Di tengah kelesuan bursa transfer liga-liga Eropa menjelang dimulainya musim 2012/13, Paris Saint-Germain menjadi "penyelamat" dengan sejumlah gebrakan transfer yang melibatkan aliran dana puluhan juta euro.
Setelah merekrut striker Ezequiel Lavezzi senilai €26 juta dan mengunci tanda tangan bek Thiago Silva dari AC Milan dengan harga €42 juta, Paris SG menggebrak musim panas Eropa dengan mendatangkan Zlatan Ibrahimovic sekaligus menuntaskan kesepakatan transfer kombinasi Silva senilai €62 juta. Pada saat bersamaan, diumumkan pula kedatangan gelandang muda Marco Verratti dari Pescara dengan transfer €11 juta. Total PSG mengucurkan dana tak kurang dari €99 juta untuk mendatangkan empat pemain asal Serie A Italia tersebut.
Geliat PSG seperti sebuah ironi. Eropa sedang dilanda kegelisahan karena nilai kurs mata uang yang terus menurun. Perekonomian memburuk di Yunani, Spanyol, dan Italia sehingga berimbas pada klub-klub sepakbola. Dipicu pula oleh penerapan aturan financial fair play oleh UEFA, klub-klub makin mengetatkan pengeluaran mereka. Bahkan klub yang dikenal gemar belanja seperti Manchester City saja menahan diri musim panas ini.
Bersama pemilik barunya, PSG didorong ambisi menjadi salah satu klub terdepan di Eropa. Meski gagal menjuarai Ligue 1 Prancis musim lalu, PSG akan berkiprah di Liga Champions musim mendatang sehingga pembenahan materi pemain harus dilakukan secara serius.
Sejak tahun lalu, PSG dimiliki kelompok investasi asal Timur Tengah, Qatar Investment Authority (QIA). Otoritas investasi negara kaya minyak itu pun menunjukkan keseriusan merambah dunia sepakbola sekaligus mengelola PSG dibentuk lah Qatar Sports Investments (QSI). Kemudian, di awal tahun ini QIA menuntaskan proses pembelian sehingga 100 persen menjadi pemilik PSG dengan nilai pembelian €100 juta kepada pemilik sebelumnya, Colony Capital. QIA/QSI lalu melakukan perombakan besar dengan target menjadi klub yang disegani di Eropa dalam lima tahun ke depan.
"Kami bukan mengatakan ingin menjadi klub terbaik dunia, karena itu sangat sulit," ujar Nasser Al-Khelaifi, presiden baru PSG yang berusia 38 tahun, dilansir CNN World Sport, Maret lalu.
"Dengan semangat mencintai sepakbola, kami pun mencintai Paris. Paris kota hebat dan layak memiliki klub besar di dunia dan itu alasan kami datang ke Paris dan membeli PSG."
"Saya yakin awalnya orang akan menentang ide ini, tapi saya yakin mayoritas kini mendukung kami dan PSG."
| Transfer PSG dua musim terakhir | ||
| Musim 2012/13* | Total: €99 juta | ||
| Thiago Silva | AC Milan | €42 juta |
| Zlatan Ibrahimovic | AC Milan | €20 juta |
| Ezequiel Lavezzi | Napoli | €26 juta |
| Marco Verratti | Pescara | €11 juta |
| Youness El Baillal | Mantes 78 | gratis |
| Musim 2011/12 | Total: €106,1 juta | ||
| Javier Pastore | Palermo | €42 juta |
| Thiago Motta | Internazionale | €11,5 juta |
| Kevin Gameiro | Lorient | €11 juta |
| Jeremy Menez | AS Roma | €8 juta |
| Blaise Matuidi | Saint-Etienne | €8 juta |
| Mohamed Sissoko | Juventus | €7 juta |
| Alex | Chelsea | €5 juta |
| Salvatore Sirigu | Palermo | €3,9 juta |
| Maxwell | Barcelona | €3,5 juta |
| Milan Bisevac | Valenciennes | €3,2 juta |
| Diego Lugano | Fenerbahce | €3 juta |
| Nicolas Douchez | Rennes | gratis |
| Ronan Le Crom | tanpa klub | gratis |
| TOTAL TRANSFER: €205,1 juta* | ||
|
*Bursa transfer musim 2012/13 masih berjalan hingga Januari 2013 (musim panas dan musim dingin) |
||
Dalam dua musim berjalan sejak QIA melakukan akuisisi, PSG mengucurkan dana hampir €180 juta untuk memoles skuatnya. Jumlah ini sebenarnya masih di bawah pengeluaran yang dilakukan Chelsea dan Manchester City dalam dua musim pertama ketika masing-masing diakuisisi oleh Roman Abramovich dan Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan.
| Perbandingan belanja tiga klub kaya baru |
|||
| Klub | Musim Perdana | Musim Kedua | Total |
| PSG | €106,1 juta | €99 juta | €205,1 juta* |
| Man City | €157,35 juta | €147,3 juta | €304,65 juta |
| Chelsea | €172,2 juta | €161,9 juta | €334,1 juta |
|
Paris kota hebat dan layak memiliki salah satu klub besar di dunia. Itu alasan kami datang. - Nasser Al-Khelaifi
|
| SEKILAS TENTANG QIA |
| QIA awalnya dibentuk Pemerintah Qatar untuk menangani surplus pasokan minyak dan gas alam mereka. Pada perkembangannya, otoritas ini menjadi salah satu ujung tombak Qatar dalam memperkuat perekonomian negara melalui diversifikasi usaha di berbagai bidang. Menurut Bloomberg, dana QIA mencapai lebih dari US$100 milyar dan sebanyak US$30 milyar siap dikucurkan untuk bergeliat di dunia investasi tahun ini dan Prancis merupakan salah satu negara favorit tujuan penanaman modal. Dicatat The National, selain PSG, QIA merambah dunia properti dengan menguasai sejumlah bangunan seluas 26 ribu meter persegi di kawasan Arc de Triomphe dan Champs-Elysees dengan nilai pembelian lebih dari €500 juta; begitu pula dengan sejumlah hotel megah di Paris, Nice, dan Cannes. Investasi yang dilakukan QIA antara lain mencakup Harrods, jaringan supermarket Britania Raya J Sainsbury, Bursa Saham London, Porsche, Volkswagen, serta stasiun tv Al Jazeera, yang menguasai hak siar Ligue 1 dan Liga Champions. |
Menjadi pertanyaan menarik apakah kepindahan para pemain tersebut semata karena uang? Bisa jadi. Tapi, bisa pula motivasi mereka sama seperti motivasi yang dimiliki Samir Nasri ketika meninggalkan Arsenal dan menerima pinangan Manchester City. Dia ingin meraih prestasi bersama sebuah klub yang berambisi menjadi kekuatan baru. Jika tampil baik, otomatis reputasi sang pemain meningkat dan mudah-mudahan status legenda klub pun melekat.
Di Paris, kesempatan tersebut masih terbuka. Les Parisiens tercatat terakhir menjuarai Ligue 1 pada 1994. Di ajang Eropa, PSG pernah menjuarai Piala Winner 1996 sekaligus menjadi klub kedua Prancis yang pernah berjaya di tingkat regional setelah Olympique Marseille. Hingga kini belum lagi ada klub Prancis yang merebut trofi Eropa.
Paris berkali-kali berupaya merebut gelar terhormat di Ligue 1. Periode keemasan mereka memang terjadi di awal hingga pertengahan 1990-an ketika masih dimiliki Canal Plus dan dipimpin presiden Michel Denisot. Sepeninggal Denisot pada 1998, PSG mulai mengalami penurunan prestasi. Ketika dimiliki Colony Capital, yang sempat berbagi kepemilikan dengan Butler Capital Partners, PSG bahkan hampir terdegradasi meski mereka berhasil mengurangi nilai utang secara bertahap. Cerita bergulir sampai seperti yang kita lihat sekarang ini, yaitu PSG dimiliki QIA dan menjelma jadi salah satu pemborong pemain paling bernafsu di Eropa musim panas ini.
Kritik bukannya berhenti begitu saja.
"Kita bisa tertawa sampai mati. Uang 30 atau 40 juta habis untuk seorang pemain berusia 31 tahun?" ujar mantan pemain PSG Vikash Dhorasoo secara sinis saat rencana transfer Ibrahimovic dibahas media massa.
"Pemilik asal Qatar itu bisa membeli semaunya. Bahkan manusia. Orang itu kemudian diberi nama Zlatan, Kaka, Tevez, mereka tak ambil pusing. Mereka hanya ingin barang mahal. Mereka seperti orang yang tidak tahu memilih wine yang bagus."
Tingginya ambisi pun menyebabkan korban. Secara mengejutkan PSG memecat pelatih Antoine Kombouare meski berhasil menduduki papan atas klasemen Ligue 1 pada tutup tahun 2011. Kombouare tetap dianggap tidak memenuhi visi dan aspirasi manajemen tentang bagaimana klub seharusnya tampil dan meraih hasil. Sebagai ganti, pelatih dengan reputasi internasional seperti Carlo Ancelotti didatangkan. Namun, Ancelotti bukan tukang sulap sehingga butuh waktu untuk memberikan jawaban berupa prestasi kepada PSG.
Belum lagi membahas tentang gemuknya skuat yang dimiliki Ancelotti dengan kedatangan sejumlah bintang. Bek muda Mamadou Sakho menjadi salah satu pemain yang terancam kehilangan kesempatan bermain reguler seiring masuknya Thiago Silva. Tanda tanya serupa dimiliki Sylvain Armand, Diego Lugano, dan Milan Bisevac.
Di tengah, Verratti, Mathieu Bodmer, dan Blaise Matuidi bersaing mendapatkan tempat dengan Mohamed Sissoko dan Thiago Motta. Bahkan sempat dikabarkan pula tawaran PSG untuk Arturo Vidal ditolak Juventus.
Di depan, dengan kepastian Ibrahimovic bergabung, di mana posisi untuk Kevin Gameiro dan Guillaume Hoarau? Masuknya Lavezzi juga menyebabkan posisi penyerang sayap menjadi sengit antara Nene, Jeremy Menez, dan Peguy Luyindula.
Mengingat bursa transfer musim panas masih tersisa hingga akhir Agustus, banyak pergerakan yang dapat dilakukan PSG. Termasuk mencatat arus pemain yang berbondong-bondong meninggalkan Parc des Princes karena ingin mencari kesempatan bermain lebih besar di tempat lain. Kalau prestasi yang diinginkan masih harus ditunggu hingga paling cepat setahun ke depan, setidaknya untuk saat ini aktivitas PSG menjadikan bursa transfer musim panas lebih semarak.
Tidak bisa memilih wine yang bagus? Kita lihat saja nanti.
| Ikuti Agung Harsya di twitter. |


