Antara Tren dan Kejutan di Matchday Pertama Piala Eropa 2012

Andriy Shevchenko - Ukraina (Getty Images/Martin Rose)

Prediksi wartawan AFP Tom Will bahwa pertandingan Euro 2012 akan banjir gol terbukti nyata. Dalam delapan partai di matchday pertama Euro 2012, para tim benar-benar mahir mengoyak jala lawan. Secara total tercipta 20 gol — meningkat empat gol dibandingkan matchday pertama Euro 2008.

Istimewanya, tidak ada satu pun pertandingan di empat hari pertama Euro 2012 yang berkesudahan tanpa gol. Sedangkan di Euro 2008, Rumania dan Prancis bermain imbang 0-0 dalam partai perdana Grup C.

Kemunculan gol di setiap partai pekan awal Euro 2012 memang tak terelakkan setelah terjadi beberapa kejutan dalam hal strategi bermain. Tim yang awalnya diprediksi bermain amat defensif, justru memilih bermain terbuka.

Republik Irlandia, yang sebelum Euro 2012 datang dengan modal 14 kali beruntun tidak kalah dan hanya kebobolan delapan gol sepanjang masa kualifikasi serta play-off, ternyata memilih bermain terbuka untuk meladeni gaya menyerang Kroasia.

Pelatih tertua di Euro 2012, Giovanni Trappatoni, di luar dugaan justru meninggalkan gaya defensif yang sukses mengantarkan Irlandia ke putaran final ini.

Kejutan lain yang lebih positif adalah kejelian sejumlah pelatih dalam menurunkan pemain pengganti. Pelatih Yunani, Fernando Santos, yang sepanjang pertandingan lebih banyak duduk sambil melipat tangan dengan ekspresi wajah datar, ternyata begitu jitu untuk memainkan Dimitrios Salpingidis di awal babak kedua.

Santos paham, penyerang PAOK FC ini punya tuah dalam mengubah hasil pertandingan. Bagaimanapun, dia mencetak gol penentu Yunani untuk lolos ke Piala Dunia 2010 dan Euro 2012.

Supersub juga terjadi di kubu Italia. Pelatih Cesare Prandelli yang melihat Mario Balotelli belum sepenuhnya "sembuh" dari handicap mental bertanding langsung menggantinya dengan Antonio Di Natale di babak kedua pertandingan melawan juara bertahan Spanyol.

Seperti halnya Salpingidis, pemain veteran dari Udinese dan pemain tertajam Italia di Serie A musim lalu tersebut berhasil mencetak gol bagi Italia hanya dalam 5 menit setelah berada di lapangan.

Pertandingan Polandia vs Yunani juga memunculkan bintang kejutan lain, yakni kiper pengganti Przemyslaw Tyton. Pemain 26 tahun dari klub PSV Eindhoven ini masuk lapangan pada menit ke-70 lantaran Wojciech Szczesny diganjar kartu merah.

Tanpa dinyana, Tyton yang baru enam kali memperkuat Polandia sukses menahan tembakan penalti kapten Yunani Georgios Karagounis.

Namun catatan yang paling hebat sepanjang matchday pertama adalah tumbangnya Belanda dari Denmark di partai Grup B. Kemenangan Denmark atas Belanda ini adalah yang pertama sejak kualifikasi Euro 1968 (4 Oktober 1967) — di luar kemenangan penalti 5-4 (2-2) di semifinal Euro 1996.

Situasi ini setidaknya menegaskan tren kompetisi klub 2011/12. Sejumlah klub yang memperoleh gelar juara di kompetisi liga lalu adalah tim yang bermain efektif serta mengandalkan kekompakan tim. Chelsea, Real Madrid dan Borussia Dortmund merupakan contohnya. Hanya Manchetser City dan Juventus yang dengan dominasi penyelesaian umpan dan permainan mampu merengkuh trofi juara.

Di partai Belanda vs Denmark, berdasarkan data dari Infostrada, tim asuhan Bert van Marwijk menguasai permainan 58 persen dengan umpan sukses mencapai 91 persen. Permainan Mark van Bommel dkk. terlihat menarik seperti biasa melihat total football ala Negeri Kincir Angin.

Masalahnya, Denmark mampu disiplin menjaga posisi para pemainnya sepanjang pertandingan dan mengoptimalkan peluang demi gol tunggal yang dicetak oleh Michael Krohn-Dehli. Dan uniknya, pelatih Denmark Morten Olsen justru melakukan itu dengan skema mirip Belanda 4-2-3-1 alias bukan skema bertahan.

Secara umum, pertandingan di matchday pertama Euro 2011 berlangsung menarik. Bahkan, Inggris vs Prancis yang berkesudahan 1-1 juga patut diapresiasi. Pelatih Roy Hodgson hanya punya waktu terbatas untuk mengolah tim Inggris, jadi mau tak mau ia mengambil strategi menunggu bola atau defensif.

Timnya sudah babak-belur ditinggal sejumlah pemain pilar karena berbagai alasan dan Prancis bermain super ofensif dengan skema 4-3-3.

Kejutan masih sangat mungkin terjadi di matchday kedua dan seterusnya. Karena tim unggulan seperti Spanyol, Belanda dan Italia masih memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan. Belum lagi hampir seluruh tim masih harus menjaga kebugaran para pemainnya yang sudah lebih dulu dikuras di kompetisi klub.

Apapun, hasil di matchday pertama tak pernah bisa dijadikan patokan perjalanan selanjutnya — baik yang meraih poin penuh ataupun yang gagal menang. Belanda pernah mengalaminya saat menjuarai Euro 1998 dan Spanyol merasakannya pada Euro 2008.

Seluruh tim unggulan masih memiliki peluang yang sama untuk menjadi yang terbaik.

Blog Olahraga

Yahoo! Indonesia di Facebook

Aktivitas Teman