Bayangkan bila diri Anda sendiri yang menjadi tokoh dalam permainan pertarungan, dengan lokasi di depan rumah Anda. Fantasi menjadi jagoan seperti itu bisa Anda wujudkan dengan PlayStation Vita (PSVita) yang baru saja diluncurkan di Indonesia.
Penggunaan augmented reality di dunia game memang sudah semakin meluas. Tak terkecuali dalam game Reality Fighters (RF) yang khusus dibuat oleh Sony Computer Entertainment buat PSVita. Di game RF ini, pemain bisa memasang wajahnya sendiri (yang fotonya diambil dengan kamera yang ada di PSVita-nya) di tubuh si tokoh petarung.
“PSVita ini memiliki kamera depan dan belakang, selain juga punya sensor gerak 6 poros,” jelas Mitsuo Hirakawa dari Sony Computer Entertainment Europe yang mengembangkan permainan RF dalam peluncuran PSVita di FX, Jakarta, Selasa (8/5/2012).
Selain wajah sendiri, pemain juga bisa memasukkan lokasi di dunia nyata, seperti taman, kuil atau hutan ke dalam dunia permainan. “Jadi bila Anda sedang jalan-jalan, ambil foto dan jadikan
Jelajahi Yahoo! Bersama Teman-Teman Anda
Jelajahi berita, video, dan banyak lagi berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman Anda. Publikasikan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Bukan Sekadar Menyimpan Foto, tapi Menyimpan Kenangan
Oleh Arya Perdhana | Jagat Pintar – Sel, 24 Apr 2012 15:33 WIB
Selengkapnya »
Di era media sosial, keuntungan memiliki smartphone dengan kemampuan kamera mirip kamera DSLR sebenarnya bisa dipertanyakan. Tetapi HTC tidak sekadar menawarkan untuk menyimpan foto (atau musik), tetapi menawarkan untuk menyimpan kenangan.
Pada Jumat (20/4/2012), HTC meluncurkan dua ponsel terbarunya yang masuk dalam lini HTC One. Yang pertama adalah HTC One X yang dibanderol Rp 6.599.000 dan HTC One V yang bisa ditebus dengan harga Rp 2.999.000.
One X adalah ponsel yang digadang-gadang HTC untuk menjadi ponsel cerdas berkemampuan super. Memiliki layar 4,7 inci (bandingkan dengan iPhone 4 yang punya layar 3,7 inci), ditenagai prosesor quad-core 1,5 GHz, memori 1 GB dan penyimpanan 32 GB, One X memiliki semua modal untuk jadi favorit para pecinta gadget yang selalu ingin memakai perangkat tercanggih.
Selain itu One X juga dilengkapi dengan kamera beresolusi 8 MP, dengan diafragma 2.0 sehingga membuatnya tetap mampu menangkan objek dalam suasana cahaya yang kurang. Inilah salah satu fitur
Selengkapnya »
Kiper Real Sociedad Enaut Zubikarai tidak akan melupakan hari itu. Pria 27 tahun itu membuat sebuah kesalahan bodoh yang pasti akan menghantuinya sepanjang karirnya menyepak si kulit bundar.
Peristiwanya terjadi di Rabu (11/1/2012) dinihari WIB di Stadion Son Moix, markas Real Mallorca. Zubikarai dipercaya mengawal gawang Sociedad menghadapi tuan rumah di leg kedua perdelapan final Piala Raja.
Sociedad mengawali pertandingan dengan keunggulan 2-0 di pertandingan pertama. Tim tamu kian di atas angin tatkala Diego Ifran membawa mereka memimpin 1-0 di menit 16. Sociedad unggul agregat 3-0 dan sepertinya jadi terlalu yakin akan keluar sebagai pemenang.
Mallorca bangkit. Tiga gol mereka lesakkan pada menit 34, 35 dan 37. Iya, hanya tiga menit dan Mallorca sudah menyamakan agregat jadi 3-3. Namun di sini, Sociedad masih unggul agresivitas tandang dan bila skor bertahan maka merekalah yang akan melenggang ke 8 besar.
Tapi bukan itu akhir ceritanya. Pada menit ke-40, Zubikarai melakukan blunderKreativitas dan Keuletan Membawa Mereka ke Australia
Oleh Arya Perdhana | Newsroom Blog – Sel, 13 Des 2011 02:44 WIBBerbekal kreativitas dan keuletan, 15 orang ini mendapat kesempatan untuk mengunjungi Australia buat menyaksikan film “Breaking Dawn” bersama simPATI.
Selengkapnya »
Senyum di wajah Rismayanti, 21 tahun, mengembang ketika menunggu keberangkatan pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta-Sydney, Kamis (8/12/2011) malam. Ini adalah kali pertama gadis asal Cibubur itu akan bepergian ke luar negeri.
Icha, sapaan Rismayanti, menceritakan bahwa ia mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Simpati pada bulan November tersebut tanpa harapan menang. Hanya saja, motivasinya tumbuh ketika menurutnya ia bisa lebih kreatif dalam membuat poster film “Breaking Dawn” versinya sendiri. “Waktu itu lihat poster para pesertanya, saya pikir kalau saya bisa bikin yang seperti itu,” kata Icha.
Tidak terpikir sedikit pun di benak Icha bahwa ia akan terpilih sebagai pemenang. Mahasiswi Sekolah Tinggi Manajemen Industri (STMI) Jakarta itu malah terkaget-kaget ketika melihat pengumuman karena ia belum punya paspor. Akhirnya, setelahSatu nyawa melayang sudah terlalu banyak, apalagi dua. Tak bisa dibantah, apa yang terjadi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (21/11/2011) malam, adalah tragedi.
Selengkapnya »
Reno Alpino dan Aprilianto Eko adalah dua penonton nahas yang meregang nyawa akibat terinjak-injak ketika menonton pertandingan final sepak bola SEA Games XXVI antara Indonesia dan Malaysia. Selain mereka, ratusan penonton lain juga mengalami luka-luka akibat berdesak-desakan dalam stadion — yang diisi melebihi kapasitas.
Tidak sulit melihat akar masalah dari tragedi tersebut. Peristiwa itu adalah resultan dari sejumlah kelemahan; dari infrastruktur yang kuno, ketidaksiapan aparat dan panitia penyelenggara hingga praktik haram patgulipat petugas.
Seperti diketahui, usia Gelora Bung Karno sudah melewati angka setengah abad. Ya, stadion berkapasitas 80 ribu orang ini dibangun tahun 1960 sebagai persiapan Indonesia menggelar Asian Games 1962.
Walaupun megah dan diakui sebagai salah satu stadion terbesar di Asia (bahkan dunia),Puasa gelar itu masih akan berlanjut. Setidaknya hingga dua tahun mendatang, sebelum SEA Games bergulir lagi dan kita memompa asa bahwa timnas Indonesia kembali akan menggondol medali emas.
Tadi malam, di hadapan sekitar 80 ribu pasang mata, Egi Melgiansyah dkk gagal. Menghadapi Malaysia, tim Garuda Muda takluk 4-5 melalui drama adu penalti. Ketika bola hasil eksekusi penalti kapten Malaysia, Bakhtiar Baddrol, bergulir masuk gawang Kurnia Meiga, saat itulah kita tahu kalau kenangan manis dari Manila tahun 1991 tidak terulang di Senayan.
Orang boleh bilang kalah adu penalti adalah kalah dalam hal keberuntungan. Sah-sah saja berpendapat seperti itu, tapi kenyataannya adalah Indonesia dua kali bertemu Malaysia di SEA Games ini dan kita selalu gagal menang. Ini menjadi indikasi bahwa Indonesia memang belum layak jadi juara.
Tentu saja, bukan berarti upaya keras yang dilakukan Rahmad Darmawan, Widodo Cahyono Putro dan Aji Santoso kepada Egi, Gunawan Dwi Cahyo dan kawan-kawan jadi
Selengkapnya »


