Gelar Simon Jadi Secercah Harapan

Simon Santoso (AFP/Romeo Gacad)
Sudah tiga tahun terakhir nomor tunggal putra Indonesia Open dikuasai oleh Lee Chong Wei. Kemenangan Simon Santoso tahun ini memberi secercah kegembiraan dan harapan.

Simon menyudahi Djarum Indonesia Open 2012 dengan gelar juara usai melipat Du Pengyu di final yang berlangsung di Istora Senayan, Minggu (17/6/2012). Bertanding selama 1 jam 19 menit, Simon menang 21-18 13-21 21-11.

Sukses ini membuat Simon untuk kali pertama tampil sebagai jawara di Indonesia Open. Pemain asal Tegal itu tidak mengulangi kegagalannya tahun 2008 ketika di final turnamen yang sama ia kalah di tangan seniornya, Sony Dwi Kuncoro.

Sebenarnya, tidak cuma  di nomor tunggal putra kontingen Indonesia sudah berpuasa gelar di turnamen ini. Tahun 2008, hanya Sony yang jadi juara, sedangkan empat nomor lain dikuasai negara tamu. Tahun 2009, 2010 dan 2011, tidak ada satu pun pemain Indonesia yang sukses tampil di podium tertinggi walau selalu mendapat dukungan penuh publik.

Sebelum final digelar, Simon bukannya tidak menyadari besarnya harapan yang disandang di pundaknya. “Saya sangat ingin juara. Banyak orang bilang tahun ini kesempatan terbesar saya. Terus terang saya agak terbebani. Itu sedikit banyak memengaruhi permainan saya. Saya kadang terburu-buru ingin menyerang,” aku Simon.

Di atas kertas, Simon memang lebih diunggulkan dibanding Du Pengyu. Tapi di lapangan, Du tidak membiarkan Simon mengendalikan permainan. Dengan gigih, pemain asal Cina itu berusaha merebut poin demi poin.

“Saya memang harus lebih sabar menghadapi Du. Dia punya pertahanan kuat dan cukup ulet. Strategi saya adalah lebih banyak mengelola permainan, baru menyerang. Kalau tidak tembus, saya harus mengolahnya lagi,” kata Simon perihal lawannya.

“Di set pertama, Du sepertinya kaget tertingal jauh. Di akhir set, saya sedikit kendor dan dia mengejar, tapi saya akhirnya menang. Di set kedua, saya bermain ragu-ragu antara menyerang atau bertahan. Saya terlalu lambat dan dia bisa menekan. Saya akhirnya melepas set ini dan lebih memikirkan set ketiga,” beber pebulutangkis asal Tegal itu.

“Set ketiga saya lebih sabar, bisa menekan dan tetap fokus ke permainan sendiri. Saya tidak memikirkan poin, yang penting main benar. Saya bahkan tidak sadar sudah selesai,” tambah dia.

Simon mempersembahkan kemenangan ini untuk ayahya, yang meninggal tahun ini. “Kemenangan ini, pertama-tama buat papa. Sayang sudah tidak ada. Saya bersyukur bisa membuktikan diri. Ini juga buat pelatih dan keluarga yang sangat mendukung saya,” cetus pemuda berusia 26 tahun itu.

Sukses Simon di Indonesia Open membuat harapan bahwa tunggal putra bisa berbuat sesuatu di Olimpiade 2012 kembali hidup. Simon (dan Taufik Hidayat) yang sudah lolos ke ajang empat tahunan itu siap memberikan yang terbaik.

“Kepercayaan saya semakin membaik untuk Olimpiade nanti. Peluang untuk meraih medali masih terbuka. Saya maupun Taufik masih terbuka peluangnya. Sekarang saya harus mempersiapkan latihan dengan mati-matian,” ucap Simon.

Blog Olahraga

Yahoo! Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman