Beragam Kisah Pertandingan 'Main Sabun'

Skandal pengaturan pertandingan atau ‘main sabun’ oleh atlet bulutangkis Indonesia di Olimpiade 2012 sungguh memalukan. Pasangan Greysia Polii dan Meiliana Jauhari serta tiga pasangan lain dari Korea Selatan dan Cina lalu didiskualifikasi gara-gara skandal tersebut.

Olah raga yang terkenal menjunjung tinggi sportivitas akan mencatat peristiwa ini dalam sejarah kelam, seperti halnya sejumlah pertandingan internasional di bawah ini:


Piala Tiger 1998

Peristiwanya terjadi pada pertandingan Indonesia melawan Thailand di Stadion Thong Nat, Ho Chi Minh City, Vietnam, di pertandingan akhir babak penyisihan di grup A. Keduanya khawatir kalau menang dan menjadi juara grup, harus berhadapan dengan tuan rumah Vietnam di semi final. Nagara ini dianggap sebagai lawan kuat.

Kedua tim bermain seperti gajah yang tak tahu di mana gawang lantaran ingin kalah agar berada di urutan kedua grup dan berhadapan dengan Singapura di semi final. Pertandingan pun berakhir dengan skor 3-2 untuk Thailand, setelah pemain Indonesia, Mursyid Effendi dengan sengaja melesakkan bola ke gawang sendiri.

Federasi Sepakbola ASEAN (AFF) menghukum Mursyid untuk tidak boleh ikut pertandingan internasional seumur hidup. Kedua tim pun kena denda masing-masing $ 40 ribu setelah mempertontonkan sepak bola ala gajah.


Piala Dunia 1982

Kasus penetapan skor dalam pertandingan pernah terjadi pada putaran Piala Dunia 1982 di Spanyol. Pada pertandingan terakhir di penyisihan grup B, seandainya Jerman Barat menang dengan selisih 1 atau 2 gol melawan Austria, kedua negara masuk putaran selanjutnya. Kurang dari itu, Jerman tersingkir. Jika lebih, Austria yang pulang kampung.

Jerman yang langsung menyerang sesaat pluit pertandingan dibunyikan, berhasil membobol gawang Austria di menit ke 10. Setelah itu, bola asal ditendang tak tentu arah. Giliran Aljazair yang sudah mengalahkan Chile meradang, karena dengan pertandingan berakhir 1-0, negara itu gagal masuk putaran selanjutnya.

Pendukung Aljazair yang marah langsung mengeluarkan uang kertas dari kantong. Serta-merta uang tersebut dilambai-lambaikan ke para pemain sebagai pertanda suap. Bahkan para pendukung Der Panzer ikut murka menyaksikan pertandingan menjijikan itu. Bendera Jerman pun dibakar.

FIFA yang belajar dari kasus ini langsung mengubah model jadwal pertandingan. Pertandingan final grup digelar bersamaan.


Liga Inggris 1896

Main sabun dalam pertandingan juga pernah terjadi di Liga Inggris pada 1896, ketika Stoke City berhadapan dengan Burnley untuk masuk ke Divisi Utama. Kedua tim 'main mata' untuk seri agar keduanya masuk dan menurunkan Newcastle United dan Blackburn Rovers.

Rupanya Liga Sepak bola Inggris berlaku jinak. Jumlah tim di Divisi Utama yang seharusnya hanya 16, ditambah menjadi 18 tim dengan tetap memasukkan Newcastle dan Blackburn yang jadi korban. Kini, sistem "test match" itu diganti dengan otomatis tersingkir jika ada di peringkat paling bawah.


Seri Dunia Baseball, 1919

Pada kompetisi baseball Amerika juga terjadi pertandingan 'main sabun'. Salah satu skandal terbesar di negara tersebut, terjadi pada 1919, ketika pemain Chicago White Sox mengalah lawan Cincinati Reds yang akhirnya memenangi kejuaraan seri Dunia.

Alasan delapan pemain berkonspirasi untuk kalah itu sebagai perlawanan lantaran tidak menyukai pemilik klub. Sebagai hukuman dari skandal yang dikenal dengan nama Black Sox Scandal itu, delapan pemain tersebut dipaksa pensiun. Tidak boleh bertanding seumur hidup.


BACA JUGA:

Kutukan Zlatan Ibrahimovic

Lima Penyerang Tersubur Timnas Indonesia

10 Klub dengan Gaji Terbesar di Dunia

Atlet-atlet Indonesia yang Berganti Warga Negara

Tiga Alasan Erick Tohir Membeli DC United

Jumlah Medali Keseluruhan

Rank Negara Emas Perak Perunggu Total
1 Amerika Serikat 46 29 29 104
2 Cina 38 27 23 88
3 Inggris Raya 29 17 19 65
4 Rusia 24 26 32 82
5 Korea Selatan 13 8 7 28
6 Jerman 11 19 14 44
7 Perancis 11 11 12 34
63 Indonesia 0 1 1 2

Pilihan

Kata-kata Olympic, Olympiad, lingkaran Olympic, Faster Higher Stronger, Citius Altius Fortius dan tanda lainnya yang terkait merupakan milik dari International Olympics Committee, the London Organizing Committee of the Olympic Games and Paralympic Games, atau badan lainnya yang terkait. Situs ini tidak didukung oleh atau terafiliasi dengan badan-badan tersebut di atas.