaan usia muda di Indonesia yang selama ini sering terabaikan.

Juga untuk meminimalkan atau bahkan menghilangkan praktek kotor dalam rekrutmen pemain untuk timnas, seperti pemain titipan dan adanya sikap suka atau tidak suka dalam memilih pemain. Semua warga negara Indonesia yang memiliki kemampuan punya hak yang sama untuk membela tim nasional. 

Melihat manfaat dari safari yang dilakukan oleh Indra Sjafri ini, tidak ada salahnya pelatih timnas lainnya melakukan hal yang serupa. Ini tidak hanya bertujuan untuk mencari pemain. Lebih dari itu, sepak bola Indonesia akan semakin bergairah dan pembinaan pemain muda di berbagai daerah bisa benar. Ini tentu akan membawa manfaat jangka panjang bagi Indonesia.

Blog Olahraga

  • Bukan Semata Salah Moyes

    “I’d like to remind you that we’ve had bad times here. The club stood by me. All my staff stood by me. The players stood by me. So now your job is to stand by our new manager. That is important,” … Lainnya »

    Arena - 43 menit yang lalu
  • Jelang Real Madrid vs Bayern Muenchen: Duel Dua Pelatih Juara

    Real Madrid bernafsu untuk menggenapi gelar juara Liga Champions mereka menjadi 10, yang kemudian akrab disebut La Decima. Sementara Bayern Muenchen ingin menjadi tim pertama yang memenangkan trofi … Lainnya »

    Arena - 1 jam 42 menit lalu
  • Misi Menang dan Tidak Kebobolan Atletico Madrid

    Liga Champions sudah memasuki babak semi final. Di sini anda tidak hanya mempersiapkan taktik dan strategi tetapi juga bagaimana membangun mental skuat agar tidak mudah didekte oleh lawan. Kesalahan … Lainnya »

    Arena - Sel, 22 Apr 2014 16:27 WIB

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman