Pelatih
Nil Maizar pantas mengeluarkan air mata haru di depan suporter
Indonesia yang memadati Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia,
Rabu (28/11). Nil sadar bahwa tanpa dukungan suporter, timnas Indonesia
tak akan pernah mampu meraih kemenangan 1-0 atas 10 pemain Singapura.
Nil
juga pantas bersyukur betapa strateginya terbayar lunas. Dia pasti
dengan sadar mengambil keputusan bahwa skuad harus diacak -- terlepas
ada krisis kiper dan cedera pemain di tim Indonesia. Tampak sekali Nil
menghitung cermat strateginya.
Sebelum pertandingan, pelatih
Singapura, Radojko Avramovic, sedikitnya dua kali menilai kepiawaian
Bambang Pamungkas, Andik Vermansyah, dan Irfan Bachdim serta pemain
naturalisasi Indonesia. Bagi pelatih lawan manapun, pernyataan Avramovic
adalah sinyal akan adanya perhatian khusus pada pemain yang disebut.
Dan
kenyataannya, betapa Bachdim tak berkutik di babak pertama. Ia
kesulitan menembus final third Singapura, baik dengan bola maupun tanpa
bola. Harris Harun selalu menaruh kewaspadaan pada pergerakan Bachdim,
meski tidak menempelnya dengan ketat. Pendeknya, Bachdim dibuat
kehilangan gigi kali ini.
Nil sendiri membuktikan kejeliannya.
Pertama, ia mengacak skuad dengan formasi semi 4-2-3-1. Pelatih yang
ditranformasi dari Semen Padang ini membiarkan Rachmat Syamsuddin
menjadi tombak tunggal di hadapan 2 menara Singapura.
Kedua,
Nil menyimpan Bambang dan Andik agar "nasibnya" tidak seperti Irfan.
Ketiga, dan ini penting, Nil merapatkan jarak barisan tengah dan
pertahanan. Seperti yang disebut sebelum pertandingan, Nil memberi fokus
pada perbaikan benteng yang menjadi serangan kritik dari banyak pihak.
Setelah
memasang garis pertahanan yang tinggi kala melawan Laos, kali ini Wahyu
Wiji Astanto dkk. tak pernah bergerak lebih tinggi dari wilayah 16
meter dan tampil ultra disiplin. Bahkan Taufiq sebagai gelandang
bertahan seperti dipaku di depan para bek. Hanya Vendry Mofu yang
dipersilahkan bergerak box to box dan menjadi ball winner meski jarang
juga mencapai final third Singapura karena kerap dihadang Mustafic
Fachrudin.
Nil dalam serangkaian pertandingan Indonesia selalu
mampu membenahi permainan tim di babak kedua. Dan inilah kejelian
keempat. Strategi zonal marking Indonesia berjalan nyaris sempurna. Tak
ada pemain Singapura yang dapat bergerak bebas dengan bola bila berada
di zona gelandang. Sedikitnya 3 pemain Indonesia akan menutup ruangnya.
Bahkan pertahanan zona yang diterapkan Indonesia juga mampu menghambat
gerak kedua sayap Singapura.
Masuknya Andik dan Bambang di babak
kedua pun membuat serangan Indonesia benar-benar hidup. Sektor sayap
yang di babak pertama relatif bebas tanpa hadangan bek Singapura,
berhasil dieksploitasi Indonesia lebih sering di babak kedua. Andik,
Bachdim dan Novan Setya bertukar mengisi ruang gerak di sana. Singapura
dibuat kewalahan dengan pergerakan para pemain Indonesia di babak kedua.
Pelanggaran Irwan Shah kepada Andik di sisi kiri Singapura alhasil
menjadi momentum bagi Indonesia. Kartu kuning kedua sekaligus kartu
merah bagi Irwan adalah "angin segar" untuk Indonesia.
Setelah
dua peluang Indonesia gagal menjadi gol, keunggulan benar-benar tiba.
Sepakan bebas Andik mungkin bukan dimaksudkan untuk direct shot ke
gawang. Dia kelihatan bermaksud memberi umpan lambung untuk disambut
Bambang yang terkenal dengan lompatan tingginya. Tetapi itu pun sudah
cukup karena kiper Singapura Izwan Mahbud salah mengantisipasinya.
Andik, yang menjadi korban pelanggaran sebanyak 5 kali di babak kedua,
sepantasnya mencetak gol kedua andai lebih tenang saat telah berhadapan
satu lawan satu dengan Izwan.
Tapi bukankah itu menjadi tak
penting karena unggul 1-0, 2-0 atau berapa pun akan sama saja bila yang
diperlukan adalah kemenangan itu sendiri. Kemenangan di laga resmi yang
sudah lama menjadi dahaga seluruh pendukung timnas Indonesia.
Lalu,
apakah Indonesia benar-benar bermain bagus? Tak ada gading yang tak
retak. Kesalahan elementer yang mudah terjadi begitu memprihatinkan.
Pelanggaran yang dilakukan Indonesia di daerah final third sendiri
tercatat 9 kali, sebagian besar di babak pertama. Bersykurlah karena
Singapura, yang tampil bagus di partai pertama, gagal memanfaatkannya.
Lini
pertahanan bermain relatif baik dibandingkan penampilan mereka melawan
Laos lalu meski tetap saja tak mampu menghindar dari tujuh peluang
Singapura yang mengancam gawang Wahyu Tri. Kegugupan dalam bertahan
menjadi handycap Indonesia sehingga pelanggaran demi pelanggaran begitu
mudah terjadi. Sangat sulit untuk menyalahkan ebiasaan buruk pemain
Indonesia ini karena mereka gagal mendapat binaan yang baik di liga
domestik, khususnya oleh pengelola liga dan wasit yang tak kunjung
becus.
Secara keseluruhan, Indonesia tampil dengan strategi yang
bagus, disiplin, dan mental yang tetap kuat. Namun lawan berikut tidak
kurang sulitnya. Malaysia, yang setelah Indonesia vs Singapura berhasil
memukul Laos 4-1, akan tampil habis-habisan di depan publiknya sendiri
agar tiket semifinal dapat direbut. Mengulang kedisiplinan pada strategi
permainan dan posisi serta menghindari pelanggaran terlalu mudah di
daerah 16 meter sendiri akan menjadi kunci untuk mengalahkan Malaysia
yang mampu bermain sangat cepat di final third lawan.
Ya,
jangan gunakan kamus mencari hasil imbang meski itu saja sudah
meloloskan Indonesia ke semifinal. Para pemain sendiri sadar mengincar
kemenangan atas Malaysia. Bachdim dan Andik secara tegas mengatakan hal
itu pasca melawan Singapura. Mereka terlihat enggan membiarkan 7 laga
beruntun tanpa kalah yang dicatat Indonesia ternoda. Kembali mental
mereka berbicara. Mereka ingin memberi kesempatan kepada Nil untuk
mencuri hari lagi.
*Penulis adalah pecinta sepak bola. Biasa ditemui di dunia maya dengan akun Twitter @hedi

