• AFP/Yasuyoshi Chiba

    Oleh: Aditya Nugroho

    Tim nasional Brasil tahun 1994 adalah tim pemenang Piala Dunia. Namun anehnya mereka tidak memenangi hati publik seperti halnya generasi mereka satu dekade sebelumnya, yaitu tim nasional Brasil yang bermain di Piala Dunia 1982.

    Bagi publik Brasil, hanya menduduki posisi kedua dalam sebuah turnamen adalah kegagalan. Sebagai negara yang menganggap sepak bola seperti agama sekaligus negara pengoleksi trofi Piala Dunia terbanyak, memang tidak ada istilah nomor dua atau nomor tiga. Oleh karena itulah jika sebuah tim tetap dielu-elukan publik bahkan ketika mereka gagal memberi gelar juara, berarti mereka telah melakukan sesuatu yang istimewa.

    Tim nasional Brasil 1982 ini bermaterikan Waldir Peres di bawah mistar gawang, kuartet bek Leandro-Oscar-Luzinho-Junior, kuartet gelandang Cerezo-Falcao-Socrates-Zico dan duet penyerang Eder dan Serginho. Sepak bola memang permainan kolektif, namun dalam tim ini, kuartet gelandang merekalah yang menjadi jantung permainan sekaligus

    Selengkapnya »dari Tim Terbaik Piala Dunia: Brasil 1982
  • Antara/Akbar Nugroho Gumay

    Oleh Sirajudin Hasbi

    Senja mulai nampak di sebelah barat kota Yogyakarta. Di utara kota pendidikan ini, tepatnya di ring road utara dan sekitarnya, yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Sleman mulai nampak barisan sepeda motor yang ditumpangi oleh sekelompok besar anak muda berbaju serba hitam. Mereka ini merupakan suporter Perserikatan Sepak bola Sleman (PSS) yang tergabung dalam wadah kelompok Brigata Curva Sud (BCS).

    Jumlah mereka semakin tampak banyak memasuki jalan masuk ke stadion Maguwoharjo. Tak hanya didominasi warna hitam, rekan-rekan Slemania yang mayoritas berbaju hijau juga mulai memadati areal stadion yang mulai diresmikan tahun 2007 lalu ini. Kedua kelompok suporter ini hadir untuk memberikan dukungan langsung pada klub kebanggaan mereka, PSS yang akan bertanding melawan Persenga Nganjuk.

    Pertandingan yang dimulai pukul 19:00 itu merupakan laga perdana Divisi Utama Liga Indonesia musim ini. Dalam pertandingan pertamanya, PSS mengalahkan Persenga dengan skor

    Selengkapnya »dari Ketika Liga Indonesia Bergairah Kembali
  • REUTERS/Vincent West

    Oleh: Aditya Nugroho

    Diego Maradona berusia 22 tahun kala Barcelona merekrutnya dari Boca Juniors tahun 1982. Uang senilai 5 juta pound dikeluarkan oleh Presiden Josep Luis Nunez saat itu untuk memboyong Si Anak Emas ke Camp Nou. Tentu saja Nunez mendatangkan Maradona, juga bersama pelatih Cesar Luis Menotti demi mengembalikan kejayaan Barca yang saat itu tengah puasa gelar Liga Spanyol nyaris 10 tahun. Musim pertama, Maradona masih gagal mewujudkan ambisi sang presiden karena titel juara terbang ke wilayah Basque tempat klub Athletic Bilbao bermarkas.

    Pada musim keduanya, tepat 31 tahun lalu, Maradona berambisi besar merebut titel juara dari kubu San Mames. Perang urat syaraf pun kerap terjadi hingga ke jajaran pelatih dua kubu. Awalnya Menotti kerap mengeluarkan kritikan terhadap permainan keras menjurus kasar yang dipertontonkan Bilbao. Mendengar hal itu, pelatih Bilbao saat itu, Javier Clemente, tidak tinggal diam. Ia balas mengkritik kehidupan pribadi Menoti, alih-alih urusan

    Selengkapnya »dari Jelang Barcelona vs Athletic Bilbao: Rivalitas yang (Dulu) Membara
  • Brasil vs Uni Soviet di Piala Dunia 1958. (AFP)

    Oleh: Aditya Nugroho

    Tahun 1960-an dalam dunia sepak bola dapat dikatakan sebagai peralihan tim terkuat dunia dari Hongaria ke Brasil. Ketika revolusi Hongaria pecah tahun 1956, pengaruhnya tehadap sepak bola cukup besar, di antaranya menyebabkan eksodus pemain-pemain tim nasional mereka, termasuk andalan utama Ferenc Puskas ke Spanyol. Prestasi The Mighty Magyars pun menurun drastis setelah itu.

    Penguasa sepak bola pun beralih ke benua Amerika, yaitu Brasil. Akhir dekade 50-an, tepatnya pada Piala Dunia 1958 di Swedia menjadi saksi kelahiran negara raksasa sepak bola baru. Dimotori bintang muda Pele, Brasil memenangi Piala Dunia pertama mereka dengan mengalahkan tuan rumah Swedia. Gelar ini sekaligus menghapus duka tragedi Maracanazo, sebuah cerita kelam final Piala Dunia tahun 1950 di mana Brasil di depan 200 ribu pendukungnya di Stadion Maracana dipaksa menyerah oleh Uruguay.

    Tim yang mengandalkan poros Djalma Santos, Didi, Vava, Garrincha dan Pele ini kemudian mempertahankan gelar

    Selengkapnya »dari Tim Terbaik Piala Dunia: Uni Soviet 1962
  • Footyscene

    Oleh: Galih Satrio Pinandito


    Akademi La Masia milik Barcelona memang berhasil melahirkan seorang superstar yang berhasil meraih 3 kali Ballon d’Or berwujud Lionel Messi, namun jauh sebelum La Masia dikenal secara luas ada sebuah akademi yang lebih populer. Akademi ini tidak hanya melahirkan Patrick Kluivert, Dennis Bergkamp atau Marco van Basten namun karir sang maestro sepak bola legenda Barcelona dan Belanda, Johan Cruyff, pun dimulai di sebuah akademi milik Ajax Amsterdam bernama De Toekomst.


    Di Akademi De Toekomst yang berarti The Future atau masa depan, sepak bola mulai diajarkan sejak dini. Ada sekitar 200 anak berusia antara 8 hingga 19 tahun yang berlatih serta saling berkompetisi di dalamnya. Akademi ini mempunyai 50 pencari bakat di seantero Belanda dan 5 orang pencari bakat yang bertugas mencari bakat hingga ke luar Belanda. Pencari bakat ini percaya bahwa tidak ada istilah terlalu dini untuk memulai sepak bola bahkan mereka sudah bisa mengendus bakat anak sejak bocah

    Selengkapnya »dari Akademi Sepak Bola Ajax: Mencetak Pemain Masa Depan
  •  

    Oleh: Galih Satrio Pinandito


    Kesebelasan Hongaria 1954 yang terkenal akan kehebatannya ini mempunyai banyak julukan, di antaranya: The Golden Team, The Mighty Magyars, dan The Marvellous Magyars.

    Awal kisah mengenai kehebatan tim nasional negara tempat lahirnya penemu Rubik’s Cube ini dimulai pada tahun 1949 di saat Gusztav Sebes ditunjuk sebagai pelatih tim nasional Hongaria. Terinspirasi dari “Wunderteam” Austria yang sempat mengemuka pada awal tahun 1930-an, Sebes mempunyai keinginan untuk membentuk kerangka tim nasional yang punggawanya berasal dari satu atau dua klub saja. Berawal dari ide tersebut, maka pilihan Sebes jatuh ke klub terbesar Hongaria saat itu yakni Budapest Honved dan MTK Hongaria. Dari klub yang disebut terakhir ini, Sebes mengadopsi formasi 4-2-4 (acapkali berubah menjadi 2-3-5) yang konon menjadi cikal bakal Total Football yang idektik dengan timnas Belanda 1974.


    Tulang punggung Hongaria 1954
    Komponen utama dalam skema Gusztav Sebes jelas trio Ferenc Puskas,

    Selengkapnya »dari Tim terbaik Piala Dunia: Hongaria The Marvellous Magyars
  • Domenico Criscito (Zenit St Petersburg) - Kirill Kudryavtsev/EuroFootball/Getty Images)

    Oleh: Aditya Nugroho

    Liga Rusia mulai menggeliat dalam beberapa tahun terakhir seiring kedatangan para miliuner yang menjadi pemilik klub. Para pemilik klub ini menginvestasikan uangnya untuk mendatangkan bintang-bintang dunia ke negara mereka. Meski tidak selalu berdampak positif, namun setidaknya kedatangan bintang-bintang dunia ke Liga Rusia mampu meningkatkan reputasi kompetisi.

    Salah satu klub yang menikmati imbas dari kemajuan ini adalah Zenit. Klub yang bemarkas di kota St. Petersburg ini sejak tahun 2005 lalu disponsori oleh perusahaan gas besar, Gazprom. Sejak saat itu, mereka mampu mendatangkan berbagai pemain bintang seperti Domenico Criscito, Axel Witsel, Hulk, hingga Solomon Rondon. Berbagai prestasi pun mereka raih, dimulai dari juara Piala UEFA 2008 hingga 3 gelar juara liga Rusia tahun 2007, 2010 dan 2011-12.

    Kompetisi Liga Rusia musim ini telah memasuki tahap akhir, tepatnya tinggal menyisakan 5 laga. Sejauh ini, Zenit St. Petersburg memimpin klasemen dengan 53 poin.

    Selengkapnya »dari Mengamati 5 Pekan Terakhir Liga Rusia
  • Photo by Joe Scarnici/Getty Images

    Dalam beberapa waktu belakangan ini, permasalahan penggunaan simbol Olimpiade pada logo KONI menjadi sorotan media massa Indonesia. Mengapa  masalah yang sepertinya sepele itu sangat diributkan? Jika dilihat lebih jauh lagi permasalahan itu memang tidak sepele. Bahkan melalui masalah ini, setidaknya bisa tergambar mengapa para olahragawan Indonesia juga sulit meraih prestasi tertinggi.

    Logo lima ring dengan lima warna berbeda yang saling bertaut satu dengan lainnya memang sudah menjadi simbol Olimpiade. Simbol ini pertama kali didesain oleh Baron Pierre de Coubertin pada tahun 1912. Coubertin menyatakan lima warna pada setiap ring serta latar warna putih di belakangnya menjadi representasi negara peserta Olimpiade.

    Simbol yang kemudian disempurnakan artinya oleh International Olympic Committee (IOC) sebagai simbol persatuan lima wilayah (benua) di dunia sekaligus lambang pertemuan seluruh atlet dari segala penjuru dunia. Semangat yang sungguh luar biasa yang mungkin juga ingin digunakan

    Selengkapnya »dari Ini Bukan Sekadar Masalah Logo Olimpiade
  • REUTERS/Edgar Su

    Simon Santoso mengawali tahun 2014 dengan sedikit tekanan. Prasyarat yang diberikan pengurus Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia untuk membuatnya bertahan di Pelatnas Cipayung tampaknya menjadi alasan kuat Simon untuk mundur. Target yang diberikan sang pembina sulit dicapai. Simon pun memutuskan untuk hengkang.
     
    Setelah 12 tahun menjadi penghuni Pelatnas Cipayung, pebulutangkis berusia 28 tahun itu pun resmi mundur terhitung tanggal 17 Januari 2014 lalu. Saat itu, Simon ditargetkan masuk semi final di dua ajang pada awal tahun 2014, Korea Open Super Series dan Malaysia Open Super Series Premier. Setelah gagal memenuhi target itu, Simon tak lagi pikir panjang untuk memilih mundur.
     
    Prestasinya memang sulit berada dalam tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Masalah cedera atau kondisi kesehatannya menjadi kendala utama yang tampaknya memengaruhi performa Simon di setiap kejuaraan. Faktor mental juga sangat mungkin memengaruhi perkembangan prestasi Simon. Masa waktu 12 tahun

    Selengkapnya »dari Simon dan Jalan yang Terbentang di Depannya
  • Pele menghadapi 2 pemain Wales di Piala Dunia 1958

    Oleh Sirajudin Hasbi

    Indonesia pernah memiliki kesempatan emas untuk bisa berlaga di Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak negeri ini merdeka. Kesempatan itu terjadi pada kualifikasi Piala Dunia 1958 yang akan diselenggarakan di Swedia. Tetapi, kesempatan itu kemudian hilang lantaran kebijakan politik negeri ini di era kepemimpinan presiden Soekarno.

    Kala itu Indonesia yang masuk dalam zona Asia untuk kualifikasi Piala Dunia 1958 ini memiliki tim yang cukup disegani di Asia. Saat prakualifikasi, Indonesia melaju mulus setelah menang walk out (WO) atas Taiwan. Di babak selanjutnya, Indonesia bertemu dengan Cina.

    Setelah melalui tiga pertandingan dengan penuh kerja keras akhirnya Indonesia lolos. Pada pertandingan pertama 12 Mei 1957, Indonesia unggul 2-0. Pada pertandingan kedua, 2 Juni 1957, Cina berhasil membalas dengan kemenangan 4-3. Karena sama-sama menang akhirnya diadakan pertandingan ketiga (play-off) di mana kedua negara bermain imbang tanpa gol. dengan aturan menang selisih

    Selengkapnya »dari Berkat Indonesia, Wales ke Piala Dunia 1958

Penomoran Halaman

(50 Artikel)

Blog Olahraga

Yahoo Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman