TEMPO.CO , Jakarta:Tofik Bakhramov bukanlah pemain besar. Namun namanya dipakai untuk stadion nasional di Azerbaijan. Bakhramov hanya seorang wasit, yang bertugas menjadi hakim garis dalam final Piala Dunia 1966. Dialah yang membisiki wasit Gottfried Dienst, asal Swiss, agar mengesahkan bola yang ditendang oleh Geoff Hurst.
Bola itu memang melaju dengan cepat. Setelah membentur tiang bagian atas, bola itu mental ke bawah lalu pergi ke luar. Rekaman televisi tak bisa memastikan gol itu karena terhalang oleh posisi kiper. Bakhramov jelas tidak memiliki indra tambahan, yang mampu melihat pergerakan bola yang teramat cepat seperti itu. Namun dia memiliki keyakinan dan keberanian untuk menyatakan bahwa bola itu telah melewati garis gawang. Gol itu membawa Inggris unggul 3-2, yang kemudian berakhir 4-2. Inggris menjadi juara dunia.
"Dalam sebuah pertandingan sepak bola, apa pun bisa terjadi. Penuh liku yang tak terduga dan juga keajaiban. Nah, siapa yang tidak ingin menjadi seorang penentu dalam 90 menit?" ujar Bakhramov, yang meninggal pada 1993, tentang keputusan dalam pertandingan itu.
Rakyat Jerman Barat, saat itu, marah kepada Bakhramov. Namun publik Inggris memujinya setengah mati. Bahkan, menurut bisik-bisik, Ratu Elizabeth II memberikan peluit emas atas keberaniannya itu atau juga kebaikan yang telah diberikannya kepada Inggris. Di negerinya sendiri, dia pun menjadi pahlawan. Selain dijadikan nama stadion, patungnya berdiri di sana. Dia dianggap sebagai wasit yang tegas dan meyakinkan.
Kejadian serupa terjadi pada Piala Eropa. Kali ini, rakyat Ukraina yang menjadi korban. Hampir mirip dengan tendangan Hurst, bola yang disepak Marco Devic sempat menerobos melewati garis gawang tapi berhasil disapu John Terry. Dari rekaman video, gol itu terlihat sudah melewati garis gawang. Andai saja gol itu disahkan, Ukraina bermain imbang dan lolos ke perempat final. Namun mereka kalah.
Hal itu yang kemudian membuat orang mendesak agar dipergunakan teknologi garis gawang. Dengan alat ini, perdebatan ihwal sebuah gol atau tidak bisa langsung terjawab. Presiden UEFA Michel Platini, yang punya hajat, tak banyak berkomentar. Dia tidak terlalu setuju. Sebaliknya, Presiden FIFA Sepp Blater langsung menyatakan setuju. Kata dia, FIFA telah mencoba dua sistem untuk mengendus sebuah gol. Ada HawkEye yang digunakan dalam pertandingan tenis dan GoalRef yang sudah dipakai di beberapa pertandingan.
Sepak bola merupakan permainan yang minim perubahan peraturan. Yang sudah diterapkan antara lain larangan back pass ke kiper untuk menghindari tim bermain mengulur-ulur waktu, sistem penghitungan poin kemenangan dari dua angka menjadi tiga, dan penambahan setelah pertandingan usai, yang menjiplak permainan basket yang mematikan waktu saat bola tidak aktif.
Selebihnya, ketat. Mereka melarang tim nasional Kamerun memakai kaus berupa singlet yang ketat. Mereka mempunyai alasan, yakni agar akselerasi pergerakan bertambah sempurna. Lagi pula, kaus seperti itu meminimalkan pelanggaran akibat menarik baju. Semestinya, sepak bola menjadi seru. Namun FIFA tidak mau dan melarang kaus singlet itu.
Ada juga peraturan yang kemudian dicabut. Sistem sudden death atau silver goal, yang semula dimaksudkan agar pertandingan menjadi lebih seru dan membuat para pemain lebih waspada, akhirnya dibatalkan. Pertandingan menjadi tidak seru karena tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Pertandingan final Piala Eropa 1996 dan 2000 adalah buktinya.
Kini, seandainya teknologi garis gawang resmi digunakan, sepak bola akan menjadi sangat mekanis. Mesin dengan teknologinya yang canggih akan menentukan sebuah gol ketika bola melewati garis gawang hanya beberapa sentimeter.
Drama yang menyertai sepak bola pun lenyap. Padahal salah satu keasyikan sepak bola adalah cerita yang terus bergulir setelah wasit meniup peluit panjangnya. Segala kontroversi dan yang terjadi di lapangan menjadi bahan perbincangan yang menarik. Bahkan hal itu diulas dan diingat oleh para filsuf, sosiolog, atau dituangkan dalam novel--yang selanjutnya dikutip di mana-mana.
Setelah menjadi mekanis, tak ada lagi cerita tragis, tangis, dan juga misteri. Selain itu, tak ada sosok yang kontroversial, yang bak dua sisi koin, dibenci dan disanjung--seperti Bakhramov--yang bisa menjadi "penentu" sebuah drama selama 90 menit itu.
IRFAN BUDIMAN
Wartawan Tempo
*) Tulisan sudah dimuat di Koran Tempo


