Spanyol Punya Pekerjaan Rumah *)

TEMPO.CO, Kalah dan menang lumrah dalam sepak bola. Yang menjadi persoalan adalah kalah seperti apa dan menang dengan cara bagaimana. Portugal memberi kita contoh tentang kekalahan yang baik.

Pasukan Seleccao--julukan Portugal--memberi perlawanan maksimal saat menghadapi Spanyol di partai semifinal Piala Eropa, Kamis dinihari lalu. Mereka tampil habis-habisan dengan terus menekan dan memaksa para pemain Spanyol bertahan.

Bahkan, pada 30 menit terakhir pertandingan, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan berulang kali mengobrak-abrik lini belakang Spanyol. Mereka juga sempat mendikte permainan. Memaksa tim sekelas Spanyol bermain imbang hingga perpanjangan waktu jelas bukan hal yang mudah.

Memang pada akhirnya Portugal kalah lewat adu penalti dengan skor 2-4. Menurut saya, ini hanya karena persoalan mental. Spanyol sebagai juara dunia dan Piala Eropa tentu memiliki mental yang lebih tebal dibanding para pemain Portugal. Apalagi algojo Portugal tanpa Ronaldo.

Dari segi teknis permainan, Portugal tak kalah. Kekurangan mereka hanya ketiadaan playmaker yang bisa mengatur tempo permainan dan tumpulnya lini depan. Dengan demikian, praktis serangan hanya bertumpu pada Ronaldo dan Nani. Kedua pemain ini pun tak bisa berbuat banyak karena tak cukup mendapat suplai bola.

Spanyol justru sebaliknya. Mereka memiliki beberapa pemain tengah terbaik di dunia. Ada Andres Iniesta, Xavi Hernandez, David Silva, Xabi Alonso, dan Sergio Busquets. Namun mereka tak punya lini depan yang benar-benar tajam, sehingga hanya berputar-putar di lini tengah.

Memang ada Fernando Torres. Namun saya rasa perannya belum sebanding dengan David Villa, yang terpaksa tak ikut Piala Eropa kali ini lantaran cedera. Jesus Navas dan Pedro Rodriguez memang bisa menusuk dari kedua sayap, tapi mereka bukan penyerang murni.

Ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi Vicente del Bosque saat mereka melangkah ke final nanti. Apalagi dua kandidat lawan, yakni Jerman dan Italia, sama-sama memiliki lini belakang yang solid. Kalau Spanyol bisa memilih lawan di final, mereka juga akan kesulitan menentukan Jerman atau Italia. Karena keduanya sama kuat dan layak.

Spanyol telah merasakan tebalnya dinding catenaccio Italia dalam laga perdana kemarin. Jerman juga memiliki power dan kecepatan yang luar biasa. Tanpa penyerang yang bisa melakukan terobosan secara cepat, akan sangat sulit bagi La Furia Roja--julukan Spanyol--untuk menembus pertahanan lawan.

Saya, seperti juga pembaca, tak tahu seperti apa taktik yang akan digunakan Del Bosque nanti. Tapi menarik untuk ditunggu, karena Del Bosque tak pernah takut mencoba skema baru.

*) Benny Dolo, Mantan Pelatih Timnas Indonesia

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Yahoo! Indonesia di Facebook

Jajak Pendapat

Siapa pemenang Liga Champions 2013?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat