Saatnya Mengandalkan Cabang Olahraga yang Lain

Oleh: Aditya


Kegagalan di Olimpiade London membuka mata Indonesia untuk tidak lagi meletakkan harapan penuh pada satu cabang, seperti bulutangkis. Masih banyak cabang lain yang layak diberi perhatian lebih.

Cabang bulutangkis sudah 20 tahun atau lima kali penyelenggaraan Olimpiade selalu mempersembahkan medali emas. Tapi kali ini hadiah yang diberikan adalah luka lantaran terlibat skandal ‘main sabun’ di ganda putri yang akhirnya harus menelan pil pahit: diskualifikasi atau terusir dari kompetisi.

Menpora Andi Alfian Mallarangeng, ikut menyadari kekeliruan bergantung pada satu cabang ini. “Ini memberi pelajaran kepada kita, ke depan tidak boleh lagi mengandalkan perolehan medali emas hanya pada satu cabang yaitu bulutangkis,” ujarnya.

Dia menyebut cabang olahraga lain yang layak diberikan tanggung jawab, di antaranya angkat besi dan panahan.  “Untuk menyongsong Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, lima cabang kita persiapkan dengan matang, dengan target mendapat emas,” ujarnya.

Lima cabang dimaksud adalah angkat besi, panahan, menembak, renang dan atletik. Selama ini cabang-cabang tersebut tidak menjadi fokus pemerintah, setidaknya seperti dirasakah oleh lifter Triyanto, peraih medali perask Olimpiade London.

“Saya merasa perhatian dari pemerintah kurang maksimal. Saya berharap olahraga yang lolos Olimpiade atau pun olahraga berpeluang menghasilkan prestasi, lebih diperhatikan lagi ke depannya,” ujar Triyanto.

Ian Situmorang, wartawan senior, juga berharap ada lima cabang olah raga unggulan yang seharusnya dibina dengan baik oleh pemerintah, dengan pembinaan berjangka tentunya. Sebab hingga saat ini masih jauh dari harapan. “Konsep sederhana saja tapi yang penting bagaimana implementasinya,” katanya.

Cabang olahraga yang diusulkan Ian, di antaranya beladiri, panahan, tinju, atletik. Cabang ini menurut dia, mampu mendongkrak prestasi Indonesia.

Sayangnya, Ian menceritakan, ada masalah klasik di hulu yang tak kunjung usai. Yakni, dana pembinaan sering tidak sampai kepada atlet-atlet yang berhak mendapatkannya. “Honor bulanan sampai tidak turun, padahal itu hak mereka. Honor itu memberikan spirit bagi atlet, kendati uang bukan merupakan segala-galanya,” ujarnya. Dia menambahkan, “Prasarana dan sarana juga sama pentingnya untuk diperhatikan."

Pemimpin redaksi tabloid Bola ini juga mengkritik suasana organisasi yang sangat tidak kondusif. Pada bulutangkis misalnya, ada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Kemenpora, serta Pengurus Besar (PB). “Jadi siapa yang harus bertanggung jawab?"

Karena itu dia tidak bisa menyalahkan atlet bulutangkis yang tidak mampu memberikan medali. Belum lagi kusutnya suasana di tempat pelatihan nasional atau pelatnas. “Di pelatnas lebih banyak orang yang tidak memiliki kepentingan. Terlalu banyak intervensi, sehingga suasana tidak lagi menyenangkan dan membuat tujuan dari pelatnas tidak lagi jelas,” tandasnya.




BACA JUGA:


Cabang Olahraga Penyumbang Medali Terbanyak di Olimpiade

Tips Sebelum Menjadi Atlet Triathlon

Mencari Kebahagiaan dengan Menjadi Atlet Triathlon

Perusahaan-perusahaan Asia di Liga Eropa

Serunya Lomba MetaMan 2012

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Yahoo! Indonesia di Facebook

Jajak Pendapat

Menurut Anda, berapa lama laga final Liga Champions pada 26 Mei 2013 dinihari waktu Indonesia?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat