Krakow (AFP/ANTARA) - Antonio Di Natale membuka jalannya untuk dimainkan pelatih Timnas Italia, Cesare Prandelli, sebagai pemain pertama saat melawan Kroasia, setelah sang pelatih memuji sang pemain pada Senin.
Di Natale memberi dampak seketika ketika dimainkan untuk menggantikan Mario Balotelli saat Italia bermain imbang 1-1 dengan Spanyol pada Minggu, pada pertandingan pembuka Grup C tim Azzurri di Kejuaraan Eropa.
Penyerang Udinese tersebut mencetak gol pembuka di Gdansk, dan nyaris mencetak gol lain melalui kecepatan dan pergerakannya yang mengejutkan barisan pertahanan Spanyol.
Bahkan meski telah berusia 34 tahun ia masih merupakan penyerang paling berbahaya di Liga Italia, dan 80 gol dia dalam tiga musim terakhir, lebih banyak daripada yang dibukukan pemain-pemain lain, membuktikan hal itu.
Meski diacuhkan pada kualifikasi Piala Eropa, Prandelli mengakui bahwa pemain kelahiran Napoli ini membuka jalannya untuk dimainkan sebagai pemain pertama.
"Ketika kami memulai perjalanan ini, kami mencoba untuk membangun tim yang dapat memiliki masa depan," kata Prandelli.
"Kami selalu melihat pemain-pemain papan atas, khususnya di sektor serangan, dan itu merupakan keputusan tepat untuk memasukkan Toto (Di Natale) ke dalam tim."
"Seperti telah saya katakan bahwa mudah untuk memasukkannya dalam tim, ia tidak memerlukan banyak pertandingan untuk terbiasa dengannya."
"Ia mungkin yang terbaik di Italia saat berada di belakang para pemain belakang. Kemarin ia mendapatkan operan hebat dari (Andrea) Pirlo, namun itu juga bergantung pada pergerakannya di mana ia memiliki waktu untuk mempersiapkan gol dan menaklukkan pengawalnya."
Perbedaan kontras antara dampak cepat Di Natale, dan Balotelli yang lesu serta bermain tidak efektif, merupakan fakta nyata.
Balotelli mendapat kartu kuning karena melakukan pelanggaran yang tidak perlu, sentuhannya buruk, dan ia gagal untuk benar-benar terlibat di pertandingan.
Ia juga terlihat mencaci seorang hakim garis pada satu kesempatan, ketika ia merasa bahwa dirinya dilanggar dan kemudian memukul tanah sebagai bentuk rasa frustasi ketika ia dinyatakan melanggar Gerard Pique, hal-hal ini memperlihatkan bahwa ia kesulitan mengendalikan emosinya.
Namun yang paling buruk adalah minimnya perhatian yang ia perlihatkan, saat dirinya dapat dikejar Sergio Ramos saat sedang mendekati gawang Spanyol, dan berada dalam posisi satu-lawan-satu dengan Iker Casillas.
Balotelli memperlihatkan antisipasi hebat saat mencuri bola dari Ramos di dekat garis lapangan, namun setelah mendekati gawang ia melambatkan pergerakannya di saat ia mencoba memutuskan apa yang akan diperbuat selanjutnya, sehingga kubu Spanyol mampu menggagalkan serangan tersebut.
"Ia (Balotelli) berkata bahwa dirinya mencari Antonio (Cassano) dan tidak waspada terhadap Ramos," jelas Prandelli.
"Namun saya harus menggarisbawahi fakta bahwa memenangi bola di tempat pertama, ia memperlihatkan bahwa dirinya merupakan pemain sejati dengan karakter dan fisik, namun ketika anda memiliki dua opsi (untuk menembak atau mengoper), itu membuat anda melambat."
Banyak orang beranggapan bahwa Prandelli akan memilih Di Natale dan menepikan Balotelli pada pertandingan selanjutnya, melawan Kroasia pada Kamis (14/6).
Pelatih menolak untuk mengungkapkan pikirannya, namun ia mengakui bahwa dirinya mengharapkan lebih banyak dari penyerang manchester City tersebut.
"Ia berusia 22 tahun (sebenarnya 21 tahun), dan ia kemungkinan berada di jalan untuk menemukan kematangan," kata Prandelli.
"Ia harus berhenti memikirkan tentang memenangi pertandingan sendirian, setiap kali ia menyentuh bola dan hanya membantu tim untuk melaju ke depan."
"Mungkin untuk pertama kalinya ia memperlihatkan kepada setiap orang potensi yang semua orang tahu dimilikinya, maka ia memiliki tanggung jawab." (ar)


