London (ANTARA) - Keberhasilan tim angkat besi Indonesia meraih medali perak dan perunggu tidak lepas dari kehadiran Tohir Yes, massur (sport massage) yang selalu siap setia setiap saat atlet mulai latihan di Korea sampai pertandingan di Olimpiade London.
"Saya merasa senang dan bangga akhirnya atlet angkat besi berhasil mempersembahkan medali untuk kontingen Indonesia," ujar Tohir Yes kepada ANTARA London, Kamis.
Lima atlet angkat besi sebelum bertanding di Olimpiade mengikuti tranning camp di Korea selama dua minggu. Mereka ditemani tiga pelatih dan satu ofisial.
Tohir Yes mengatakan, sebelum melakukan latihan fisik, atlet angkat besi diharuskan "stretching conditioning" dalam upaya melenturkan agar tidak terjadi cedera selama melakukan latihan dan setelah latihan.
Sebelum bertanding, kata dia, atlet membutuhan "recovery" dengan cara "sport massage" selama tiga hari sebelum bertanding agar asam laktat yang ada dalam tubuh bisa hilang dan peredaran darah atlet menjadi lancar dan merasa segar.
"Hal itu yang sering lupa dilakukan oleh atlet, padahal ini sangat dibutuhkan dan penting untuk bertanding," ujar Tohir lulusan Fakultas Ilmu Olahraga di Universitas Negeri Jakarta.
Ditegaskan Tohir, seharusnya hal itu sangat penting dibutuhkan bagi altlet lainnya dan perlu dipahami juga oleh pelatih dan atlet. Sering kali hal ini diabaikan, padahal penting dan perlu adanya pemahaman dan juga hubungan dekat dan personal serta komunikasi yang baik antara atlet dan pelatih.
Tohir Yes yang telah berpengalaman mengikuti berbagai event internasional, seperti PON, SEA Games, ASIAN Games, dan Olimpiade untuk yang kedua kalinya, menilai atlet angkat besi sangat solid dan saling mendukung serta kekeluargaan.
"Mungkin hal seperti itu jarang dijumpai dalam cabang olahraga lainnya," kata Tohir.
Ia mencontohkan pada saat Tri Yatno bertanding di SEA Games Laos 2009 lalu, yang merasa nyaman setelah kehadiran Tohir Yes yang sebelum berangkat sudah berintegrasi dan memberikan semangat kepada Tri Yatno yang akhirnya berhasil mengangkat besi seberat 180 kg.
Justru sering kali hal tersebut kurang diperhatikan oleh cabang lainnya atau pelatih dan ofisial. Hubungan yang personil sering kali diabaikan, padahal justru hal yang kecil ini justru membuat keberhasilan seorang atlet dalam berlaga, ujar ayah dua anak yang masih balita.
Selain itu, Tohir Yes mengatakan pentingnya disilpin dalam berlatih dan menejem waktu bagi seorang atlet dalam menyiapkan diri sebelum berlaga.
Pengurus PB Perstuan Angkat Besi dan Bina Raga Indonesia PABBSI yang diketuai Adang Darajatun mengirim atlet angkat besi dan pelatih ke Korea serta ofisial dalam rangka mempersiapkan diri untuk bertanding di Olimpiade London.
Atlet angkat besi yang melakukan latihan di Korea terdiri atas Eko Yuli Irawan, Triyatno, Mohammad Hasbi, Deni, dan Shinta beserta pelatih Lukman, Sodikin Mawih, dan Dirja, serta Tohir Yes.
Menurut Tohir Yes, sejak awal atlet angkat besi sudah ditarget untuk menyumbangkan medali bagi kontingen Indonesia. Kenyataannya memang apa yang diharapkan justru lebih dari yang diprediksikan.(rr)


