Juara Olimpiade pun Terpincang-pincang karena High Heels

TRIBUNNEWS.COM – Victoria Pendleton benar-benar telah bermetamorfosis. Dari seorang perempuan tomboi menjadi perempuan genit nan pesolek. Ia sudah membuang kostum ketat maskulin yang biasa dipakai para pembalap sepeda.

Peraih medali emas Olimpiade London 2012 dari nomor kirin ini memang sudah menggantung pedal alias pensiun. Kini ia tampil dengan busana glamor nan seksi. Tengok saja aksinya sebagai kontenstan acara "Strictly Come Dancing".

Di acara yang ditayangkan saluran televisi BBC 1 tersebut, Pendleton terlihat begitu menggemaskan dengan kostum minim nan terbuka. Ia bergaya dengan model baju berumbai-rumbai yang menutupi bagian dada, tetapi memperlihatkan bagian perutnya yang ramping. Model gaun minim berwarna emas itu pun nyaris memperlihatkan seluruh kakinya yang berotot dan pejal.

Sepasang sepatu high heels alias sepatu berhak tinggi warna emas semakin mempertegas sosok Pendleton sebagai perempuan feminin. Berpasangan dengan Brendan Cole sebagai partner dansanya, Pendleton pun mengumbar senyum, dan berlenggak-lenggok di atas pentas dengan genitnya.

Namun siapa sangka di balik segala gerak-gerik gemulai dan keceriaannya, Pendleton ternyata harus menahan nyeri karena tak terbiasa memakai sepatu berhak tinggi. "Kaki ini telah membunuh saya," ujarnya menggerutu seperti dikutip dari Daily Mail, kemarin.

Perempuan yang berulang-tahun ke-32 pada 24 September ini memang mendapat masalah saat membiasakan diri memakai high heels. Ia terganjal kenyataan pergelangan kakinya ternyata tak memiliki fleksibilitas untuk melangkah dengan nyaman saat memakai sepatu berhak tinggi.

Pergelangan kaki yang kokoh memang menjadi anugerah baginya saat mengayuh pedal di veledrom, namun jadi petaka untuk bisa melangkah gemulai di lantai dansa.

"Jujur saja, saya telah menghabiskan beberapa minggu terakhir dengan kaki terpincang-pincang, dan juga mengatasi keram untuk membiasakan diri memakai sepatu hak tinggi ini," ujarnya kepada Radio Times.

Terdengar seperti dramatis memang. Namun, derita Pendleton sepertinya masuk akal. Pasalnya, selama belasan tahun ia dilarang menggunakan sepatu hak tinggi untuk menghindari cedera. "Karenanya, ketika sekarang harus memakai hak tinggi seharian itu menjadi sebuah penderitaan," tuturnya.

Juara dunia nomor sprint ini menjelaskan, pergelangan kaki yang pejal jadi keuntungan saat membalap. "Fleksibilitas pergelangan kakiku memang terbatas, dan itu jadi senjataku saat mengayuh pedal. Ketika Anda mengayuh pedal, Anda perlu menjaga kaki Anda dalam posisi yang sama sepanjang putaran. Jika tidak, Anda tidak akan mendapatkan dorongan 100%," katanya.

Kini, ketika ia berpindah ke lantai dansa, ibaratnya ia harus memulai dari nol lagi untuk merombak pergelangan kakinya agar jadi sangat lentur. "Saya harus berlatih keras untuk melemaskan pergelangan kakiku ini," ujar perempuan yang juga meraih medali emas di Olimpiade Beijing 2008 ini.

Alhasil, Pendleton kini fokus pada latihan untuk mendapatkan tubuh yang lentur dan gemulai. "Latihan keras untuk jadi penari beneran ini membuatku tak lantas bingung setelah pensiun dari balap sepeda. Saya tetap mendapatkan passion dalam hidup saya," katanya.

Untuk urusan disiplin dan semangat melakukan latihan, Pendleton adalah ratunya. Deretan gelar juara balap sepeda putri di berbagai nomor yang telah diraihnya selama ini menjadi bukti nyata.

Karena itu, tak heran ketika ditantang untuk menjadi kontestan acara di "Strictly Come Dancing" ia pun berlatih dengan spartan. "Saya sudah terbiasa dengan latihan berjam-jam setiap harinya. Dan itulah yang saya lakukan sekarang. Saya tak biasa berleha-leha," ujarnya.

Namun, ia menggarisbawahi dalam urusan menjadi penari ini ia tak berambisi untuk menjadi yang terbaik di dunia. "Saya sudah menjadi yang terbaik di dunia di cabang balap sepeda. Saya tak mau serakah. Saya hanya ingin menikmati keindahan tarian saja. Itu sudah lebih dari cukup untukku," tuturnya. (Tribunnews/den)

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Yahoo! Indonesia di Facebook

Jajak Pendapat

Menurut Anda, berapa lama laga final Liga Champions pada 26 Mei 2013 dinihari waktu Indonesia?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat