Belajar dari Kasus Irfan Bachdim

Irfan Bachdim (ANTARA/Prasetyo Utomo)


Nama Irfan Bachdim kembali hangat diperbincangkan. Bukan karena performa menawan di lapangan, tetapi persoalan yang sedang menimpanya terkait dengan di klub mana dia akan bermain.

Pihak Chonburi FC, klub sepak bola yang berlaga di Thailand Premier League dan pihak Irfan Bachdim sebenarnya sudah mengkonfirmasi bahwa keduanya telah sepakat menjalin kontrak untuk dua musim. Irfan dikontrak setelah bermain impresif saat pertandingan persahabatan melawan Suphanburi FC. Irfan dianggap memiliki fisik prima, skill bagus dan bisa bermain sama baiknya saat menyerang maupun bertahan sehingga pas dengan kebutuhan Chonburi FC. Irfan akan mulai petualangannya di luar Indonesia sejak mulai berkarir di Indonesia pada 2010.

Namun, proses kerjasama ini terhambat lantaran pihak Persema Malang, klub lama Irfan enggan mengeluarkan International Transfer Certificate (ITC). Tanpa itu, proses transfer Irfan menjadi belum bisa terlaksana.

Dalam pandangan CEO Persema Malang, Didied Poernawan Affandy, Irfan Bachdim tetap merupakan pemain Persema. Irfan dikontrak hingga 2014, jadi jika ada klub yang berminat memakai jasa Irfan harus berkomunikasi dengan pihak klub terlebih dahulu dan harus ada kesepakatan terkait dana transfer. Biaya transfer yang diinginkan oleh Persema berada di kisaran Rp2 miliar.

Sementara itu dari pihak Irfan maupun Chonburi menganggap bahwa kesepakatan cukup antara dua pihak ini dengan status bebas transfer. Status bebas transfer ini diklaim sudah melekat di diri Irfan karena menurutnya, dirinya sudah delapan bulan tidak menerima gaji dari Persema dan menurutnya hal itu sudah membuatnya berstatus bebas. Agen Irfan, Fardy Bachdim juga menegaskan di bulan Februari ini merupakan bulan kedelapan Irfan tidak menerima gaji dari Persema.

Pendapat pemain bernama lengkap Irfan Haarys Bachdim ini ada benarnya. Dalam aturan FIFPro disebutkan bahwa “The player has just cause to terminate the contract. The DRC has well established jurispundence in which is decided, that just cause at least can be assumpted if the player has not been paid for 3 months. Under special circumtances this also can be 2 months. Before the termination the club has to be put in default advisably in writing by registered mail.”

Artinya, Jika pemain yang tiga bulan tidak digaji oleh klub maka pemain bisa memutuskan kontraknya dan berstatus sebagai pemain bebas transfer.

Jadi, hingga kini kejelasan status Irfan masih belum bisa dikonfirmasi karena bagaimanapun ITC merupakan komponen penting dalam proses transfer yang melibatkan dua klub dan dua liga yang beda negara. Titus Bonai beberapa waktu lalu juga gagal bergabung dengan BEC Tero karena masalah ITC.

Irfan yang pernah bermain di HFC Haarlem dan SV Argon inipun kini sedang bergabung bersama timnas Indonesia untuk menghadapi penyisihan Pra-Piala Asia 2015 menghadapi Irak pertengahan Februari 2013 mendatang. Sementara urusannya kini ditangani oleh agennya, Fardy Bachdim yang bersiap mengadukan masalah ini ke FIFA dan FIFPro jika masih sulit dicapai kesepakatan dengan pihak Persema.

Dari kasus Irfan ini kita bisa belajar setidaknya dua hal. Pertama, pemain kelahiran Mijdrecht Belanda 24 tahun silam ini memiliki pengetahuan yang bagus mengenai hak nya sebagai pemain dan menata karir. Dia tahu haknya dilindungi oleh FIFPro dan dia pun berjuang untuk memperoleh haknya sebagai pemain.

Irfan bersama pemain Persema Malang lainnya sebelumnya ditawari pembayaran gaji 20% dari total tunggakan saja, tetapi Irfan tidak menerima dan tetap memperjuangkan hak nya secara penuh. Ketika kondisi masih tidak jelas, karena merasa sudah bebas transfer sesuai dengan regulasi pun dia mulai menata karirnya. Irfan memilih TPL karena disana kompetisi berlangsung kompetitif sehingga bisa mengembangkan karir dan meningkatkan skill nya sebagai pemain bola. Ini tentunya juga menjadi kabar bagus bagi timnas Garuda.

Kedua, Irfan pandai mengatur karirnya dan memiliki agen, Fardy Bachdim untuk mengurus keperluannya di luar teknik bermain bola. Dengan adanya agen, Irfan tidak harus mengurus semuanya sendirian sehingga tidak terlalu mengganggu fokusnya bermain sepak bola. Mayoritas pemain sepak bola Indonesia, tidak memiliki agen dan mengurus semua keperluan kontrak sendirian. Ketika ada masalah, pemain pun kesulitan menyelesaikannya dan seringkali menjadi pihak korban, seperti dalam kasus tunggakan gaji. Dengan adanya agen, Irfan pun bisa mencapai kesepakatan dengan berbagai sponsor.

Menarik untuk menunggu kelanjutan transfer Irfan Bachdim ini. Jika nantinya Irfan jadi bermain dengan Chonburi FC, maka Irfan akan menggenapi kuota pemain asing Chonburi FC yang sudah diiisi penyerang asal Nigeria Samuel Gbenga Ajayi dan Ivan Boskovic, penyerang asal Montenegro. Semoga karirmu bisa berkembang Irfan.


Saat Irfan Bachdim Berlatih di Gym:


Irfan Bachdim latihan angkat barbel untuk menguatkan lengan dan tubuh bagian atas.
1 / 7
Antara
Kam, 29 Nov 2012 16:00 WIB

Blog Olahraga

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman