Pada musim 2008/09, Girondin Bordeaux secara perkasa menjuarai kompetisi Ligue 1 Prancis. Pada musim berikutnya, 2009/10, Bordeaux pun masih bertaji. Sampai putaran pertama selesai, pelatih Laurent Blanc menempatkan klub dari kota anggur itu di posisi puncak klasemen.
Per putaran pertama, Bordeaux unggul 12 poin dari saingan terdekatnya – Olympique Marseille dan Olympique Lyon. Selain itu, Bordeaux masih melaju mulus di Liga Champions Eropa. Ringkasnya, Bordeaux berada dalam jalur untuk mempertahankan gelar juara Ligue 1 dan berpeluang meraih tempat tertinggi di Liga Champions.
Namun di saat itulah, situasi tak dinyana terjadi. Pelatih Prancis Raymond Domenech menjadi bulan-bulanan karena prestasi Les Blues yang amburadul di kualifikasi Piala Dunia 2010. Isu pergantian mencuat. Pers dan Asosiasi Sepakbola Prancis (FFF) menyebut Blanc adalah kandidat terkuat pengganti Domenech.
Sejak bulan Februari 2010, nama Blanc menjadi materi utama rumor publik Prancis. Bahkan FFF sudah berusaha melakukan negosiasi untuk membajak Blanc dari Bordeaux ke tim nasional (timnas). Malangnya, Blanc tak berani mengambil sikap tegas. Secara implisit, dia tergoda dengan peluang menangani timnas. Sebuah sikap yang wajar, sebenarnya.
Masalahnya, rumor yang bertebaran di media dan ruang publik Prancis justru berimbas pada kinerja Bordeaux di lapangan. Konsentrasi Bordeaux kacau balau. Bisa jadi Blanc pun demikian. Di Liga Champions, Bordeaux terjegal di perempat final. Ironisnya, Lyon yang mendepak mereka.
Di Ligue 1 lebih buruk lagi. Putaran pertama berada di tempat teratas, Bordeaux anjlok drastis dan harus menutup musim di posisi keenam klasemen. Tiket ke Liga Champions musim berikutnya luput. Bahkan lolos ke Liga Europa pun tidak. Efek yang paling keras adalah proyeksi keuntungan yang meleset jauh.
Seperti diketahui, tampil di Eropa – terutama Liga Champions – adalah pundi uang bagi para peserta. Ketika sudah masuk ke dalamnya, klub akan senantiasa membuat prediksi keuntungan yang mungkin diraih. Di sisi lain, klub akan berusaha agar tetap berada di zona Eropa di kompetisi domestiknya masing-masing.
Dan Bordeaux pun gagal. Sang bos, Jean-Louis Triaud lantas mengaku timnya tak punya uang. Itu sebabnya, Bordeaux terpaksa menjual bintangnya seperti Yoann Gourcuff (ke Lyon) dan melepas bebas transfer striker Marouane Chamakh (ke Arsenal).
Situasi yang kira-kira mirip dengan Bordeaux, saat ini tengah dialami Tottenham Hotspur di Liga Primer Inggris. Manajer Harry Redknapp dijagokan oleh banyak fans dan media Inggris untuk menangani timnas Inggris setelah Fabio Capello mengundurkan diri dengan alasan pelanggaran wewenang oleh FA.
Terlepas dari soal pantas-tidaknya Redknapp untuk kursi nomor 1 timnas Inggris, situasi ini dapat menggganggu konsentrasi dan merugikan Tottenham – seperti halnya Bordeaux – dalam menjalani sisa kompetisi musim ini.
Luca Modric dan kawan-kawan saat ini berada di posisi ketiga klasemen sementara Liga Inggris dengan nilai 53. Jarak mereka dengan pemimpin klasemen Manchester City hanya tujuh poin. Artinya secara matematis, Redknapp masih mungkin bersaing dengan City dan Manchester United di jalur juara – meski tipis.
Tak pelak, sasaran paling realistis bagi Tottenham adalah mengamankan tiket ke babak grup Liga Champions alias tanpa melalui playoff (posisi ketiga klasemen akhir Liga Inggris).
Awalnya, sikap Redknapp cukup tegas. Paman gelandang Inggris, Frank Lampard, tersebut mengaku sedang berkonsentrasi mengamankan kans Tottenham ke Eropa dan syukur-syukur juara Liga Inggris. Bahkan pelatih berusia 64 tahun itu dengan tegas sempat menolak pula kemungkinan melatih paruh waktu (part-time) antara timnas dan Tottenham.
Namun seberapa kuat pertahanan Tottenham dan Redknapp? Bila mereka mengalami seperti yang dialami oleh Bordeaux dan Blanc maka ujungnya boleh jadi akan sama. Ketika itu, Bordeaux digempur sedemikian rupa oleh publik dan pers Prancis. Secara tak langsung, Bordeaux dipengaruhi dan diyakinkan bahwa hanya Blanc yang dapat menyelamatkan timnas Prancis. Pendirian pun goyah, terlebih Blanc memang tertarik dengan kemungkinan posisi barunya.
Hantaman godaan bagi Tottenham bukan hanya dari perbincangan mengenai Redknapp semata, tetapi juga bermunculannya gosip calon pengganti andai Redknapp menangani timnas Inggris. Gosip pengganti Redknapp diisi oleh nama tenar seperti Jose Mourinho dan Rafa Benitez. Belakangan, Redknapp berubah dengan mengatakan ada kemungkinan untuk bekerja dengan dua peran – Tottenham dan timnas Inggris.
Situasi ini sangat mungkin memengaruhi para pemain. Level permainan mereka di lapangan dapat berubah. Untuk sementara, hal itu belum terjadi. Kurang dari sepekan setelah Capello mundur dan Redknapp dikaitkan dengan timnas Inggris, Tottenham masih mampu melumat Newcastle United 5-0 di White Hart Lane pada hari Sabtu (11/2) dua pekan lalu.
Bagi sebuah klub, ini memang dilema antara diri sendiri dan timnas sebagai representasi negara. Peran petinggi klub dan Redknapp sendiri menjadi sentral untuk tetap menjaga profesionalisme berada dalam koridornya. Soal itu, seharusnya Redknapp tidak perlu diragukan.
Jelajahi Yahoo! Bersama Teman-Teman Anda
Jelajahi berita, video, dan banyak lagi berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman Anda. Publikasikan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Pertama-tama,Nyalakan Facebook

Belum ada komentar