Juventus yang Kehilangan Kendali

Conte saat protes ke wasit usai Juventus bermain 1-1 melawan Genoa pada 26 Januari 2013 lalu. (Getty Images/Valerio …


















Oleh:
Yoga Cholandha (Football Fandom)

Pertandingan Sabtu (26/1/2013) di Turin itu sudah masuk masa perpanjangan waktu babak kedua. Papan skor menunjukkan 1-1 untuk kedua tim yang bertanding; Juventus dan Genoa. Juventus benar-benar perlu tiga poin untuk menjauhkan diri dari Lazio (yang satu jam sebelumnya kalah dari Chievo 0-1).

Selain itu, Juventus juga sedang ingin lari dari kejaran Napoli yang terus menempel sejak hukuman dua poin mereka dihapuskan. Juventus sudah kehilangan lima poin akibat hasil inkonsistensi di tiga pekan sebelumnya.

Di tengah situasi genting, Juventus melancarkan satu serangan terakhir dari sisi kiri pertahanan Genoa. Stephan Lichtsteiner melepas satu umpan silang rendah — yang dihalau Andreas Granqvist dengan menjatuhkan diri. Namun bola justru mengenai tangan bek asal Swedia tersebut. Para pemain Juventus mengangkat tangan sebagai tanda telah terjadi handball.

Wasit Marco Guida bergeming. Rekomendasi dari dua asistennya dianggap angin lalu. Guida tetap tidak menghadiahkan penalti buat Juventus. Protes pun meledak. Dua pemain Juventus, Mirko Vucinic dan Stephan Lichtsteiner berteriak keras di muka Guida — dan diganjar dua kartu kuning seketika. Tak lama kemudian, peluit panjang tanda pertandingan berakhir pun bertiup.

Juventus tidak terima harus berbagi angka dengan Genoa. Pelatih Juventus Antonio Conte marah besar. Seusai pertandingan, Conte yang sepanjang pertandingan memang sudah terlihat frustrasi, kemudian melepaskan amarah. Seperti kedua anak asuhnya, dia pun berteriak keras di muka Guida.

Tidak berhenti sampai di situ. Dalam konferensi pers, Conte kembali mengkritik keras Guida. Dia bilang, orang buta saja bisa tahu kalau handball Granqvist layak diganjar penalti. Guida, katanya, tidak layak menjadi wasit dan seharusnya dipecat federasi. Tidak hanya itu, Direktur Umum Juventus, Giuseppe Marotta juga turut memperkeruh suasana dengan mengatakan bahwa Guida adalah orang Napoli dan merasa tertekan ketika harus memberi Juventus keuntungan.

Apa benar wasit Marco Guida adalah satu-satunya pihak yang bersalah atas kegagalan Juventus ini?

Bisa jadi, tetapi kesalahan tidak sepenuhnya milik Guida. Kesalahan sesungguhnya ada pada Juventus sendiri. Mereka terus-menerus lemah dalam beberapa pertandingan terakhir. Kelemahan pertama, kegagalan mereka mencetak lebih banyak gol.

Statistik di situs Whoscored menunjukkan, rasio konversi gol Juventus musim ini cukup buruk, hanya 10,4%, atau yang kesembilan di Serie A. Padahal jumlah tendangan mereka adalah yang tertinggi di Serie A dengan rata-rata 20 tendangan per pertandingan. Rata-rata jumlah tendangan ke gawang mereka pun tercatat sebagai yang terbaik dengan 7,5 tendangan per pertandingan.

Yang kedua, mereka gagal mempertahankan keunggulan, terutama keunggulan satu gol. Dimulai dari kekalahan mereka atas Sampdoria, Juventus sering gagal mempertahankan keunggulan apabila mereka hanya mampu mencetak satu gol. Hasil imbang melawan Parma dan Genoa di liga serta Lazio di Coppa Italia menunjukkan adanya sebuah permasalahan serius. Lima gol yang bersarang di gawang Juventus semuanya berasal dari serangan balik di sisi kiri pertahanan. Absennya Giorgio Chiellini dan Kwadwo Asamoah ternyata memiliki dampak yang cukup serius.

Juventus sedang kehilangan kendali untuk menentukan nasibnya sendiri. Patron Juventus di abad ke-20, Gianni Agnelli menjelang wafat pernah berkata, “Jangan pernah menceritakan sakitmu ke orang lain. Tidak ada yang dapat membantumu.”

Juventus sepertinya sedang lupa dengan wasiat L’Avvocato. Juventus lupa, kemenangan tidak pernah berasal dari kebaikan hati atau kelalaian wasit. Jika memang sesekali wasit menguntungkan atau merugikan Juventus, hal itu tentunya tidak pernah masuk hitungan. Kemenangan akan diraih ketika suatu tim mampu mencetak gol lebih banyak dari lawannya dan Juventus gagal mematuhi teorema sederhana ini (kecuali saat menang melawan Udinese 4-0).

Pelatih Antonio Conte ada baiknya mengulangi lagi eksperimen dari satu formasi ke formasi lainnya. Ketika 4-2-4 nya gagal, ia berpindah ke 4-3-3. Lalu, ketika 4-3-3 nya juga tak kunjung memberi stabilitas, ia bereksperimen dengan 3-5-2 dan berhasil. Formasi 3-5-2 Juventus ini kemudian menjadi zona nyaman dan jelas sudah dipelajari oleh lawan-lawan mereka di Serie A.

Dalam pertandingan-pertandingan di mana Juventus kalah (kecuali saat melawan Internazionale dan Fiorentina), taktik yang digunakan lawan hampir serupa: tunggu di belakang, kemudian serang saat Juventus lengah akibat terlalu asyik menyerang. Ini karena pola 3-5-2 Juventus selalu memungkinkan mereka memainkan bola di daerah pertahanan lawan.

Dalam suasana peringatan satu dekade wafatnya Gianni Agnelli ini, rasanya Juventus perlu menghayati wasiat sang patron untuk bisa kembali mendominasi Serie A musim ini. Perbaikan internal mutlak dibutuhkan untuk kembali ke trek juara yang benar. Juventus perlu memperbaiki diri.

Yang mampu menentukan nasib Juventus adalah Juventus sendiri. Bukan klub lain, apalagi wasit.


Getty Images/Laurence Griffiths
1 / 3
Sen, 25 Jun 2012 07:00 WIB

Blog Olahraga

  • Tim Terbaik Piala Dunia: Spanyol 2010

    Spanyol meraih gelar juara Piala Dunia pertamanya di Afrika Selatan. Mereka negara kedelapan yang memenangi trofi paling bergengsi di dunia ini. Difavoritkan menjadi juara lantaran menyandang status … Lainnya »

    Arena - 12 jam yang lalu
  • Evaluasi Tur Timur Tengah Timnas U-19

    “Kami melihat secara umum para pemain mengalami peningkatan kualitas. Dan ada beberapa pemain yang sangat berkembang di tur ini,” tutur Indra Sjafri … Lainnya »

    Arena - 13 jam yang lalu
  • Bukan Semata Salah Moyes

    “I’d like to remind you that we’ve had bad times here. The club stood by me. All my staff stood by me. The players stood by me. So now your job is to stand by our new manager. That is important,” … Lainnya »

    Arena - 14 jam yang lalu

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman