Formula 1 Bisa Mengadopsi Teknologi Mesin Hibrida?

Felipe Massa (Getty Images/Mark Thompson)


Oleh: Will Gray untuk Yahoo! Eurosport

Audi banyak dipuji ketika memenangkan balapan 24 jam Le Mans belum lama ini dengan sebuah mobil hibrida. Apakah balap Formula Satu bisa mengadopsi teknologi mesin ramah lingkungan?

Elemen hemat energi dari mesin quattro R18 e-tron sebenarnya dirancang oleh F1, menggunakan sebuah rancangan teknologi hibrida yang dikembangkan oleh Williams Hybrid Power (WHP) yang berasal dari sistem roda gaya KERS (kinetic energy recovery system: sistem otomotif untuk mengembalikan energi kinetis kendaraan yang bergerak setelah pengereman) asli dari tim F1.

F1 mendorong ‘KERS Hybrid’ untuk menjadi solusi mesin ramah lingkungan dari mereka, namun cara mereka menggunakannya tidak benar-benar mencerminkan dari teori yang ada.

Sama dengan sistem yang digunakan di Le Mans, KERS F1 memberikan energi panas yang dihasilkan dari pengereman untuk sebuah ‘tabung penyimpanan’ dengan mengubahnya menjadi energi dengan jenis yang berbeda — dalam kasus F1, KERS mengisi accu kembali, sementara dalam mobil di Le Mans dari Audi, KERS memutar sebuah akumulator roda gaya elektronik.

Namun, alih-alih menggunakan solusi F1 untuk menyimpan energi ke dalam sebuah tombol untuk meningkatkan daya, pendekatan Le Mans adalah untuk merilis energi KERS pada akselerasi sebagai sebuah bagian yang terintegrasi dari seluruh drive train (rangkaian komponen pada kendaraan bermotor yang berfungsi menghasilkan dan mengantarkan tenaga ke permukaan jalan, termasuk mesin, setir dan pedal, transmisi, hingga sumbu roda), sehingga membuat mobil dapat lebih menghemat bahan bakar dalam setiap lap.

Dalam F1, KERS selalu menjadi masalah yang kontroversial.

Awalnya diperkenalkan sebagai sebuah 'pilihan tambahan’ pada 2009, namun KERS dibatalkan. Semua tim merasa sistem itu terlalu berat untuk daya yang ditimbulkannya dan mereka memilih untuk tidak mengembangkannya.

Dalam masa penghematan, biaya tinggi yang terkait dengan itu, yang biasanya terjadi di teknologi canggih atau adopsi awal, memang menjadi alasan yang baik untuk membatalkannya.

Ketika KERS kembali, dengan manfaat keseimbangan yang lebih baik, sistem itu masih terlalu mahal untuk dikembangkan.

Kemenangan Audi dengan mesin hibrida di balap Le Mans belum lama ini menunjukkan kalau pernyataan Formula Satu menjadi yang terdepan dalam teknologi tidak berlaku lagi.

Peraturan Le Mans menghimbau untuk penggunaan mesin dengan tenaga yang dikurangi tahun ini namun terbuka untuk menerima sumber energi baru, bahkan mengizinkan mobil radikal seperti Nissan Delta Wing berlaga.

Sebaliknya, aturan F1 lebih ketat. Namun dengan begitu, F1 membuat dirinya sendiri menjadi tidak menarik bagi perusahaan manufaktur yang dulu sangat tertarik pada F1.

Daftar kontestan yang berlomba di Le Mans, meskipun Peugeot hengkang tahun ini karena alasan dana, sangat mengesankan dan mereka benar-benar ingin menggunakannya sebagai dasar pembuktian untuk teknologi.

Bersama dengan Audi dan Nissan, Toyota kembali dalam seri tersebut tahun ini, mereka juga menguji coba sebuah pengembangan hibrida yang memiliki banyak kesamaan dengan teknologi mobil jalanan biasa, sementara Honda Performance Development (HPD, sebuah anak cabang dari Honda di Amerika Serikat) juga turut ambil bagian.

Izin menggunakan four-wheel drive, peraturan baru yang diperbolehkan di Le Mans, memperbolehkan Audi untuk mengombinasikan dua teknologi dari 4WD dan hibrida dalam sebuah drivetrain yang inovatif, sehingga memiliki referensi langsung untuk produksi mendatang dari jajaran produk tersebut.

Memang benar, mereka mengonfirmasi, “Kendaraan eksperimental pertama dengan 4WD elektrik sistem quattro e-tron sudah diuji coba dan ditargetkan akan diproduksi dalam jumlah besar.

Energi kinetis dari poros roda depan saat pengereman memicu unit generator motor yang kemudia mempercepat sebuah roda gaya serat karbon, yang berputar dalam sebuah vakum. Setelah tikungan, ketika pengemudi melaju cepat lagi, sistem mengirimkan energi ke poros roda depan. Peraturan memperbolehkan energi sebesar 500 kJ untuk dipindahkan ke roda depan antara dua tahap pengereman dan gear mengadaptasi rasio transmisi pada saat melaju dan mengerem.

Sementara itu, pada bagian belakang, sebuah mesin diesel V6 dengan tenaga 510hp menggerakkan roda belakang, dan kedua poros roda depan dan roda belakang yang digerakkan secara mandiri, disinkronkan menggunakan kendali elektronik, tanpa campur tangan pengemudi.

Seperti dalam F1, semuanya adalah tentang mengakali berat, penampilan, performa, dan kendala peraturan, namun Audi jelas membuat itu semua berhasil. Dan kenyataan bahwa mereka diperbolehkan melakukan itu, dapat menjadi titik balik bagaimana teknologi masa depan harus diterapkan di F1.


BACA JUGA BLOG LAINNYA:

Gelar Simon Santoso Jadi Secercah Harapan

Takhta Saina Nehwal Sudah Kembali

Kunci Kemenangan Oklahoma City Thunder

Menanti Petualangan Rodgers di Liverpool

Klub Idola Para Diktator

Dongeng $ 2,8 Miliar dari Chelsea

Blog Olahraga

Yahoo! Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman