Curhat Roy Suryo Soal Jabatan Menpora

ANTARA/Mohammad Ayudha

Roy Suryo sadar betul dirinya diangkat menjadi menteri bukan karena faktor keahlian, melainkan kedekatannya dengan Presiden SBY. Itulah mengapa, katanya, sejak hari pertama dia menempati posisi Menteri Pemuda dan Olahraga, dia berusaha sebanyak dan secepat mungkin mendengar aspirasi dari berbagai pihak. Salah satunya, dari media.

Ketika berkunjung ke kantor Yahoo! Indonesia pada Selasa (5/3) lalu, Roy bercerita lumayan panjang mengenai pengangkatannya sebagai menteri. Dia mengaku sudah menolak jabatan itu, tetapi Presiden bersikeras. Roy ditemani sang istri Ismarindayani Priyanti, serta Heru Nugroho (salah seorang staf khususnya). Mereka beberapa kali membantu Roy menjawab pertanyaan.

Lalu apa langkah dan strategi dalam merajut perdamaian antara PSSI-KPSI? Bagaimana dengan penerapan sains olahraga di Indonesia? Apa cara Roy meningkatkan kesejahteraan atlet? Benarkah Roy ingin ikut Reli Dakar?

Berikut ini petikan wawancara Roy Suryo oleh Dodi Ibnu Rusydi, Fajar Anugrah Putra, Ikram Putra dan Jonathan Rian.

Yahoo! Indonesia (YI):
Anda tidak punya latar belakang dan pengetahuan olahraga. Hal apa yang pertama kali Anda lakukan saat diangkat sebagai Menpora?

Roy Suryo (RS): Langkah saya tidak ada yang baru. Saya tidak akan membuat yang baru, karena saya sadar waktu saya sebagai Menpora tidak lama. Makanya saya tanya sama yang dulu, apa saja yang harus dikerjakan.

Saya juga tidak lagi membiarkan atlet repot-repot datang ke Kemenpora. Saya datangi langsung mereka, jadi saya sangat tahu kebutuhan para atlet kita. Seperti atlet renang yang trampolinenya buatan tahun 1970-an — malah saat saya ke sana pernya sempat putus. Juga atlet panahan. Mereka kalau hujan nggak bisa latihan dan ketika latihan pun, mereka takut anak panah mengenai orang yang sedang main bola. Juga atlet dayung kita yang mengeluh minta tempat latihan yang anginnya tidak terlalu kuat di tengah danau.

Anggaran untuk kami juga kecil. Untuk 2013 ini sebesar Rp1,9 triliun. Tapi Rp1,1 triliun sudah pasti untuk pendidikan, karena dulu Kemenpora kan di bawah Kemendikbud, yaitu Dirjen Olahraga. Lalu masih ada sisa Rp550 miliar, yang Rp250 miliar habis untuk habis mengirim atlet ke SEA Games Myanmar dan Rp200 miliar untuk Islamic Solidarity Games. Jadi untuk pembinaan hanya Rp100 miliar. 

YI: Anda sempat mengatakan tidak akan mau ditunjuk sebagai Menpora, lalu mengapa jabatan itu tetap diambil?

RS: Saya memang menolak dengan halus. Saat itu saya mengatakan jangan berandai-berandai, jauh panggang dari api. Saya juga sudah tiga kali menolaknya secara halus lewat telepon, saya juga menolak kepada Presiden, tapi ditolak. Bapak Presiden mengatakan sudah menimbang dan mendengarkan dari banyak pihak.

YI: Untuk memperbaiki kesejahteraan atlet, apa yang akan Anda lakukan?

RS: Banyak atlet yang kehidupannya menyedihkan setelah pensiun karena tingkat pendidikan mereka tidak tinggi. Kalau latihan dibarengi dengan sekolah, tentu prestasinya tidak akan bagus. Tapi kalau fokus latihan, pasti sekolahnya terbengkalai. Kami sebenarnya punya kerjasama dengan Kementerian Dalam Negeri agar dinas-dinas di daerah mempriotaskan penerimaan PNS dari mantan atlet. Tapi yah itu, terbentur dengan tingkat pendidikan mereka.

Makanya saya mencoba mengadopsi teknologi kepada para atlet. Jadi para atlet bisa belajar dengan cara e-learning dan mengikuti ujian usai latihan tanpa perlu meninggalkan tempat latihan. Ini sedang kita sertifikasi metode e-learning dan mengatur cara mencegah para atlet tidak menggunakan joki saat ujian.

Saya juga baru saja meresmikan laboratorium antidoping pertama di Indonesia, ada di ITB. Kami Kemenpora baru menyumbang gedungnya, isinya memang belum. Tapi lab-lab seperti ini kalau ditempel di dekat kampus maka akan hidup. 

YI: PSSI dan KPSI akhirnya sepakat melakukan rekonsiliasi setelah Anda menengahi. Apakah karena pertemuan Anda dengan dua pengusaha, Arifin Panigoro dan Nirwan Bakrie, menjadi kuncinya?

RS: Kuncinya justru ada di situ, saya merasa saya adalah orang yang tidak dikenal di olahraga, makanya saya harus bertemu dua pengusaha itu. Saya tidak mengundang mereka, saya temui satu-satu. Kuncinya hanya satu, saya nggak menawarkan apa-apa karena saya nggak punya apa-apa. Saya hanya mengetuk ke-Indonesiaan mereka. Dan mereka tidak ada masalah.

Yang jelas kita ingin punya satu federasi, Saya perhatikan liga di sini, IPL itu yang sah tapi penontonnya tidak ramai, Tapi ISL penontonnya luar biasa semarak. Jadi de jure itu Pak Djohar dan de facto ada di Pak La Nyalla.

YI: Program-program Kemenpora setelah itu apa lagi?

RS: Karena kami sadar anggaran kami terbatas, kami harus bekerjasama dengan swasta. Kami mendukung langkah-langkah untuk memajukan olahraga nasional. Seperti ada yang mau membangun sirkut F1 di Nusa Dua Bali, kami dukung. Nanti saya juga berencana ikut Reli Dakar, yang dulu namanya Reli Paris-Dakar, kalau Presiden mengizinkan. 

YI: Reli Dakar kan berat Pak?

RS: Iyah memang betul. Tapi pasti nanti ada persiapannya. Saya memang beberapa kali pernah reli, meski bukan pereli nasional. Saya memang tidak asing dengan reli.

Video wawancara Yahoo! Indonesia dengan Roy Suryo:

Ketika Roy Suryo Menolak Permintaan SBYYahoo! Indonesia mewawancarai Menpora Roy Suryo secara eksklusif, Selasa 5 Maret 2013.


BACA JUGA:

Daftar Kontroversi Roy Suryo

Roy Suryo Tak Masalah Jika Diragukan

Kemenpora yang Tidak Dirasakan Fungsinya

Manfaat Sains Olahraga

Kalau Tentara Menjadi Atlet

Obat Warung yang Masuk Kategori Doping

Jika Atlet Kebanyakan Merokok dan Minum Miras

Blog Olahraga

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman