TRIBUNNEWS.COM – Roberto Di Matteo dan Antonio Conte memiliki persamaan karakter sebagai pelatih bertipikal tangan dingin. Keduanya mewarisi para leluhur Italia sebagai pelatih yang kalem dan tenang namun mampu menciptakan permainan mematikan.
Adu strategi antara keduanya akan tersaji dalam satu panggung saat Chelsea menjamu Juventus pada matchday perdana babak penyisihan Grup E Liga Champions di Stadion Stamford Bridge, Kamis (20/9/2012) dinihari.
Kepiawaian dua allenatore Italiano dalam meracik strategi sebenarnya sudah sangat teruji. Di Matteo tanpa disangka mampu memberi gelar Liga Champions musim lalu dalam statusnya sebagai pelatih sementara Chelsea menggantikan Andre Villas-Boas yang diberhentikan di tengah jalan.
Sementara Conte adalah simbol kebangkitan tim Nyonya Tua setelah sekian lama terlelap dalam tidur panjang. Conte mampu menginstalasi sistem permainan baru yang kini jadi ciri khas Juventus. Hasilnya luar biasa, Juve keluar sebagai jawara Serie A Italia dengan rekor tanpa kalah.
Kesuksesan dua pelatih muda itu menambah daftar panjang kecerdikan pria asal Italia. Keduanya adalah simbol regenerasi pelatih asal Negeri Pizza yang mampu menciptakan taktik fantastik yang berasal dari dalam imajinasi dunia ide untuk kemudian diaplikasikan ke dalam bentuk permainan nyata diatas lapangan.
Terjun ke kompetisi Champions dengan membawa tim berstatus juara bertahan jadi tantangan berat buat Di Matteo. Apalagi tradisi Champions tak pernah mengenal sang juara bertahan mampu memertahankan gelar dalam dua musim berturut-turut.
Namun support dan legitimasi dari sang bos besar Chelsea, Roman Abramovic, selalu jadi panduan dasar Di Matteo untuk melangkah dan menantang berbagai tantangan yang akan dihadapi Chelsea di masa mendatang.
"Pemilik klub (Roman Abramovich) tak pernah kehabisan ambisi. Dia selalu menginginkan kemenangan dengan klub ini dan melanjutkan perjalanan tim yang ekselen. Selama ambisi itu masih ada kami takkan pernah berhenti," ujar RDM.
Masuknya Di Matteo sebagai juru taktik The Blues memang membawa sejumlah perubahan dalam permainan Chelsea. Faham sepakbola Italia terlihat mulai merasuki Chelsea yang notabene adalah salah satu simbol sepakbola Inggris dalam belantika sepakbola Eropa.
Harus diakui Di Matteo memiliki keterkaitan erat dengan sepakbola Italia. Dia tercatat memiliki 34 caps pertandingan memperkuat tim nasional Italia selama masih aktif sebagai pemain. Di Matteo juga punya sejarah memainkan pertandingan di Serie A bersama Lazio dari tahun 1993 hingga 1996.
Bahkan Di Matteo punya catatan mencetak gol pembuka ke gawang Juventus pada saat membela Lazio di Turin 7 Mei 1995 silam. Saat itu Lazio membekuk Juventus 3-0.
Di Matteo juga memiliki kenangan lama bersama kiper Juventus Gianluigi Buffon, pria berkepala plontos berwajah Asiatic hampir menyerupai Shaolin ini satu tim dengan Buffon pada saat menjalani debut di Timnas Italia melawan Rusia di babak kualifikasi Piala Dunia 1998.
Sementara Conte memiliki cerita dan catatan sejarah yang sangat kental dengan Juventus. Dia adalah mantan gelandang sekaligus kapten tim Nyonya Tua. Ketika naik jabatan sebagai pelatih, Conte sangat menjiwai dan mampu memotivasi pemain Juventus.
Sayangnya kasus Calcioscommesse yang mendera Conte jadi batu sandungan buatnya musim ini. Dia dikenakan sanksi larangan menemani tim di pinggir lapangan saat pertandingan selama 10 bulan.
Namun demikan Conte tetaplah perancang strategi Juventus dan melatih tim sebelum pertandingan dimulai. Massimo Carrera, sang asisten, menjadi perpanjangan tangannya saat bertanding.
"Melawan Chelsea akan menjadi pertandingan berat sekaligus kesempatan besar buat kami. Ini adalah keterlibatan kami di kompetisi Champions setelah sekian lama absen. Saya berharap para pemain tidak nervous menghadapi situasi," kata Conte.
Ya, Juventus memang telah tiga tahun absen di Liga Champions. Pertemuannya dengan Chelsea jadi awal sejarah baru bagi raksasa Italia yang baru saja terbangun dari tidur tersebut.(Tribunnews.com/cen)


